Berita Video

Video Pameran UMKM Batik di GIK Semarang, Omzet Batik Lasem Capai Rp 5 Juta Per Hari

Digelarnya pameran-pameran secara luring beri angin segar bagi para pelaku UMKM.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video pameran UMKM batik di GIK Semarang, omzet Batik Lasem capai Rp 5 juta per hari.

Kembali digelarnya pameran-pameran secara luring saat ini memberikan angin segar bagi para pelaku Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk batik.

Pasalnya dengan kembali digelarnya pameran ini dapat membangkitkan kembali sektor yang sempat lesu karena pandemi itu.

Hal itu di antaranya diakui Syailendra Hamka Karim, pegiat batik asal Lasem, Jawa Tengah. Ia yang kini tengah turut mengikuti pameran di Galeri Industri Kreatif (GIK) Kawasan Kota Lama Semarang itu menyatakan, penjualan batik kini mulai normal setelah terdampak pandemi.

Bahkan omzet yang didapat selama pameran saat ini menurutnya bisa mencapai target yang diharapkan.

"Kebetulan untuk pameran ini, kami gabungan dari beberapa brand (batik lasem). Dari pameran sejak awal tanggal 1 Oktober kemarin, Alhamdulillah sesuai target. Omzet kurang lebih Rp 3 juta - Rp 5 juta per hari," terang Syailendra di sela pameran, Senin (3/10/2022).

Syailendra lebih lanjut menyebutkan, dalam pameran itu sendiri sejumlah motif khas Lasem dihadirkan di antaranya sekar jagad, watu pecah, dan latohan.

Adapun harga ditawarkan bervariasi mulai Rp 130 ribu sampai Rp 8 juta.

Menurut dia, market tiap kota akan batik ini berbeda-beda. Di Semarang sendiri, kata dia, batik paling laris yakni di kisaran harga Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu.

"Kami memang tahu market di beberapa kota. Biasanya, Semarang sukanya dua warna di harga Rp 200 ribu sampai Rp 400.000," terangnya.

Adapun di luar Semarang, dia lebih lanjut menyebutkan, paling laris secara keseluruhan adalah batik dengan kisaran harga Rp 700 ribu.

Sementara motif yang laris adalah kendoro-kendiri.

Syailendra lebih lanjut menambahkan, batik-batik tersebut juga dipasarkan secara daring.

Dikatakan, pemasaran sejauh ini selain dalam negeri juga telah sampai ke beberapa negara seperti Jerman dan Jepang.

"Pembelinya untuk luar kota itu ada Jakarta, Semarang dan luar negeri juga seperti Jerman dan Jepang.

Kalau Jepang itu sukanya (batik) warna indigo," imbuhnya. (*)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE:

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved