Berita Sukoharjo

Panen Melimpah 4 Kali Setahun, Warga Desa Tegalsari Sukoharjo Tak Takut Ancaman Krisis Pangan

Ancaman krisis pangan global tak membuat resah masyarakat Desa Tegalsari, Sukoharjo. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul muzaki
Panen padi di Desa Tegalsari Kecamatan Weru, Sukoharjo. 

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Ancaman krisis pangan global tak membuat resah masyarakat Desa Tegalsari, Kecamatan Weru  Sukoharjo

Wajar, desa ini memiliki hamparan lahan penghasil pangan seluas ratusan hektare. Mayoritas masyarakat juga bercocok tanam pangan, yakni padi di sawah. 

Namun bukan itu saja yang membuat warga desa tenang di tengah isu ancaman krisis pangan yang semakin kuat. 

Panen padi di desa itu melimpah. Jika di wilayah lain umumnya panen padi 2-3 kali dalam setahun, tidak dengan Desa Tegalsari. 

Petani bahkan bisa memanen 4 kali dalam setahun. Karenanya, setiap tahun warga desa selalu surplus gabah. 

"Awalnya tahun 2020 ada program IP 400, kami dapat bantuan benih padi dan pupuk dari pemerintah," kata Hartono, Ketua Kelompok Tani Krido Usodo, Kamis (27/10/2022) 

Indeks Pertanaman (IP) 400 adalah konsep tanam dimana dalam setahun bisa panen empat kali. 

Panen empat kali setahun bukan mustahil. Asal petani bisa mengatur pola tanam hingga memilih benih yang umurnya lebih pendek. 

Petani di desanya menanam padi jenis Super Genjah yang usianya 75 hari, dan padi Genjah dengan usia 110 hari. 

Dengan diselingi padi berumur pendek, petani bisa lebih mudah mengatur jadwal panen agar bisa menanam empat kali setahun. 

"Harus diselingi Super Genjah biar bisa panen empat kali, karena umurnya pendek, " katanya

Dengan panen empat kali setahun, otomatis hasil panen melimpah dan lebih banyak di banding yang panen hanya tiga kali. 

Ini tentunya menguntungkan bagi warga yang bermatapencaharian sebagai petani. Terlebih pertanian menjadi sektor andalan warga untuk menopang perekonomian. 

Hasil panen empat kali setahun tentu lebih dari cukup untuk memenuhi pangan keluarga. 

Selebihnya, petani menjualnya untuk mencukupi pangan masyarakat lain yang tak menanam.  

Dengan menjualnya, petani mendapat penghasilan lebih untuk mencukupi kebutuhan lain di luar pangan. 

"Kita dapat tambahan satu kali panen lagi, karena biasanya panen 3 kali, untung bertambah, " katanya. (*)

 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved