Fokus

Fokus: Diplomasi Batik

BATIK menjadi perbincangan panas di media sosial, beberapa hari terakhir. Pemantiknya, cuitan Mahyar Tousi, Youtuber politik asal Inggris. Ia memperta

Penulis: moh anhar | Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Moh Anhar 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Moh Anhar

TRIBUNJATENG.COM - BATIK menjadi perbincangan panas di media sosial, beberapa hari terakhir. Pemantiknya, cuitan Mahyar Tousi, Youtuber politik asal Inggris. Ia mempertanyakan pakaian berbahan batik dan kain endek yang dikenakan pemimpin-pemimpin negara dalam KTT G20 di Bali.

Cuitannya di akun Twitter @MahyarTousi viral. Begini kalimatnya, "What on earth are these idiots wearing?! (Apa yang dikenakan para idiot ini?)". Sontak netizen Indonesia menyerangnya melalui kolom komentar. Meski cuitan itu sudah dihapus dan dilanjutkan cuitan penjelasan klarifikasi dan permohonan maaf.

Bukan hanya di Twitter, akun personal Instagram juga jadi sasaran. Kolom komentar pada beberapa unggahannya dipenuhi ribuan hujatan netizen Indonesia. Bahkan ada satu unggahan yang komentarnya mencapai lebih dari 10 ribu.

Sedemikian hebohnya netizen Indonesia meluapkan kemarahan atas kalimat cuitan Tousi. Ini pertanda besarnya kecintaan mereka terhadap batik, semangat nasionalisme yang tinggi, atau kesempatan menghujat orang di media sosial. Ada ungkapan, orang Indonesia begitu ramah saat bertemu muka. Namun, akan berubah saat berada di media sosial. Luapan kejengkelan bisa membawanya pada sikap yang menyerang.

Situasi ini mengingatkan sikap netizen Indonesia sewaktu Malaysia menyebut batik sebagai budaya asli negeri itu pada 2008. Netizen melempar sumpah serapah pada Malaysia.

Pemerintah Indonesia pun memperjuangkan batik untuk diakui organisasi dunia Unesco sebagai warisan budaya tak benda atau Intangible Cultural Heritage (ICH). Gayung bersambut, akhirnya batik diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009. Sejak saat itu, Indonesia memperingati hari batik nasional setiap 2 Oktober.

Kecintaan dan semangat tinggi membela pada batik ini patut diacungi jempol. Idealnya, rasa cinta yang besar seharusnya berbanding lurus dengan pengenaan produk-produk batik dalam keseharian mereka.

Batik adalah sebuah mahakarya. Dari tangan perajin, lilin cair panas ditorehkan dari canting, membentuk garis-garis pola motif. Karya batik tulis ini turun-temurun dipersembahkan dari generasi ke generasi. Di berbagai daerah, batik-batik berkembang, tak lagi terpusat pada kantong produksi batik zaman dulu, semacam Solo, Pekalongan, Lasem, atau Yogyakarta. Tiap daerah mengembangkan motif-motif khas sesuai potensi masing-masing.

Tingginya pembelaan netizen atas batik diharapkan pula semangat mereka meneruskan tradisi batik. Tak mudah kini mencari generasi muda untuk mau mencanting. Bagaimana lembaran kain-kain itu diwarnai dalam proses produksinya. Ini semua perlu pembelajaran.

Kembali pada pemakaian baju batik oleh pemimpin-pemimpin dunia pada perhelatan KTT G20 di Bali. Presiden Jokowi, dalam akun Instagramnya, tanpa menyinggung nama Mahyar Tousi, satu unggahannya dipastikan turut mengomentari soal batik ini. Penggalan kutipan komnetar itu, "Batik-batik itu menjadi cinderamata Indonesia untuk tamu-tamu penting kita.... Batik adalah sumbangsih Indonesia untuk kebudayaan dunia."

Inilah bentuk diplomasi Indonesia dalam percaturan politik dunia, merajut kebersamaan dan perdamaian dunia lewat memakai baju batik bersama. Sederhana.(*Tribun Jateng Cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved