Berita Salatiga

Kasus Bunuh Diri Meningkat, Ini Tanggapan Ahli

Di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang akhir-akhir ini marak terjadi kasus bunuh diri.

Tribunjateng.com/Hanes Walda
Dosen Psikologi UKSW, Wahyuni Kristinawati, Jumat (23/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA – Di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang akhir-akhir ini marak terjadi kasus bunuh diri.

Dari informasi yang di himpun Tribunjateng.com, dalam satu bulan terakhir ada tiga kasus di Kabupaten Semarang dan satu kasus dalam bulan ini di Kota Salatiga.

Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Wahyuni Kristinawati mengatakan akhir-akhir ini kasus kesehatan mental semakin banyak.

Khususnya depresi dan kecemasan, walaupun secara umum kasus bunuh diri di dunia menurun.

“Yang perlu diamati adalah tekanan kehidupan seseorang, tekanan kehidupan kan semakin tinggi meskipun jumlah kasus secara umum tidak meningkat, tetapi keberanian orang untuk melakukan itu karena tekanan hidup yang besar, bisa membuat orang melakukan bunuh diri,” kata Yuni kepada Tribunjateng.com, Jumat (23/9/2022).

Dikatakannya, biasanya sebelum melakukan aksi bunuh diri, korban sudah memberi pesan.

Namun oleh lingkungan sekitarnya tidak merespons atau tidak menyadarinya.

Sebab secara umum memang diakui Yuni lingkungan masyarakat kita belum cukup memberi wawasan dan pendidikan yang memadai bagaimana menyelesaikan masalah dan memahami pesan dari orang yang mau bunuh diri.

“Jadi orang itu harus belajar mengatasi masalah dulu, kalau dia tidak diberi keterampilan bagaimana untuk mengatasi masalah-masalah sederhana, ketika masalah itu semakin banyak,” jelasnya.

“Kecil-kecil tapi banyak atau masalah sangat besar, jadi orang itu merasa tidak bisa keluar dari masalahnya itu,” imbuhnya.

Dikatakan Yuni, kemampuan dan pembelajaran untuk menyelesaikan masalah harus diajarkan sedini mungkin mulai dari keluarga dan sekolah.

Pendidikan guru secara umum harus mengajarkan bagaimana cara penyelesaian masalah.

Selain itu, kehadiran lembaga yang bisa membantu orang dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang penting. Salah satunya lembaga konseling dan psikolog.

“Promosi kesehatan mental itu tidak populer, masak cuma begini kok konseling, seperti anggapan saat sekolah, waktu masuk BK saja dianggap anak nakal,” katanya. (han)

Baca juga: Tahap Finishing, Proyek Jalan Tol Semarang-Demak Selesai 28 Oktober

Baca juga: OPINI Edy Purwo Saputro : Risiko Kebocoran Data

Baca juga: Cara Praktis Translate Bahasa Asing Langsung Pakai Kamera di Google Lens

Baca juga: Apa Itu Kista Epidermoid? Ini Penyebab dan Dampaknya Bagi Penderita

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved