Berita Nasional

Kronologi Terungkapnya Dugaan Setoran Rp 560 Miliar Gubernur Papua Luka Enembe ke Judi Kasino

Kronologi terungkapnya dugaan setoran uang Rp 560 miliar dari Gubernur Papua Lukas Enembe bermula dari kasus gratifikasi.

Editor: rival al manaf
istimewa
Gubernur Papua Lukas Enembe. ((KOMPAS.COM/DHIAS SUWANDI)) 

TRIBUNJATENG.COM - Kronologi terungkapnya dugaan setoran uang Rp 560 miliar dari Gubernur Papua Lukas Enembe bermula dari kasus gratifikasi.

Sebelumnya ia telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi Rp 1 miliar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lalu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kemudian mengungkap temuan soal dugaan penyimpanan dan pengelolaan uang yang tidak wajar.

Baca juga: Mahfud MD Tegaskan Tak Ada Rekayasa Kasus Kourpsi Lukas Enembe: Itu Temuan Fakta

Baca juga: Lukas Enembe Diduga Terlibat Perjudian di 2 Negara, PPATK Temukan Transaksi Rp560 Miliar ke Kasino

Baca juga: Gubernur Papua Lukas Enembe Pernah Setor Tunai Rp 560 Miliar Ke Kasino

Baca juga: KPK Cegah Gubernur Papua Lukas Enembe ke Luar Negeri Selama 6 Bulan

Setidaknya terdapat 12 temuan PPATK, salah satunya terkait setoran tunai yang diduga disalurkan Lukas Enembe ke kasino judi yang nilainya ditaksir mencapai setengah triliun lebih.

PPATK menduga, Lukas Enembe terlibat aktivitas perjudian di dua negara.

"Salah satu hasil analisis itu adalah terkait dengan transaksi setoran tunai yang bersangkutan di kasino judi senilai 55 juta dollar (Singapura) atau Rp 560 miliar rupiah.

Itu setoran tunai dilakukan dalam periode tertentu," kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Senin (19/9/2022).

Selain itu, PPATK juga menemukan dugaan setoran tunai tak wajar yang dilakukan pria yang belum lama ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi Rp 1 miliar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Ivan menyebut setoran tunai tak wajar itu dilakukan dalam jangka waktu pendek dengan nilai fantastis mencapai Rp 5 juta dollar Singapura.

Kemudian, masih dengan metode setoran tunai, tercatat ada pembelian jam tangan mewah senilai 55.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 550 juta.

"PPATK juga mendapatkan informasi bekerja sama dengan negara lain dan ada aktivitas perjudian di dua negara yang berbeda."

"Itu juga sudah PPATK analisis dan PPATK sampaikan kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)," kata Ivan.

Atas kasus ini, PPATK telah membekukan sejumlah transaksi yang diduga dilakukan Lukas ke beberapa orang melalui 11 penyedia jasa keuangan.

Kesebelas penyedia jasa keuangan itu mencakup asuransi hingga bank.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved