Berita Internasional

Akhir Pilu Karier Politik Mahathir Mohamad, Ini Alasan Bapak Modernisasi Malaysia Kalah Telak

Dr M, demikian dia sering dijuluki, hanya mampu meraih 9,62 persen suara, berbanding kontras ketika dia memenangi dapil ini dengan 54,90 persen suara

Editor: muslimah
Net
Mahathir Mohamad 

TRIBUNJATENG.COM – Berjuluk Bapak Modernisasi Malaysia, kisah Mahathir Mohamad berakhir pilu.

75 tahun karier politik nyaberakhir dengan kekalahan.

Ya, Mahathir harus menyudahinya dengan kekalahan telak mengejutkan di daerah pemilihan (dapil) Langkawi pada pemilihan umum atau pemilu Malaysia, Sabtu (19/11/2022).

Dr M, demikian dia sering dijuluki, hanya mampu meraih 9,62 persen suara, berbanding kontras ketika dia memenangi dapil ini dengan 54,90 persen suara pada pemilu 2018.

Baca juga: Biksu dari Berbagai Negara Kelilingi Candi Borobudur, Bersyukur Dijadikan Tempat Ibadah

Baca juga: Fantastis, Berikut Bayaran Wasit yang Memimpin Pertandingan Piala Dunia 2022 di Qatar

Mahathir bahkan hanya berada di urutan keempat, jauh di belakang kandidat dari tiga koalisi utama Perikatan Nasional, Barisan Nasional, dan Pakatan Harapan.

Raihan suara di bawah 12,5 persen membuat Mahathir harus kehilangan deposit uang pemilu yang harus diserahkan setiap kandidat yang akan bertanding, suatu simbol politik yang sangat memalukan bagi perdana menteri terlama dalam sejarah Malaysia itu.

Berakhirnya era Mahathir

Walau pesona politiknya memudar, analis politik masih optimis Mahathir yang sangat populer di Langkawi akan kembali ke parlemen "Negeri Jiran”.

Sosoknya yang sangat dihormati ditambah jasanya mengembangkan Langkawi menjadi destinasi wisata internasional bukanlah hal yang dapat dilupakan begitu saja.

Namun, hasil pemilu ini menjadi sinyal jelas berakhirnya era Mahathir yang mendominasi kancah politik Malaysia sejak tahun 1970-an.

Para pemilih Pakatan Harapan masih berang dengan penolakan penyerahan kekuasaan kepada Anwar Ibrahim seperti yang dijanjikan setelah kemenangan mengejutkan Pakatan pada pemilu 2018.

Politisi yang telah menginjak usia 97 tahun itu dinilai sebagai biang kerok krisis politik berkepanjangan Malaysia yang membuat Malaysia memiliki tiga perdana menteri dalam dua tahun.

Banyak yang menduga Mahathir sejak awal memang tidak pernah menginginkan Anwar menjadi suksesornya.

Hal ini membuat Mahathir jelas tidak dapat lagi diterima oleh blok pemilih moderat, liberal yang cenderung reformis dan pemilih suku non-Melayu.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved