Berita Sragen

4 Prajurit Meninggal Ketika Bertugas, Ini Cerita Danyonif Ade Afri Pimpin Prajurit di Wilayah Papua

Setahun bertugas di Papua, empat prajurit Yonif Raider 408 Suhbrastha Sragen gugur.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/ Mahfira Putri Maulani
Komandan Yonif (Danyonif) Raider 408 Suhbrastha, Letkol Inf Ade Afri Verdaniex (melambaikan tangan) kepada para prajurit ketika memasuki Markas Yonif Raider Suhbrastha, Kamis (29/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Satu tahun bertugas di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah sebanyak empat prajurit Yonif Raider 408 Suhbrastha Sragen gugur di wilayah penugasan.

Satu diantaranya meninggal dunia akibat sakit, sementara tiga prajurit meninggal dunia karena luka tembak ketika baku tembak dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Satu Batalyon ini dipimpin langsung oleh Komandan Yonif (Danyonif) Raider 408 Suhbrastha, Letkol Inf Ade Afri Verdaniex. 

Danyonif menyampaikan mereka berangkat pada bulan September 2021 dan kembali pada September 2022.

"Personil yang mengikuti kegiatan ini ada 450 orang, sampai saat ini ada empat orang anggota kami yang harus meninggal di wilayah penugasan."

"Dimana satunya meninggal karena sakit dan tiganya meninggal dunia karena luka tembak akibat baku tembak dengan OPM disana," kata Ade, Kamis (29/9/2022).

Ade mangku prajuritnya memang sempat kontak langsung dengan OPM dan terjadi baku tembak. Dia mengaku disana memang masih ada kelompok separatis bersenjata.

Ia melanjutkan kelompok separatis bersenjata di situ bersifat kriminal. Mereka berusaha untuk melaksanakan teror kepada masyarakat dengan menggunakan senjata.

"Tentu kami harus menghadapi mereka juga sesuai dengan arahan bapak panglima TNI bahwa tidak ragu-ragu dalam melaksanakan tindakan terhadap mereka. Apabila memang benar mereka membawa senjata," lanjut Ade.

11 Pos 

Ade mengatakan 450 personilnya terbagi di 11 Pos di wilayah Kabupaten Puncak. Dimana baku tembak saat itu berada di Pos Gome, yang berada di salah satu wilayah Kabupaten Puncak.

Menurutnya, pada saat kontak dengan kelompok separatis itu ada satu kelompok yang terdiri dari 30-50 orang dengan senjata yang secara tidak pasti tidak bisa diprediksi.

Ade mengatakan, sampai sekarang pihaknya masih belum bisa mengamankan senjata yang dibawa para OPM itu. Pihaknya mencoba dengan cara-cara represif untuk bisa mengajak mereka kembali NKRI.

Kelompok separatis ini, dikatakan Ade menuntut ingin memisahkan diri dari NKRI. Sampai pihaknya pulang, Ade mengatakan sudah ada sedikit rekonsiliasi khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Puncak di mana mereka ingin maju ke depan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved