Senyum Itu Muncul dari Lapak Ganjar

Cerita Firman, Bisa Tembus Pasar di Jepang Berkat Dipromosikan Gubernur Jateng

Tribunjateng.com menyambangi kediaman Firman Setyaji di Dusun Sejambu, Desa Kesongo.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM/M NAFIUL HARIS
Firman Setyaji (30) berpose dengan latar stiker bertuliskan ‘UMKM Pilihan Lapak Ganjar’ di Galeri Bengok Craft di Dusun Sejambu, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (2/10/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hari mulai petang saat Tribunjateng.com menyambangi kediaman Firman Setyaji (30) di Dusun Sejambu, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (2/10/2022) sore. Ya, Firman begitu ia biasa disapa, merupakan satu diantara pelaku UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

Firman, merupakan pelaku UMKM yang fokus mengolah aneka barang kerajinan berbahan dasar tanaman eceng gondok menjadi produk bernilai jual lebih tinggi seperti buku, sandal, tas, keranjang, topi, kotak tisu, dan lain sebagainya. Pilihan memanfaatkan eceng gondok, karena lokasi tempat tinggalnya tidak jauh dari Danau Rawa Pening dimana banyak sekali tanaman itu tumbuh subur tetapi kurang diolah oleh warga.

Namun, nasib tiada yang tahu saat ia mengawali usaha yang diberinya label Bengok Craft sekira Februari 2019 tidak lama pandemi datang. Alhasil, bisnisnya yang masih seumur jagung itu pun turut terdampak. Sejumlah warga yang mulai tertarik mengolah eceng gondok kembali pada profesi masing-masing jika tidak menjadi petani mereka memilih sebagai nelayan atau buruh petik eceng gondok.

“Padahal, secara ekonomi kerajinan dari eceng gondok hasilnya lebih baik. Itu, pikiran saya awal mengajak warga sekitar berkreasi karena saya yakin jika usaha ini berhasil bisa menghidupi mereka. Saat itu, ada satu pengrajin selain saya sendiri dimana masih merintis pemasaran belum jalan maksimal tapi sudah ada peminat, hanya Covid keburu datang semua berubah seolah gelap,” terang Firman mengawali cerita.

Kondisi tersebut kata dia, semakin diperparah karena adanya larangan berkerumun maupun menggelar berbagai macam kegiatan yang bersifat mengumpulkan warga. Dampaknya, beragam jadwal pameran karya UMKM yang mustinya bisa diikuti dimana harapannya bisa menunjukkan hasil ke masyarakat jika dengan mengolah eceng gondok bisa menghasilkan rupiah lebih tinggi seketika pupus.

Firman bercerita, waktu itu yang dilakukannya sekadar berlatih membuat aneka macam kerajinan dengan beragam model kekinian sembari membangun pasar di media sosial. Dia sadar, apabila pangsa pasar offline seperti pameran diberhentikan sementara jalan satu-satunya adalah bermigrasi ke digital. Senyatanya, menjalankan bisnis di ruang digital tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Gara-gara pandemi itu saya mulai mikir ini gimana bisa survive. Lalu, saya mulai bikin akun media sosial Instagram dengan nama @bengokcraft. Bengok sendiri sebutan untuk eceng gondok dalam bahasa Jawa. Sejak itu, saya setiap hari posting produk-produk meriset tagar yang bagus juga mengikuti beragam pelatihan dari pemerintah karena gratis dan bisa secara online,” katanya

Ia menambahkan, selain memaksimalkan media sosial Instagram pola pemasaran juga dilakukan dengan membuat status di Whatshapp bahkan setiap hari berkirim pesan berantai (broadcast) ke semua nomor kontak yang dimiliki. Melalui jalan itu, orang mulai bertanya sebagian lagi memesan produk. Namun, karena keterbatasan pengrajin, pembeli waktu itu diwajibkan memesan lebih dulu (pre order) untuk barang yang dikehendaki.

Alumnus Universitas Indonesia itu melanjutkan, dari serangkaian proses yang ditempuh itu dari analisanya belum pada tahap penjualan yang diinginkan. Akan tetapi, masih pada tataran pengenalan merk kepada khalayak. Menyadari hal itu, ia pun mengubah strategi dengan setiap kali memposting produk turut menandai orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh kuat di media sosial satu diantaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Saya hampir setiap kali posting sejak itu menandai atau tag akun @ganjar_pranowo besar harapan ya di-repost. Syukur-syukur beliau mau datang ke rumah kreasi kami. Karena beliau saat itu sedang gencar mempromosikan produk-produk UMKM sampai ada akunnya sendiri yang diberinama @lapak_ganjar. Untuk yang program dengan tagar #LapakGanjar muncul setiap Minggu itu pun saya coba,” imbuhnya

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi Galeri Bengok Craft di Dusun Sejambu, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang belum lama ini.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi Galeri Bengok Craft di Dusun Sejambu, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang belum lama ini. (IST/Dokpri)

Jalan Terang

Setelah setiap Minggu mengikuti program #LapakGanjar di media sosial dari edisi pertama lanjutnya, akhirnya pada edisi ketiga usaha kerajinan dari eceng gondok buatannya di-repost Gubernur Jawa Tengah. Tak disangka, ibarat cempedak berbuah nangka usaha Firman mengalami peningkatan signifikan. Sejak itu, dari hari ke hari mulai banyak pesanan bukan hanya dari Indonesia namun sampai mancanegara.

Warga Kabupaten Semarang tersebut menerangkan, usaha kerajinan Bengok Craft kala itu turut dipromosikan melalui Instagram story Ganjar Pranowo bertemakan kerajinan. Sebelumnya kata dia, pada tema yang diangkat setiap Minggu selalu mengikuti mulai tema home decor, fashion, dan aksesosir namun belum berhasil di-repost.

“Sebenarnya waktu itu saya iseng ya, tapi malah itu menjadi jalan terang dan senyum bagi kami semua yang ada di Bengok Craft. Melalui @lapak_ganjar orderan meningkat, otomatis produksi bertambah dan juga bisa memberdayakan warga. Alhamdulillah lagi, beliau (Ganjar) datang langsung ke tempat saya itu sungguh sesuatu yang susah diungkapkan. Ya bonus, ya senang juga haru campur aduk apalagi datangnya spontan kami dikabari kurang dari tiga jam,” kenangnya

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved