Fokus

Fokus : Menanti Hasil G20

Indonesia sebentar lagi punya gawe besar. Ya, Indonesia menjadi tuan rumah Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20

Penulis: rustam aji | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rustam Aji
Wartawan Tribun Jateng

Indonesia sebentar lagi punya gawe besar. Ya, Indonesia menjadi tuan rumah Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, yang akan digelar di Bali pada 15-16 November ini.

Bagi Indonesia, G20 tentu memiliki makna strategis. Sejumlah kepala negara bakal hadir. Termasuk Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Berbagai persiapan, termasuk pengamanan juga telah dipersiapkan secara maksimal demi suksesnya pelaksanaan KTT G20.

Tiga isu strategis menjadi agenda utama, yakni berupa arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi energi.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat menyampaikankeynote speechsecara virtual dalam Seminar Nasional Peluncuran Buku DGB

Untuk G20, bulan lalu menyebut isu arsitektur kesehatan global dilakukan penggalangan dana global untuk pencegahan, kesiapan, dan respons terhadap pandemi, penguatan resiliensi sistem kesehatan dunia dan standar protokol kesehatan global yang harmonis, serta alih teknologi dan diversifikasi produksi vaksin.

Selanjutnya, terkait dengan agenda transformasi ekonomi berbasis digital dilakukan penciptaan nilai ekonomi digital untuk pemulihan ekonomi, adopsi teknologi terutama bagi UMKM, pengembangan keterampilan dan literasi digital, serta digitalisasi sektor yang berkontribusi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sedangkan terkait dengan agenda transisi energi dilakukan perluasan akses teknologi sumber energi bersih, percepatan penurunan emisi karbon, pelibatan partisipasi sektor swasta, serta percepatan penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Dengan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama, Bangkit Perkasa” diharapkan G20 dapat memberikan solusi atas krisis ekonomi global yang tengah melanda akibat Covid-19 dan dampak perang Ukraina-Rusia.

G20 diharapkan mampu menetapkan arah kebijakan ekonomi global dan menghentikan perang Ukraina vs Rusia.

Karena itu, hasil dari KTT G20 sangatlah dinanti. Presiden Joko Widodo juga dengan tegas menekankan, bahwa Presidensi G20 Indonesia tidak hanya sebatas seremonial. 

Artinya, tidak hanya menghasilkan kertas-kertas rapat, tetapi, G20 justru harus mendorong negara-negara besar G20 untuk melakukan aksi nyata dan membuat terobosan besar. Sehingga masyarakat dunia dapat merasakan dampak positif dari kerja sama besar ini.

Pertanyaannya adalah mampukah Indonesia sebagai tuan rumah G20 meyakinkan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, untuk membuat terobosan besar.

Mengingat, Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menjadi bagian dari ‘masalah’ di dunia dipastikan tidak bisa hadir.

Tanpa kehadiran Putin, mampukah konflik Ukraina vs Rusia bisa dihentikan. Sebagaimana kita ketahui, Rusia dibawah Presiden Putin telah membangunan kekuatan baru dengan negara rival Amerika Serikat, yakni Korea Utara dan China.

Tanpa kehadiran Putin, akankah KTT G20 di Bali tetap menghasilkan keputusan-keputusan yang strategis dalam mengatasi ekonomi global? Atau justeru sebaliknya, malah membuat ekonomi global makin tidak menentu?

Tentu semua pihak tidak berharap bahwa KTT G20 di Bali hanya sebatas seremonial ‘jamuan’ para kepala negara tanpa menghasilkan kebijakan strategis dan aksi nyata tiga agenda besar di atas. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved