Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

Puan Maharani Akan Temui AHY dan Airlangga, Bahas Soal Pemilu 2024

Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani segera melanjutkan safari politiknya pekan depan. Ia dikabarkan bakal menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangg

Tayang:
Editor: m nur huda
FACEBOOK/Puan Maharani
Ketua DPR RI Puan Maharani - Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani segera melanjutkan safari politiknya pekan depan. Ia dikabarkan bakal menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hari Murti Yudhoyono (AHY). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani segera melanjutkan safari politiknya pekan depan. Ia dikabarkan bakal menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hari Murti Yudhoyono (AHY).

Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mengatakan, Puan Maharani bakal bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dalam waktu dekat ini.

"Insyaallah minggu depan, tidak akan lama. Kami akan silaturahim ke Pak Airlangga," katanya, kepada wartawan, Rabu (28/9/2022).

Menurut Ketua Banggar DPR itu, Puan ingin mencari partai politik yang memiliki kesamaan visi dengan PDI Perjuangan. Said menyebut, Puan juga ingin membahas soal pemilu 2024.

"Supaya Indonesia ke depan itu dalam kontestasi (politik) tidak mengulang 2019, karena itu pengalaman pahit bagi kita semua, membuat rakyat jadi terbelah," tuturnya.

Karena itulah, Said menyatakan, Puan memiliki misi untuk membangun kompetisi yang sehat antarpartai politik di pemilu 2024, agar tak ada pembelahan atau polarisasi di masyarakat.

"Nah, Mbak Puan misinya, ayo kita bangun bersama, kita bertanding. Pada waktu bertanding jangan membuat pembelahan pada masyarakat," jelasnya.

Said juga menyebut Puan akan melakukan safari politik ke Ketum Partai Demokrat AHY, walaupun Ketua Bapilu Partai Demokrat Andi Arief melontarkan pernyataan yang mengarah ke Puan.

"Tidak akan mengganggu kunjungan Mba untuk silaturahim, karena itu adalah tugas dari Ketum Bu Mega," ujarnya, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (27/9/2022).

Meski demikian, ia berujar, belum ada komunikasi antara PDI Perjuangan dan Demokrat terkait dengan jadwal pertemuan Puan dan AHY. "Belum ada komunikasi," jelasnya.

Said menyebut pihaknya ingin membangun suasana yang kondusif jelang pemilu 2024.

"Bukan memborbardir hoaks, pernyataan yang mendiskreditkan antarpihak. Semuanya akan kami kunjungi," ujarnya.

Terkait dengan pernyataan Andi Arief yang diduga ditujukan kepada Puan, Said menilai, hal itu tidak bijak, karena mengatakan sesuatu yang tak benar adanya.

“Dan fakta Mbak Puan itu selalu berkunjung, silaturahmi, sudah di tiga ketum parpol, dan akan terus menjalin silaturahim ke semua ketum parpol,” tandasnya.

Said menuturkan, seharusnya antarpartai politik bekerjasama dengan baik jika ingin membangun bangsa.

“Kan konteksnya sebenarnya membangun bangsa harus dengan bersama, tanpa rasa saling curiga,” tukasnya.

“Kalau elite saling curiga yang dilempar terus ke publik, itu tontonan yang sangat tidak menarik bagi masyarakat, dan sungguh tidak mendidik,” bebernya.

Seperi diketahui, sebelumnya Puan Maharani telah mengunjungi tiga ketua umum parpol. Yang pertama dikunjungi yakni Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Setelah itu, Puan bertandang ke kediaman Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.

Teranyar, Puan bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sama-sama melakukan ziarah makam ke Kalibata, yakni ke makam eks Ketua MPR RI Taufik Kiemas yang juga ayah Puan.

Pertemuan dengan Cak Imin menyita perhatian, sebab di sana Cak Imin berdoa agar dipasangkan dengan Puan sebagai cawapres untuk pilpres 2024.

Turunkan tensi

Adapun, pengamat politik Agung Baskoro menilai, rencana pertemuan Puan dengan AHY perlu diapresiasi. Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS) itu menyatakan, pertemuan antara kedua elite partai itu dapat mencairkan iklim politik antara PDI Perjuangan dengan Partai Demokrat.

“Langkah ini positif dan perlu diapresiasi dalam rangka menurunkan tensi politik antarkeduanya, sekaligus menjaga stabilitas politik agar tetap kondusif di tengah gejolak ekonomi yang tengah terjadi,” katanya, saat dihubungi Tribunnews, Rabu (28/9).

Ia menambahkan, pertemuan Puan dengan AHY juga dapat mencetuskan diskurus publik ke arah positif dan berdasarkan fakta dan data. Pasalnya, beberapa waktu lalu AHY mengkritik kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan kader PDI Perjuangan.

Tidak berhenti di situ, Ketua Majelis Tinggi (MTP) Partai Demokrat yang juga Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pun menyinggung soal dugaan kecurangan dalam pemilu.

Kemudian yang terakhir, pernyataan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapillu) Partai Demokrat Andi Arief yang dinilai kontroversial.

“Setidaknya bila terjadi diskursus di publik arahnya pada hal-hal substantif yang berbasiskan data dan fakta, bukan sekadar mengumbar aib politik masing-masing,” paparnya.

Agung juga berbicara soal peluang koalisi antara PDI Perjuangan dengan Partai Demokrat.

“Untuk berkoalisi kemungkinannya kecil,” ujarnya.

Dia menambahkan, kedua parpol itu mempunyai sikap politik berbeda.

Hal itu terlihat dari posisi PDI Perjuangan yang merupakan partai petahana pemerintahan, sementara Demokrat berada di luar pemerintahan atau oposisi.

“Dan intensif mengkritisi kebijakan eksekutif,” tuturnya.

Belum lagi, Agung menyebut, elit kedua partai politik seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY yang berbeda pandangan politik.

“Menimbang relasi di tingkat elit di level Ketua Majelis Tinggi Demokrat, yakni SBY, dengan Ketua Umum PDIP, Megawati, kurang harmonis,” terangnya.

Kendati demikian, Agung menilai, iklim politik nasional dinamis. Sehingga, meski berpeluang kecil, tetap ada kemungkinan PDI Perjuangan dan Demokrat menjalin kerja sama.

“Politik kan bicara seni kemungkinan (the art of possibilities), walaupun sangat kecil, ketika konteksnya PDIP dengan Demokrat untuk berkoalisi selagi Ibu Mega dan Pak SBY tak menyelesaikan cerita di masa lalu,” bebernya. (Tribunnews/Reza Deni/Fersianus Waku/Naufal Lanten/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved