Berita Sragen

11 Saksi Diperiksa Dalam Kasus Pemukulan Santri, Polres Sragen: Pelaku Terancam 10 Tahun Penjara

Polres Sragen telah periksa setidaknya 11 saksi kasus pemukulan terhadap santri.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mahfira Putri Maulani
Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro ketika memberikan keterangan kepada media. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Satreskrim Polres Sragen telah memeriksa setidaknya 11 saksi dalam kasus pemukulan terhadap santri, DWW (15) di Pondok Pesantren (Ponpes) Ta'mirul Islam, Masaran Sragen.

Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro mewakili Kapolres Sragen AKBP Piter Yanottama mengatakan sampai saat ini ada 11 orang saksi yang telah diperiksa sudah selesai dimintai keterangan.

Mereka diantaranya ustadz, santri lain ketika kejadian, hingga orangtua korban. Iptu Ari mengatakan saat ini Satreskrim telah menggelar perkara dan menetapkan senior korban, MHNR (16) warga Karanganyar sebagai tersangka.

Tahap selanjutnya, kata Iptu Ari proses hukum akan sesuai prosedur. Dimana langkah-langkah hukum dikoordinasikan dengan kejaksaan. Ia mengatakan kasus anak akan lebih cepat.

"Selanjutnya kita tetap sesuai prosedur. Langkah-langkah hukum kita tetap koordinasi dengan kejaksaan. Supaya kejadian tersebut segera kita limpahkan ke kejaksaan. Karena ini UU anak seharusnya lebih cepat dari perkara biasa," kata Ari, Rabu (23/11/2022).

Pada tersangka sendiri hingga kini pihak kepolisian tidak melakukan penahanan dikarenakan tersangka masih dibawah umur. Sementara ini hanya wajib lapor dan tersangka dalam pengawasan orangtua.

Atas kasus ini, tersangka dijerat Pasal 80 Ayat 3 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. 

Diberitakan Tribunjateng.com sebelumnya, pemukulan oleh tersangka MHNR itu dilayangkan ke korban setelah korban tidak menjalankan piket kamar.

Kala itu, korban dihukum bersih-bersih selama satu minggu namun korban menolak. Korban juga sempat diminta push up namun menolak, akhirnya tersangka memukul korban hingga tak sadarkan diri.

"Dalam kasus ini tersangka sebelumnya tidak punya masalah atau dendam terhadap korban. Ini kegiatan mendisiplinkan dari senior ke junior."

"Senior melakukan tindakan kurang pas tidak terkontrol karena tidak dalam pengawasan, sehingga berakibat salah satu santri tersebut pingsan di tempat dan berujung meninggal dunia," kata Ari.

Sementara itu, terkait hasil visum, Iptu Ari mengatakan hingga kini belum keluar. Namun pada saat itu belum ditemukan memar. Namun demikian, dari visum kita tindak lanjuti dengan otopsi.

Dwi Minto Waluyo berharap meski pelaku dibawah umur kasus ini terus berjalan dan bisa terselesaikan hingga tuntas. Dwi mengaku hingga kini pihak tersangka belum ada itikad baik meminta maaf.

"Mudah-mudahan tidak terjadi lagi, cukup anak saya saja yang menjadi korban berjuang dalam menuntut ilmu. Kasus terus berjalan sebagaimana mestinya," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved