Berita Semarang

Perang Rusia Ukraina hingga Kenaikan Suku Bunga, Ini Dampak Bagi Perusahaan Farmasi

GPFI Jateng sebut perang Rusia-Ukraina turut beri dampak bagi usaha bidang kesehatan.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
Suasana Musprov X GPFI Jateng yang diselenggarakan di Gumaya Tower Hotel, Sabtu (24/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Jateng menyebutkan,  perang Rusia-Ukraina hingga terakhir ini dan adanya kenaikan suku bunga turut memberikan dampak bagi sektor usaha bidang kesehatan tersebut.

Ketua Umum Pengurus GP Farmasi Indonesia Jateng Andre Widjajanto mengatakan, meski tidak besar, dampak kini cukup terasa.

"Ini memang disrupsi terhadap global yang ada pemasok dunia, jadi hampir semuanya terkena dampak," kata Andre kepada tribunjateng.com di sela Musprov X GPFI Jateng yang diselenggarakan di Gumaya Tower Hotel, Sabtu (24/9/2022).

Dari pengaruh perang Rusia - Ukraina sendiri, Andre menyebutkan, turut memberikan pengaruh terhadap penyediaan bahan baku.

Dalam hal ini, perolehan bahan baku yang selama ini mengandalkan impor sedikit melambat.

"Ketersediaan bahan-bahan juga menjadi lebih panjang. Kami juga antisipasi supaya tetap menjaga sebagaimana peran GP farmasi ini untuk menjaga ketahanan agar obat selalu tersedia untuk masyarakat. Dan sari dampak ini bisa kami atasi cukup baik berkat dukungan pemerintah," kata Andre.

Suasana Musprov X GPFI Jateng yang diselenggarakan di Gumaya Tower Hotel, Sabtu (24/9/2022).
Suasana Musprov X GPFI Jateng yang diselenggarakan di Gumaya Tower Hotel, Sabtu (24/9/2022). (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah)

Ketua Umum Ketua Umum Pengurus Pusat GP Farmasi Indonesia F Tirtokoenadi menambahkan, dampak adanya perang Rusia-Ukraina sendiri tidak begitu menghambat produksi obat di Indonesia.

Sebab, menurutnya, Ukrania dan Rusia bukan produsen bahan baku utama untuk produksi obat-obatan di Indonesia.

"(Bahan baku dari kedua negara tersebut) hanya satu dua macam saja. Tetapi, yang menjadi imbasnya adalah sulitnya transport," katanya.

"Kalau soal kenaikan suku bunga, tidak begitu besar pengaruhnya bagi kami. Cuma kalau harga yang dijual ke pemerintah untuk kepentingan BPJS dan sebagainya tidak ada kenaikan, misalnya disamakan dengan harga 2-3 tahun lalu, sulit sekali bagi kami. Kami inginnya ya ada kenaikan oleh karena (tarif) listrik, air, semua naik. Terutama juga bahan baku dan bahan penambahnya. Juga dari luar negeri naik serta pelemahan kurs rupiah," terangnya.

Di sisi itu, di tengah beberapa pengaruh tersebut sendiri Tirto lebih lanjut menyebutkan bahwa ketersediaan obat di Indonesia saat ini masih mencukupi.

Ketahanan obat di Indonesia dipastikan aman sepanjang tidak ada ledakan baru pandemi-pandemi lainnya di luar Covid-19. "Sejauh ini cukup aman."

"Anggota GP Farmasi Indonesia harus selalu siap menyediakan obat-obatan yang perlu dan sangat dibutuhkan, baik mereka yang terkena covid-19 dan juga tetap menyediakan obat-obatan untuk penyakit-lain lain yang sebelumnya mereka sudah membutuhkan," kata Tirto.

Tirto lebih lanjut menerangkan ketahanan obat di Indonesia yang dianggap mencukup sendiri karena telah didukung adanya produksi dalam negeri.

Menurutnya, sudah hampir 100 persen obat di Indonesia telah diproduksi dalam negeri.

"Obat di Indonesia ini sudah 95 persen lebih kebutuhannya diproduksi oleh industri lokal dan nasional," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved