Berita Jateng

106 Eks Napiter di Jawa Tengah Berstatus Radikal Merah, Masih Teguh Pada Ajaran Lama

Data Densus 88 AT Polri, hingga awal Oktober menyebut ada 237 eks napiter di Jawa Tengah

Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: muslimah
Dok Tim Media Densus 88
Direktur Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol. Arif Makhfudiharto beraudiensi dengan Wagub Jateng Taj Yasin untuk berkomitmen memutus regenerasi teroris (Dok Tim Media Densus 88) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jumlah eks narapidana terorisme (napiter) di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan.

Data Densus 88 AT Polri, hingga awal Oktober menyebut ada 237 eks napiter di Jawa Tengah. 

Jumlah itu, lebih banyak 7 orang dibanding bulan lalu yang mencapai 230 orang.

Kepala Unit Idensos Satgaswil Jawa Tengah Densus 88 Antiteor Polri AKBP Bambang Prasetyanto mengatakan masih banyak eks napiter yang belum sepenuhnya kooperatif untuk keluar dari dunia terorisme.

Baca juga: Setelah Membunuh Anaknya Pakai Batu dan Cangkul, Ibu di Sragen Telepon Adik Buat Minta Tolong

Baca juga: Rumah Mewah Lesti Kejora dan Rizky Billar Ternyata Ngontrak, Ketua RT Tak Tahu Kediaman Asli

Katanya, sebagian dari mereka justru lebih memilih mempertahankan ajaran radikal terornya. 

"Masih banyak yang belum lepas dari bayang-bayang radikal," katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya membagi kelompok eks napiter tersebut dalam dua kategori.

Pertama, kategori radikal hijau disematkan kepada eks napiter yang sudah kooperatif untuk meninggalkan jalan teror.

Kedua, ada kategori radikal merah, di mana kelompok yang masuk kategori ini adalah mereka yang teguh mempertahankan ajaran lama di dunia terorisme.

"131 orang di antaranya tingkat radikal hijau dan 106 radikal merah. Warna merah ini sebagai simbol bagi yang tetap teguh mempertahankan ajaran lamanya di lingkaran radikal teror, sementara hijau sebagai simbol bagi yang sudah kooperatif," katanya

Sebagai antisipasi penyebaran dan regenerasi terorisme, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk memutus mata rantai radikal teror sejak di lingkungan keluarga. 

Sebab, kecenderungan dari orangtua dengan latar belakang tersebut akan memasukkan anak-anak mereka ke ponpes yang terafiliasi maupun punya histori dengan aktivitas radikal teror.

Direktur Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol. Arif Makhfudiharto, mengemukakan "regenerasi teroris" itu perlu diputus mata rantainya.

"Ada persoalan yang belum bisa kami tangani sendiri. Ketika anak-anak (napiter atau eks napiter) bisa disekolahkan ke ponpes yang moderat, ketika tumbuh kembang dewasa kami tidak khawatir mereka jadi regenerasi teroris," kata Arif saat menemui Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di komplek Pemprov Jawa Tengah, Senin (3/10/2022).

Dalam hal ini, Gus Yasin sebagai tokoh yang lahir dengan latar belakang pesantren diharapakan lebih mudah untuk menggandeng berbagai ponpes moderat untuk membimbing dan melakukan pendampingan terhadap eks napiter, napiter, keluarganya hingga anak-anak mereka.

"Kami mencoba mengurai (persoalan) dari semua lini. Kalau tidak dibantu kyai, ulama-ulama yang punya pemikiran kebangsaan, tentu kami sulit menjadikan mereka moderat (pemikirannya). Itulah kiranya kami melakukan kerjasama," tambah Arif.

Gayung bersambut, ajakan itu disambut baik oleh Gus Yasin untuk bersama Densus 88 menyelesaikan persoalan ini.

"Ada pemetaan langkah-langkah strategis," timpal orang nomor 2 di Jawa Tengah ini. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved