Fokus

Fokus: Transaksi Judi yang Dilupakan

angsa yang pelupa. Kalimat pendek itu sering disematkan untuk kita bangsa Indonesia. Predikat pelupa sepertinya layak buat bangsa ini apalagi terkait

Penulis: Erwin Ardian | Editor: m nur huda
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN ARDIAN wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian

TRIBUNJATENG.COM - Bangsa yang pelupa. Kalimat pendek itu sering disematkan untuk kita bangsa Indonesia. Predikat pelupa sepertinya layak buat bangsa ini apalagi terkait kasus-kasus besar korupsi. Meski sudah banyak jargon “MELAWAN LUPA” bertebaran baik berupa tulisan di belakang bak truk maupun spanduk-spanduk yang dipasang di jalan, penyakit lupa terkait kasus-kasus besar masih sering kambuh.

Beberapa hari lalu, 23 napi koruptor, beberapa diantaranya kelas kakap melenggang bebas dari penjara. Beberapa di antara koruptor kakap yang bebas bersyarat adalah mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar, mantan Gubernur JambiZumi Zola, dan mantan Menteri Agama Suryadharma Ali.

Seperti biasa Ketika berita ini muncul barulah warga menanggapi dengan gegap gempita. Mereka seolah melupakan kasus-kasus besar para koruptor yang kini bebas bersyarat. Banyak tanggapan menyayangkan bahkan memberikan kritik tajam, kenapa pemerintah dengan mudah memberikan fasilitas keringanan hukuman kepada napi kasus korupsi.

Tapi jangan heran kalau belum seminggu saja lewat, hal ini akan dilupakan lagi seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada dampak apapun yang terjadi, baik terhadap para koruptor yang bebas, maupun para pengambil kebijakan prokorupsi.

Masih terkait lupa dan melupakan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk kesekian kalinya buka suara soal transaksi judi online yang nilainya cukup fantastis. PPATK Kembali menegaskan komitmennya terus memantau aliran dana judi daring di Indonesia. Menurut data resmi PPATK, total transaksi dari kegiatan judi daring tersebut bahkan sudah mencapai Rp 155,4 triliun.

Dari jumlah itu hanya sebanyak 312 rekening berisi isinya Rp 836 miliar sudah berhasil dibekukan di tahun 2022, Total transaksi bersumber judi online sebanyak 121 juta transaksi bernilai Rp 155,4 triliun, PPATK menegaskan temuan itu sudah dilaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih jelas lagi, PPATK juga sudah melaporkan nama-nama yang terlibat di dalam transaksi judi online tersebut.

Nama-nama yang terkait dengan transaksi triliunan rupiah judi online datang dari berbagai latar belakang termasuk oknum polisi, ibu rumah tangga, hingga pelajar. Dana judionline mengalir ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, Filipina.

Jika kita mencoba mengingat-ingat kembali, pernyataan PPATK ini bukan yang pertama. Tak lama setelah kasus pembunuhan yang melibatkan Ferdi Sambo mencuat, PPATK sudah beberapa kali membuat pernyataan terkait transaksi judi online yang nilainya fantastis.

Berkali-kali PPATK sudah menegaskan bahwa temuan itu sudah dilaporkan ke aparat penegak hukum. Namun hingga kini belum ada langkah besar dari penegak hukum terkait tindak lanjut laporan PPATK.

Muncul pertanyaan apakah besarnya nominal transaksi judi online hingga ratusan triliun rupiah itu kurang menarik untuk ditindak lanjuti? Apakah aparat masih kesulitan untuk menyelidiki nama-nama yang secara gamblang sudah disampaikan oleh PPATK? Atau jangan-jangan ada pihak yang menunggu agar ratusan triliun transaksi judi online ini dilupakan?

Nah kita tunggu saja, sampai ada oknum aparat yang menerima keuntungan besar dari judi online ditangkap, atau kita bisa menunggu sampai kita melupakan kasus besar ini. (*/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved