Fokus

Fokus: Saatnya Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum Pendidikan

Tiga tragedi memilukan terjadi dalam sebulan terakhir. Korban yang berjatuhan pun cukup banyak. Tak hanya korban luka, jumlah korban tewas yang mencap

Penulis: rika irawati | Editor: m nur huda
tribunjateng/grafis bram
Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati

TRIBUNJATENG.COM - Tiga tragedi memilukan terjadi dalam sebulan terakhir. Korban yang berjatuhan pun cukup banyak. Tak hanya korban luka, jumlah korban tewas yang mencapai seratusan membuat duka mendalam.

Pertama, tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang pada 1 Oktober 2022. Peristiwa yang membuat lebih dari 700 orang terluka ini terjadi usai pertandingan Arema FC versus Persebaya Surabaya dalam laga lanjutan Liga 1 2022/2023.

Kedua, tragedi Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, 29 Oktober 2022. Data per 1 November 2022, jumlah korban tewas mencapai 156 orang. Puluhan di antaranya merupakan warga negara asing.

Kebanyakan korban tewas terhimpit di tengah sesaknya pengunjung yang memadati gang-gang sempit di Itaewon untuk merayakan Halloween. Mayoritas korban tewas berumur 20-an tahun.

Ketiga, tragedi jembatan ambruk di Kota Morbi, Gujarat, India, 30 Oktober 2022. Lebih dari 140 orang tewas setelah jembatan gantung tempat mereka berada ambruk sehingga para korba berjatuhan ke sungai. Tak hanya orangtua, ada pula korban anak-anak dan remaja.

Dua kejadian lain yang hampir merenggut nyawa adalah festival musik Berdendang Bergoyang di Istora Senayan, Jakarta Pusat, pada 29 Oktober 2022, dan konser boyband Korea NCT 127 di Ice BSD, Tangerang, Jumat (4/11). Di dua acara tersebut, dilaporkan puluhan orang pingsan karena berdesakan.

Empat di antara peristiwa tersebut terjadi karena jumlah massa yang membeludak atau melebihi kapasitas. Akibatnya, ruang gerak menjadi sedikit, bahkan hampir tidak ada sama sekali, sehingga korban jiwa berjatuhan.

Kejadian ini, tentu saja bisa diantisipasi jika panitia tertib. Tak hanya sekadar mencari keuntungan tetapi juga mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan. Termasuk, mitigasi jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Mitigasi atau tindakan mengurangi dampak bencana untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa, tak hanya menjadi bagian dari panitia acara yang mengumpulkan massa. Atau, tim pencari dan pertolongan (SAR) untuk kejadian bencana alam. Yang tak kalah penting adalah menyiapkan massa dan warga yang terlibat dalam acara atau terdampak kejadian.

Selama ini, sosialisasi kebencanaan dan mitigasi bencana kepada warga, kurang. Misalnya, sosialisasi terkait membaca tanda alam untuk menghadapi bencana banjir, letusan gunung berapi, edukasi saat terjadi gempa bumi, banjir, juga kebakaran.

Bahkan, hanya segelintir orang di luar profesi, yang mengetahui cara memberi pertolongan pertama pada kecelakaan. Semisal, menolong orang tersedak, terluka, atau bahkan memberi bantuan berupa CPR atau cardiopulmonary resuscitation.

Melihat pentingnya pengetahuan dasar dan pertolongan pertama dalam menyelamatkan nyawa, pemerintah sebaiknya mulai menjadikan mitigasi bencana sebagai materi wajib yang diterima setiap warga. Syukur-syukur, bisa masuk ke kurikulum pendidikan dan bukan sekadar ekstrakurikuler.

Tentu saja, materi yang diberikan disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan lokasi. Karena, kemampuan bertahan hidup merupakan kebutuhan setiap orang. (*/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved