Hari Santri Nasional

HSN 2022, Pj Bupati - PCNU Pati Ziarahi Makam Gus Hasyim Mahfudh

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati bersama Penjabat (Pj) Bupati Pati Henggar Budi Anggoro menziarahi makam Muhammad Hasyim Mahfudh.

Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: olies
Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal
Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati bersama Penjabat (Pj) Bupati Pati Henggar Budi Anggoro menziarahi makam Muhammad Hasyim Mahfudh (1929-1949) di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma, Jumat (21/10/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati bersama Penjabat (Pj) Bupati Pati Henggar Budi Anggoro menziarahi makam Muhammad Hasyim Mahfudh (1929-1949) di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma, Jumat (21/10/2022) petang.

Ziarah ke makam pahlawan perang pascakemerdekaan dari kalangan santri itu merupakan agenda rutin tahunan setiap menyambut Hari Santri Nasional.

Kegiatan ziarah ini diikuti seluruh pengurus PCNU Pati berikut lembaga dan badan otonom (banom) di bawahnya. Selain itu, Forkopimda Pati dan para personel TNI dan Polri juga turut berziarah ke pusara pahlawan yang pada nisannya tertulis nama "Hasjim" (ejaan lama untuk nama Hasyim).

Pj Bupati Pati Henggar Budi Anggoro yang memimpin rombongan ziarah berharap, kisah perjuangan Gus Hasyim bisa menjadi teladan bagi seluruh masyarakat Pati, terlebih kalangan santri.

"Kita yang masih ada saat ini, termasuk generasi muda, paling tidak bisa lebih menghargai jasa pahlawan. Apalagi pahlawan ini juga merupakan ulama di Pati. Mudah-mudahan jiwa keteladanan beliau dapat dicontoh para pemuda yang di Pati," kata dia saat diwawancarai TribunJateng.com.

Untuk diketahui, pahlawan yang akrab disapa Gus Hasyim ini merupakan santri dari Kajen, Margoyoso, Pati. Ia merupakan putra KH Mahfudh Salam, sekaligus kakak dari KH MA Sahal Mahfudh.

Sebagaimana sang ayah, Gus Hasyim merupakan pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda. Gus Hasyim yang wafat dalam usia muda, yakni 20 tahun, terjun dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Kala itu ia menyambut resolusi jihad yang dikumandangkan Rais Akbar Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'asri, pada 22 Oktober 1945. 

Gus Hasyim aktif dalam peperangan melawan Agresi Militer Belanda I dan II. Kala itu, Gus Hasyim yang berjuang dalam barisan Hizbullah bahu-membahu bersama TNI melakukan penyergapan dan perampasan senjata dari tentara Belanda.

Pergerakan tersebut membuat Gus Hasyim masuk daftar buron Belanda.  Gus Hasyim akhirnya ditangkap Belanda pada akhir 1949 di wilayah Sukolilo, Pati. Dia ditangkap saat berdoa usai salat ashar di sebuah surau bersama dua santri lainnya yang ikut salat berjemaah. 

Henggar mengatakan, untuk meneladani sosok pahlawan tersebut, para santri mesti menjawab tantangan kemajuan zaman. Antara lain dengan menguasai perkembangan teknologi.

"Santri harus melek teknologi. Di samping mendalami ilmu agama, jangan ketinggalan teknologi. Era digitalisasi menjadi tantangan kita semua, termasuk santri. Selalu update terhadap kondisi terkini, manfaatkan dengan baik untuk kemajuan bersama," tandas dia.

Sementara, Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengatakan, perjuangan Gus Hasyim patut dikenang dan diteladani seluruh santri. Selain semangat dan pengorbanannya dalam mengusir penjajah Belanda, Gus Hasyim merupakan sosok yang memiliki pendirian teguh. 

"Jika mau meneladani Gus Hasyim, saat ini kita tidak harus memegang senjata. Tetapi, meneladani semangat dan perjuangannya dengan memerangi kebodohan. Termasuk berjuang menghadapi penjajahan ekonomi dan teknologi," ujar dia. 

KH Yusuf Hasyim menegaskan, santri perlu berdaya dengan pengetahuan luas. Kompetensi harus dibangun tidak hanya di bidang keagamaan, melainkan juga keterampilan yang relevan dengan era modern.

"Santri harus melek literasi dan teknologi serta paham dengan perkembangan dunia," tegas dia.

Senada, Rais Syuriyah PCNU Pati KH Aniq Muhammadun menuturkan, santri harus mampu menjawab tantangan zaman.  Tidak hanya giat dalam mencari ilmu, melainkan juga banyak berkiprah dalam memajukan bangsa dan negara. 

Selain itu, KH Aniq juga mengajak masyarakat untuk memerhatikan pendidikan anak-anak. Bukan sekadar mengedepankan pencapaian kepintaran dalam bidang ilmu dan pengetahuan, melainkan juga memadukannya dengan akhlak mulia. 

"Orang tua mendidik anaknya agar pintar dan berakhlakul karimah. Jangan sampai ikut pergaulan yang salah," tandas dia. (mzk)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved