Berita Semarang

Tak Mau Pasang E-Tax, Kafe dan Resto Terancam Disegel

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang menargetkan pemasangan 700 electronic tax (e-tax) pada objek pajak untuk mengoptimalkan pendapatan.

Istimewa/Satpol PP Kota Semarang
Satpol PP Kota Semarang menyegel sebuah kafe karena enggan dipasang e-tax beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang menargetkan pemasangan 700 electronic tax (e-tax) pada objek pajak untuk mengoptimalkan pendapatan daerah. Pemasangan e-tax ini dipantau langsung oleh Koordinasi Supervisi dan Pencegahan (Korusupgah) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kepala Bapenda Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, saat ini sudah terpasang 619 e-tax di tempat usaha yang ada di ibu kota Jawa Tengah. Pihaknya memasang e-tax ini di sejumlah objek pajak antara lain hotel, kafe, restoran, tempat hiburan, dan tempat parkir.

Iin, sapaannya, menyebut, ada beberapa objek pajak yang merasa keberatan saat dilakukan pemasangan e-tax. Namun, pemasangan e-tax ini sudah masuk dalam peraturan wali kota yang harus ditaati oleh para pemilik usaha. Pemerintah Kota Semarang akan menutup usaha bagi yang menolak dipasang e-tax.

"Yang keberatan harus menandatangani surat keberatan. Apabila tidak mau dipasang maka sanksinya sampai kepqda penutupan. Kami kerjasama dengan Saptol PP untuk melakukan penutupan. Itu arahan dari Korsupgah KPK," terang Iin, Rabu (14/9/2022). 

Menurutnya, penutupan usaha karena enggan dipasang e-tax dilakukan sesuai prosedur. Pertama, Pemkot akan memberikan surat teguran kepada pemilik usaha agar bersedia dipasang e-tax. Jika masih enggan dipasang e-tax, Bapenda bersama Satpol PP akan menutup usahanya hingga yang bersangkutan bersedia dipasang alat e-tax.

"Dengan pemasangan e-tax ini, pelaku usaha akan dipantau. Segingga, transaksi pajak yang dibayarkan masyarakat dapat sampai ke pemerintah," jelasnya.

Menurutnya, resto atau kafe yang posisi keuangannya sudah diaudit oleh akuntan publik biasanya sudah tertib pajak. Pajak yang dibayarkan masyarakat melalui resto atau kafe tersebut disetorkan ke pemerintah. Namun, dia tak menampik masih cukup banyak resto, kafe, tempat hiburan, atau usaha lainnya yang keuangannya belum profesional.

"Maka, kami pasang alat e-tax sehingga pajak yang dibayarkan masyarakat tidak sia-sia. Pajaknya tersetorkan ke kami," tambahnya.

Lebih lanjut, Iin mengatakan, tempat usaha enggan dipasang e-tax karena beberapa alasan, misalnya mereka merasa transaksi menjadi privasi perusahaan. Selain itu, koneksi sistem kasir mereka ke alat e-tax cukup sulit.

Bapenda telah menerjunkan tim IT untuk membantu menyingkronkan sistem kasir di tempat usaha ke alat e-tax dari pemerintah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved