Berita Sukoharjo

Kemelut Tanah Keraton Jadi Lahan Pribadi, Kelestarian Benteng Keraton Kartasura Terancam

Sebagian bangunan Keraton Kartasura berusia tiga abad itu sudah terlanjur hancur.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/Khoirul Muzakki
Situs benteng Keraton Kartasura sisi barat. Sebagian bangunan sudah dijebol oleh pemilik lahan. 

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Insiden pembongkaran benteng Keraton Kartasura sempat menghebohkan publik, April 2022 lalu.

Tak tanggung-tanggung, pemilik lahan itu nekat menghancurkan bangunan bersejarah tersebut menggunakan alat berat. 

Padahal, bangunan berusia tiga abad itu merupakan situs cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

Penghancuran benteng keraton itu pun akhirnya dihentikan setelah menuai reaksi keras dari pemerintah. 

Meski kegiatan dihentikan, sebagian bangunan itu sudah terlanjur hancur. Masyarakat tak lagi bisa menyaksikan bangunan bersejarah itu seperti sedia kala. 

Kini, tampak kondisi benteng pertahanan itu sudah tidak utuh lagi seperti sebelumnya. Benteng yang memanjang sekitar 200 meter itu sudah berlubang. 

Puing-puing bangunan yang hancur karena alat berat masih berserak di lahan sekitarnya. Bagian benteng yang berlubang itu pun ditutup dengan pagar seng.  Tidak ada lagi aktivitas pembongkaran setelah kejadian itu sampai sekarang. 

Situs Cagar Budaya Benteng Kartasura
Pemerintah memasang plang Situs Cagar Budaya di sekitar benteng Kartasura.

"Tanah itu milik pribadi. Tapi bentengnya kan tidak, " kata Joko, warga Kartasura yang tinggal dekat dari lokasi tersebut, Kamis (15/9/2022).

Ia pun heran mengapa tanah keraton itu tidak dikuasai negara, melainkan menjadi hak milik pribadi.

Tanah itu bahkan sudah berpindah tangan dari pemilik sebelumnya. 

Tanah tempat benteng itu berdiri selama ini dibiarkan kosong dan hanya ditumbuhi tanaman liar.

Lahan itu berada di tengah pemukiman yang padat penduduk. 

Baca juga: Sering Dakwah Antara Islam dan Budaya, Tafsir Diberi Gelar dari Keraton Surakarta

Keberadaan benteng itu memang menutup keberadaan lahan itu sehingga tak terlihat dari jalan di sisi baratnya.  Bangunan yang akan didirikan di lahan itu pastinya akan ikut terhalang benteng. 

"Bentengnya tebal, sekitar 2 meter. Kalau dihancurkan manual tidak bisa, harus alat berat, " katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved