Berita Salatiga

Kisah Ayok di Salatiga, Tak Henti Olah Ban Bekas Demi Lingkungan

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak terkecuali Indonesia turut berdampak pada pelaku usaha di dalam negeri

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: muslimah
TribunJateng.com/M Nafiul Haris
Sindhu Prasastyo (43) saat mengerjakan sampel pesanan di rumah kreatif Sapu Upcycle Dusun Tetap Gambir, Argomulyo, Kota Salatiga, Sabtu (1/10/2022). 

TRIBUNJATENG, SALATIGA - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak terkecuali Indonesia turut berdampak pada pelaku usaha di dalam negeri.

Satu diantaranya adalah Sindhu Prasastyo (43) pemilik usaha dengan merk Sapu Upcycle.

Akibat pandemi, omzet bisnis yang dirintisnya sejak 2010 lalu itu menurun drastis.

Bukan hanya itu, ia  pun terpaksa mengurangi karyawan yang berkerja di tempatnya.

Ayok sapaan akrabnya mengatakan, meski bisnisnya dalam bidang pemanfaatan barang bekas menjadi benda bernilai lebih tinggi dari aslinya (upcycle) terdampak pandemi habis-habisan ia tak mau berhenti.

Baca juga: Tangis Putri Candrawathi Saat Dibawa ke Tahanan, Ini Penyataannya di Depan Wartawan

Baca juga: Momen Tak Biasa Saat Dewi Perssik Bacakan Kemenangan Rizky Billar di TV, Ekspresinya Disorot

Baginya, berkreativitas serta inovasi tidak boleh berhenti terlebih apa yang dikerjakannya itu bukan saja memiliki manfaat dibidang sosial dan ekonomi namun juga berdampak besar bagi lingkungan.

“Karena alasan tersebut, saya tidak berhenti mengolah limbah ban bekas truk sampai sekarang walau merugi besar-besaran karena Covid-19.

Sebelum awal 2020 lalu produksi normalnya minimal 1.000 buah barang kerajinan mulai dompet, gelang, tas, buku menu dan sebagainya perlahan berkurang seiring menurunnya pembeli.

Jika dihitung omzet sekira Rp 100-200 juta perbulan tergantung musim,” terangnya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (1/10/2022)

Dia bercerita, sebelum pandemi merebak barang kerajinan hasil kreasi dari ban dalam bekas truk buatannya secara rutin biasa dikirim ke berbagai negara di Eropa seperti Jerman, Inggris, Perancis, dan Belgia.

Hanya saja, begitu pandemi datang pangsa pasarnya dari luar negeri pun seolah tutup.

Tapi, dia tak mau menyerah begitu saja walau pasar sedang lesu

Ayok tetap mengolah ban bekas untuk konsumen dalam negeri yang dijual melalui distributor di Bali dan Yogyakarta.

Bukan hanya itu, dari semula Ayok fokus pada pengolahan limbah ban bekas menjadi barang bernilai lebih tinggi belakangan berinovasi ke limbah kayu yang dibuat aneka macam souvenir, tatakan gelas, dan talenan dengan tetap dimodifikasi material ban bekas.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved