Berita Semarang

Sosok Moetiah Ditembak Berkali-kali tak Mati, Satu-Satunya Wanita Korban Keganasan PKI di Semarang

Moetiah menjadi satu-satunya korban perempuannya di kuburan massal G30S PKI Plumbon, Kota Semarang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Catur waskito Edy
Iwan Arifianto
Kuburan massal korban keganasan G30S PKI  di perbukitan area Perhutani, di dukuh Plumbon, Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (29/9/2022). 

Area kuburan massal yang dipagari batu bata setinggi sekira 50 sentimeter juga sudah tak terlihat tertutup daun jati dan  semak belukar.

Terpisah, Aktivis kemanusiaan dan penggiat HAM dari Perkumpulan Masyarakat Semarang,Yunantyo Adi, mengatakan, mendapatkan informasi awal adanya makam itu dari mahasiswa Unika pada Juni 2014.

Pihaknya mulai tergerak untuk merawat kuburan massal itu September 2014.

Selepas lobi berbagai pihak selama delapan bulan lebih kuburan massal itu berhasil diresmikan.

"Diresmikan ramai-ramai pada 1 Juni 2015 bertepatan dengan  hari Lahir Pancasila melibatkan pemerintah, TNI-Polri, Ormas, keluarga korban dan lainnya," katanya Tribunjateng.com.

Peresmian kuburan massal itu ternyata menarik semua pihak.

Di antaranya organisasi dibawah naungan UNESCO bernama The International Center for the Promotion of Human Rights (CIPDH), yang menobatkan makam itu sebagai  situs sejarah korban perang.

UNESCO menilai pemakaman itu sebagai situs pelanggaran berat HAM masa lalu yang memperoleh perlakuan orang zaman sekarang dengan berbeda yang dianggap memiliki nilai edukasi.

"Plumbon dijadikan memori situs CIPDH UNESCO. Kami dihubungi lewat email 1 Mei 2019, dinyatakan resmi awal Januari 2020," terangnya.

Warga ketika peresmian itu sangat membantu.

Bahkan seminggu sebelum peresmian, para warga gotong royong membersihkan jalan hingga mendirikan tratak.


"Peresmian ketika itu sudah kayak acara pernikahan," terangnya.

Kegiatan peresmian pemakaman PKI itu memang terhitung lancar.

Memang ada beberapa kendala seperti orang menghubungi supaya membatalkan kegiatan peresmian kuburan itu.

Selain itu, perhatian dari pusat seperti Komnas HAM juga tidak ada respon.

"Ajaib saja, acara itu berlangsung baik-baik saja, tak ada yang mengganggu," ungkapnya.

Keluarga Korban

Yunantyo mengaku, para keluarga korban yang terkubur di kuburan massal itu ikut diundang dalam kegiatan peresmian pemakaman.

Terungkapnya siapa korban yang berada dikuburkan itu berkat penelusuran para kolega seperti Mbah Mohkran dan Mbah Giri.

Mbah Mohkran sempat ditahan di lapas Kendal selama tiga tahun.

Selepas itu pindah ke Mangkang Kulon yang jaraknya tak jauh dari kelurahan Wonosari.

Ketika menetap di wilayah itu, ia bertanya kepada para keamanan desa Wonosari untuk menanyakan siapa saja yang dieksekusi di lahan perhutani Plumbon.

Eksekusi dilakukan Januari 1966 selepas musim hujan dan hari raya idul Fitri.

"Mbah Mohkran hanya dapat nama delapan orang, semua korban dari Kendal," ungkapnya.

Sebenarnya korban berjumlah 24 orang semuanya tercatat oleh warga.

Namun orang yang mencatat itu keburu meninggal dunia sedangkan istri warga yang mencatat itu sudah pindah sehingga catatan itu kini entah di mana.

"Paling diingat adalah satu-satunya korban perempuan bermana Moetiah dan wakil Bupati Kendal kala itu Soesatjo," bebernya. (*)

Baca juga: Hari kedua Ujicoba Flyover Ganefo Demak Temukan Kekurangan, Polisi Minta Penuh Sebelum Dibuka Umum

Baca juga: Tribun Sejarah : Kondisi Kuburan Massal Korban G30S PKI di Plumbon Semarang, Nisan Kusam tak Terawat

Baca juga: Video Beredar Video Pemotongan BLT Dana Desa di Blora, Untuk Desa Rp 100 Ribu dan RT Rp 200 Ribu

Baca juga: Camat Colomadu Karanganyar Layangkan SP-1 Untuk Kades Gedongan

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved