YDBA Perkuat UMKM Lokal Tembus Pasar Global

YDBA terus membina dan memperkuat pelaku UMKM agar bisa mandiri lewat pendampingan di berbagai daerah di Tanah Air.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
ISTIMEWA/YDBA
Karyawan menyortir gula semut di tempat pengemasan Semedo Manise di Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terus membina dan memperkuat pelaku UMKM agar bisa mandiri, bahkan mampu go global. Hal itu diungkapkan Chief Executive YDBA, Sigit Kumala.

Menurut dia, hal itu dilakukan untuk ikut menyejahterakan masyarakat, satu di antaranya lewat pendampingan kepada UMKM lokal di berbagai daerah di Tanah Air.

“Sesuai visi pendiri kami, William Soeryadjaya pada 1980, Astra tidak akan mau sejahtera sendirian di tengah masyarakat yang tidak sejahtera. Jadi masyarakatnya harus benar-benar tumbuh bersama astra. Pendampingan itu dilakukan dengan filosofi “Berikan Kail Bukan Ikan,” katanya, dalam keterangannya, Minggu (2/10).

Sigit menuturkan, sejak 1980 hingga saat ini, YDBA sudah membina sekitar 12.000 UMKM, dengan sebagian besar sudah mandiri.

Saat ini, tinggal sekitar 2.100 UMKM yang aktif didampingi YDBA. Satu di antaranya, UMKM Semedo Manise, di Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Aktivitas usaha yang didirikan pasangan suami istri Akhmad Sobirin dan Nuha Fathin Salma pada akhir 2012 itu memproduksi gula kelapa kristal organik yang dikenal juga sebagai gula semut.

Produk gula semut Semedo Manise sudah bersertifikat internasional, dan berhasil masuk pasar ekspor di Jerman. Saat ini, Semedo Manise sedang menjajaki pasar Belanda.

Dalam menjalankan usahanya, Semedo Manise melibatkan 11 kelompok tani di Desa Semedo dengan anggota sekitar 500 petani penderes.

Semedo Manise juga melibatkan sembilan pengepul dalam rantai produksinya. Banyak petani yang terlibat menjadikan Desa Semedo terpilih menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA) pada 2018.

“Kami berupaya terus meningkatkan kompetensi petani, dengan program pelatihan, pendampingan fasilitasi pasar, dan fasilitas pembiayaan. Harapannya, produk yang dihasilkan diterima pasar yang sudah ada dulu. Kalau diterima, berarti kompetensi petani sudah meningkat,” ujar Eko Wandiro, Koordinator YDBA Banyumas.

Ketua Semedo Manise, Akhmad Sobirin mengatakan, YDBA memberikan pendampingan kepada Semedo Manise dan memberikan pelatihan manajemen keuangan, cara produksi, termasuk pelatihan basic mentality, bagaimana mengubah pola pikir petani untuk bisa sejahtera secara jangka panjang.

Sebelum adanya Semedo Manise, para petani di Desa Semedo menjual hasil olahan nira kelapa dalam bentuk gula batok. Saat itu, harga gula batok dijual ke pengepul sekitar Rp 3.000-Rp 7.000 per kg.

"Kehadiran Semedo Manise dengan produk gula semut meningkatkan pendapatan petani, karena bisa menjual produk itu seharga Rp 16.000-Rp 20.000 per kg.

Dalam sehari, petani di Desa Semedo bisa menghasilkan gula semut sebanyak 5-10 kg. Artinya, pendapatan petani meningkat dari semula sekitar Rp 30.000-Rp 70.000 per hari, menjadi Rp 160.000-Rp 200.000 per hari," jelasnya.

Sobirin menuturkan, petani anggota Semedo Manise menjual gula semut itu ke pengepul, yang kemudian dijual lagi ke Semedo Manise. Gula semut hasil produksi petani itu diolah lagi di pabrik Semedo Manise, dan dikemas dengan alumunium foil kedap udara sehingga bisa bertahan lebih lama hingga 2 tahun.

"Seluruh produksi dilakukan secara higienis dan memenuhi standar internasional, serta sesuai permintaan pasar Eropa. Semedo Manise sudah mengekspor gula semut melalui eksportir sebanyak 60 ton per bulan ke Jerman, dengan omzet Semedo Manise sekitar Rp 3,5 miliar/tahun," jelasnya. 

Meski demikian, sejak April 2022, ekspor itu terpaksa harus mandek karena terkendala dengan kondisi global. Padahal, hasil olahan petani terus mengalir. aat ini, Semedo Manise sedang menjajal ekspor secara mandiri dibantu oleh DSA.

Sobirin pun berharap gula semut bisa diterima pasar domestik. “Kami ingin masyarakat Indonesia bisa mengenal gula semut yang dari sisi kesehatan lebih baik ketimbang gula pasir,” ujar dia.

Menurut dia, gula semut di Eropa sudah menjadi substitusi gula pasir. Hal itu karena kadar kandungan gula di gula semut netral. Artinya, saat dikonsumsi tidak menaikkan gula darah. (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved