Berita Banjarnegara

Novi Sukses Jadikan Kampung Gagot Banjarnegara Jadi Rujukan Belajar Pertanian

Kampung Gagot di Dusun Gagot, Desa Kutawaluh, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara dikenal sebagai kampung edukasi pertanian

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: abduh imanulhaq
IST
Kampung Gagot di Dusun Gagot, Desa Kutawaluh, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara dikenal sebagai kampung edukasi pertanian. 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Popularitas Kampung Gagot di Dusun Gagot, Desa Kutawaluh, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara yang dikenal sebagai kampung edukasi pertanian tidak muncul begitu saja. Namun, hal itu datang berkat langkah kecil Novi Darmayanti (39) bersama keluarga.

Berbekal latar belakang pendidikan pertanian di Institute Pertanian Bogor (IPB) menggugah Novi untuk membuat kawasan dimana ada nilai edukasi, dan wisata namun menitikberatkan bidang pertanian memanfaatkan areal rumah-rumah warga.

Novi bercerita, sebelum Kampung Gagot dikenal sebagai salah satu rujukan belajar pertanian di Kabupaten Banjarnegara nama kampung itu hampir tenggelam yang masih ada dan dikenal nama desanya. Akan tetapi, yang lebih mendorongnya waktu itu bukan soal nama kampung melainkan karena melihat generasi muda yang memandang sebelah mata profesi seorang petani.

“Kalau orang-orang tua (petani) itu produktivitas mereka menurun, dan petani tidak ada regenerasinya nanti generasi selanjutnya makan apa? Itu sebenarnya titik awalnya. Jadi, niatnya ingin menyelamatkan sumber pangan bukan ke arah wisata saat itu. Ditambah saya ini lulusan pertanian, wajar bila muncul itu angan-angan di 2011 lalu baru benar-benar terwujud kampung sebagaimana yang saya bayangkan di 2017,” paparnya

Ia menambahkan, semasa awal sebelum dinamai edu wisata Kampung Gagot serta dikelola lebih profesional dengan berbagai progam edukasi hanya ada kolam ikan bioflok yang ditawarkan sebanyak lima unit di pekarangan rumahnya. Kolam bioflok sendiri, suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme.

Tidak lama, banyak orang sekitar mulai tertarik sampai kemudian dibentuk suatu komunitas agrobisnis dengan tujuan memasarkan hasil produk-produk pertanian warga desa awalnya yang diberinama Warung Tani dan beroperasi secara virtual. Seiring bertambahnya waktu, terkumpul sekira 600 orang member.

“Dan ternyata tidak cukup untuk koordinasi online, sehingga butuh tempat kopdar atau ketemu langsung. Kemudian, muncul lah ide pendirian kampung dimana disana menjadi pusat edukasi apapun tentang pertanian. Kami operasional terbuka untuk pendatang pada 1 April 2018 dengan potensi yang ada seperti memberi makan hewan, menangkap ikan,dan memanah gambar hama tanaman,” katanya

Novi menyatakan, singkatnya kunjungan orang ke Desa Kutawaluh semakin hari semakin bertambah bukan saja dari Kabupaten Purbalingga namun juga daerah lain. Akhirnya kemudian, disepakati dibentuklah Kampung Eduwisata Gagot. Penamaan Gagot sendiri, berasal dari leluhur desa dimana Ki Gagot diyakini tokoh yang dahulu berjasa membuka pemukiman.

Dia mengungkapkan, jika dahulu aktivitas warga setempat hanya bertani kini juga menjadi penggerak wisata desa disela-sela mereka jeda waktu musim tanam dan panen pasca adanya Kampung Eduwisata Gagot. Padahal, dahulu stigma yang berkembang warga Dusun Gagot lebih banyak diisi orang-orang pemalas.

“Nah, itu juga menjadi motivasi kami untuk mengubah stigma itu. Jadi, diawal-awal banyak kita pasangi semacam kalimat-kalimat motivasi seperti Gagot berarti semangat, gotong royong, kerja keras dan seterusnya ditempel pakai MMT. Perlahan, pemikiran warga berubah dimana tentu tidak mudah apalagi latar belakang pendidikan rata-rata lulusan SD dan usia sudah tua, sedang anak mudanya lebih memilih kerja di luar,” terangnya

Novi mengatakan, meski dihadapkan pada kondisi yang sulit namun ia tetap mendampingi warga terus memberikan edukasi sembari membuktikan bahwa menekuni usaha di bidang pertanian bisa membuahkan hasil. Sehingga, generasi muda yang ada di desa termotivasi untuk menjadi seorang petani namun berpikiran pengusaha.

Kini lanjutnya, wisata edukasi di Kampung Gagot yang semula hanya mengandalkan kolam ikan bioflok, telah merambah ke budidaya tanaman pertanian, peternakan, produksi pupuk, tepung, jual beli bibit dan pengolahan kopi. Menariknya, seluruh lahan pertanian maupun lokasi perternakan berada di rumah-rumah warga serta dikelola mereka masing-masing.

“Jika dulu mau ke Kampung Gagot harus memutari desa lain karena terhalang sungai dan tidak ada jembatan sekarang sudah dibangun. Kemudian, untuk warga mereka rata-rata sudah memiliki toilet di rumah karena selain andalan pertanian ada layanan penginapan homestay untuk mereka yang ingin belajar atau magang. Jauh sebelum itu, warga yang punya toilet bisa dihitung jari,” jelasnya

Pihaknya menjelaskan, selain memadukan pertanian dan wisata Kampung Gagot juga berupaya memberdayakan warga. Sehingga, destinasi wisata pertanian tidak terpusat di satu lokasi secara terpadu melainkan tersebar di rumah-rumah warga. Tujuannya, dari semua itu warga bangga menjadi seorang petani serta senantiasa tergugah untuk bersama-sama menjaga lingkungan tempat tinggal mereka.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved