Fokus

Fokus: Empati bagi Cianjur

JUMLAH pengungsi korban Gempa Cianjur terus bertambah. Sebanyak 73.874 warga telah dievakuasi ke ratusan lokasi yang tersebar di belasan kecamatan.

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: m nur huda
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Abduh Immanulhaq 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Abduh Immanulhaq

TRIBUNJATENG.COM - JUMLAH pengungsi korban Gempa Cianjur terus bertambah. Sebanyak 73.874 warga telah dievakuasi ke ratusan lokasi yang tersebar di belasan kecamatan.

Tak ada perasaan lain kecuali empati dan solidaritas sebagai sesama anak bangsa yang kita sampaikan. Meski Jawa Tengah tak terdampak bencana alam tersebut, kita merasakan betul betapa pedihnya perasaan orang-orang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman.

Bukan tanpa alasan karena puluhan ribu rumah rusak tak bisa ditempati, total mencapai 62.628 rumah. Memang tak semua rusak berat atau roboh namun yang rusak sedang dan ringan tetap berisiko jika terus dihuni.

Sejumlah infrastruktur juga mengalami kerusakan. Sebanyak 368 sekolah dilaporkan rusak bersama 144 tempat ibadah, 14 fasilitas kesehatan dan 16 gedung perkantoran.

Gempa berkekuatan M5,6 ini telah menyebabkan korban jiwa tewas 321 orang. Sejumlah 11 warga juga masih masuk daftar hilang.

Akumulasi korban luka mencapai angka 7.729 orang. Sebanyak 595 warga luka berat dan 7.134 orang luka ringan. Korban luka yang masih dirawat 108 orang.

Kita sadar diri, Indonesia memang tak banyak bisa mengelak dari berbagai risiko bencana alam. Posisi geografis negeri kita terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Negeri kita juga berada di kawasan berisi deretan gunung api berbentuk tapal kuda di tepi Samudra Pasifik dari Australia hingga Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Kondisi yang mengharuskan kita selalu siap hidup bersama gempa tektonik dan vulkanik serta tsunami.

Tak kurang dari lembaga milik PBB yang fokus pada pengurangan risiko bencana, UN-ISDR, menyatakan Indonesia sebagai negara paling rawan terhadap bencana di dunia. Kita menempati peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Kemudian peringkat tiga untuk ancaman gempa. Selanjutnya posisi keenam untuk banjir. Mengingat predikat tersebut, wajib kiranya kita memiliki manajemen bencana yang mumpuni.

Karena alam memiliki daulatnya sendiri, tentu saja beberapa jenis bencana tak bisa dicegah. Upaya yang bisa dan harus dilakukan adalah menghindarkan jatuhnya banyak korban.

Ketika bencana terjadi, kita berikhtiar sekuat tenaga agar jumlah korban bisa diminimalkan. Bahkan kalau bisa nihil sehingga tak ada anak-anak yang menjadi yatim-piatu atau orangtua yang kehilangan putra-putrinya.

Dari sudut ini, kita bisa menilai betapa pentingnya manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana yang paripurna. Dimulai dari pengelolaan risiko, tanggap darurat hingga pemulihan.

Satu hal yang mengganjal adalah belum terintegrasinya pendidikan mitigasi bencana ke dalam kurikulum pendidikan formal. Belum ada mata pelajaran khusus mengenai mitigasi bencana di sekolah-sekolah.

Materi kebencanaan juga masih sedikit dipelajari. Pelatihan atau simulasi menghadapi bencana masih belum rutin diselenggarakan di lembaga pendidikan, jumlahnya masih bisa dihitung jari.

Kita paham, semua membutuhkan kesiapan. Kesiapan itu bisa dibentuk melalui berbagai cara atau metode, salah satunya dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved