Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Aminah saat Mengandung Rasulullah Muhammad hingga Sejarah Maulid Nabi

Umat Islam tengah merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan sewaktu di kandungan, Ibu Muhammad SAW, Siti Aminah mengaku kerap di

Penulis: Ardianti WS | Editor: galih permadi
www.nu.or.id
Kisah Aminah saat Mengandung Rasulullah Muhammad hingga Sejarah Maulid Nabi 

TRIBUNJATENG.COM- Umat Islam tengah merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bahkan sewaktu di kandungan, Ibu Muhammad SAW, Siti Aminah mengaku kerap didatangi malaikat.

Aminah merasa seperti sedang tidur namun terjaga.

Malaikat itu lantas berkata bahwa Siti Amninah tengah mengandung seorang pemimpin umat.

Pemimpin tersebut akan lahir pada haris Senin.

Tidak hanya itu, Malaikat juga berpesan kepada Siti Aminah jika bayi itu lahir, namailah Muhammad.

"Ketika dia lahir ke dunia ini, ucapkanlah: 'Aku memohon perlindungan untuknya pada yang Maha Esa dari keburukan setiap orang-orang yang hasud, kemudian namai dia dengan nama Muhammad'"

Diceritakan pula, Aminah tidak merasakan beban apapun ketika mengandung Muhammad.

Dan (diriwayatkan) dari Abdullah bin Wahab, dari bibinya telah berkata: “Sungguh kami telah mendengar (siti) Aminah ketika beliau mengandung Rasulullah SAW berkata:

“Aku tidak merasa akan kehamilanku dan aku tidak merasa (adanya beban) berat ataupun rasa sakit (karena kehamilanku) sebagaimana yang dirasakan oleh wanita-wanita (lain ketika mereka hamil), kecuali yang tidak aku akui (kalau aku masih bersuci untuk) mengangkat (hadats) haidl.

Lantas Malaikat datang kembali menemui Aminah dan menanyakan apakah Aminah merasa hamil?

Dan telah datang kepadaku seorang laki-laki, sedangkan aku antara tidur dan jaga (dalam mimpi), lalu ia bertanya padaku: “Apakah kamu merasa bahwa kamu hamil?” lalu seolah-olah aku menjawab:

“Aku tidak tahu sama sekali”, kemudian ia berkata (lagi): “Sesungguhnya kamu telah mengandung (calon) pemimpin umat ini dan sebagai nabi mereka, yaitu (sang pemberi) petunjuk (sekaligus pembawa rahmat) bagi semesta alam (ini)”, dan kejadian itu terjadi pada hari senin. (Sitti Aminah) berkata: “Kejadian itu adalah salah satu yang meyakinkan aku akan kehamilanku.

Sejarah Maulid Nabi

Maulid ini berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti 'hari kelahiran'.

Ketika masyarakat membicarakan mengenai Maulid Nabi, berarti itu mengenai perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Didalam tradisi Jawa pun juga terdapat tradisi yang bernama 'Mulud'an yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal.

"Secara substansial Maulid Nabi Muhammad SAW ini sebagai bentuk penghormatan dan kegembiraan, serta upaya mengenal keteladanan Rasullalah SAW sebagai pembawa ajaran Islam, sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Ahzab 21" kata dosen UIN Saizu Purwokerto, Mawi Khusni Albar, dikutip dari channel YouTube Tribunnews.com.

Surat Al Ahzab 21 yang berbunyi: Laqad kana lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā.

Yang memiliki arti, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW juga diakui dan dipuji oleh non muslim.

Sehingga Nabi Muhammad SAW mendapat gelar Al Amin yang artinya 'orang yang jujur'.

Mawi Khusni juga mengatakan jika ada beberapa versi sejarah mengenai Maulid Nabi.

Ada yang berpendapat, Maulid Nabi Muhammad SAW ini pertama kali muncul pada jaman Salahuddin al-Ayyubi.

Salahuddin al-Ayyubi menganjurkan umatnya untuk memperingati Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum muslim.

Saat itu Salahuddin al-Ayyubi dan kaum muslin dalam keadaan berperang melawan tentara salib.

Namun, pendapat tersebut menuai pro kontra.

"Ada sebagian kalangan yang menolak jika Salahuddin al-Ayyubi sebagai pelopor Maulid Nabi, karena tidak ditemukan dalam catatan sejarah", imbuh Mawi Khusni.

Selain itu, dalam kitab karya Jalaluddin as-Suyuthi tertulis bahwa pertama kali yang melakukan Maulid Nabi itu Raja Al Muzhaffar.

Raja Al Muzhaffar merupakan penguasa wilayah Irbil (sekarang Irak).

Al Muzhaffar dikenal sebagai raja pemberani, pahlawan, dermawan, dan raja yang sangat adil.

Terdapat juga pendapat lain, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan oleh Al Muiz Lidinillah.

Al Muiz Lidinillah merupakan Khalifah Fatimiyah yang berasal dari Mesir dengan Mazhab Syiah.

Kemudian dari Mazhab Sunni, pertama kali yang mengadakan Maulid Nabi yaitu Syamsud Daulah.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved