Berita Kabupaten Semarang

Patung Gajah Di Sraten Ternyata Terkait dengan Keraton Surakarta, Ini Sejarahnya

Patung gajah di Jalan Sraten memiliki sejarah panjang. Patung gajah itu ternyata berkaitan dengan Keraton Surakarta.

Penulis: Hanes Walda Mufti U | Editor: olies
Tribunjateng.com/Hanes Walda
Ilustrasi patung gajah yang ada di pertigaan Jalan Sraten-Muncul Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, Jumat (11/11/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KABUPATEN SEMARANG – Patung gajah di Jalan Sraten-Muncul tepatnya di pertigaan Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang memiliki sejarah panjang. Patung gajah itu ternyata berkaitan dengan Keraton Surakarta. 

Kepala Desa Sraten, Rochmad menurutnya tanah Desa Sraten itu adalah pemberian dari Keraton Surakarta. Dan hal itu erat hubungannya dengan patung gajah yang ada di Sraten.

Menurutnya pada waktu itu ada rombongan penggawa dari Keraton Surakarta menuju ke Demak dengan memakai gajah.

“Gajah itu disini ngamuk tidak karuan akhirnya pemimpin rombongan, panglima perang membuat sayembara,” kata Rochmad kepada Tribunjateng.com, Jumat (11/11/2022).

Baca juga: Angkat Potensi Wisata dan Goyor, Tegal Gelar City Walk Street Fashion 

Baca juga: Ribuan Pelari Ikuti Borobudur Marathon 2022

Baca juga: Ini Daftar 24 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2023

Sayembara itu dilakukan karena penggawa kerajaan tidak ada yang bisa menaklukkan gajah yang sedang mengamuk tersebut.

Sayembara itu yakni barang siapa yang bisa menaklukkan gajah, maka tempat ini akan menjadi tanah yang makmur.

“Pada akhirnya ada salah satu seorang pemuda dari wilayah ini yang ikut sayembara bernama Truno, saat itu tahun 1850an gajah yang mengamuk itu bisa tenang kembali,” ungkapnya.

Kemudian tanah tersebut oleh rombongan penggawa kerajaan Surakarta dinamakan Srati, yang memiliki arti gajah liar yang mengamuk. 

"Sebelum pergi mereka berucap pada suatu saat nanti disini akan menjadi Desa yang makmur," ucapnya.

Kemudian berjalannya waktu penamaan Srati oleh lidah masyarakat berubah menjadi Sraten.

“Karena bahasa Srati kurang pas diubah orang dahulu, ada administrasi Kepala Desa pertama itu 1938 sudah menggunakan nama Desa Sraten,” jelasnya.

Sraten sendiri kata Kepala Desa, sama artinya dengan Srati yang berarti penjinak atau pawang. Atau dalam hal ini berarti penjinak Gajah.

“Patung gajah itu adalah kenangan, karena konon katanya ngamuknya (gajah) di situ, warga dahulu membuat patung gajah kecil di situ, kemudian diubah dan dibuat lebih besar dan ada taman di sekelilingnya,” katanya.

Makam Truno sendiri sampai sekarang tidak diketahui. Sebab pemuda itu adalah pengembara yang berasal dari Desa Sraten.

“Setelah berhasil menaklukkan gajah itu Truno kembali mengembara dan sampai saat ini tidak diketahui cerita pengembaraan atau makam Truno,” ujarnya. (han)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved