Berita Kabupaten Tegal

Kisah Yayat Pemuda Tegal Pilih Jadi Pandai Besi Cangkul, Ini Alasan Pengiriman Tiap Wage dan Kliwon

Abdul Yasin Hidayatullah, merupakan salah satu pemuda asal Bumijawa yang setahun terakhir menekuni usaha pandai besi cangkul

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Di era modernisasi dan kecanggihan teknologi seperti saat ini, sebagian masyarakat Indonesia masih mempertahankan keahlian dan keterampilan menempa besi secara tradisional, kemudian membuat alat-alat pertanian seperti cangkul.

Hal tersebut, bisa ditemukan jika berkunjung ke Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah karena sampai saat ini masih dikenal sebagai salah satu sentra industri pandai besi.

Bahkan, keahlian dan ketrampilan menempa besi secara tradisional ini, diwariskan turun temurun dari orangtua ke anak sampai keturunan selanjutnya.

Abdul Yasin Hidayatullah, merupakan salah satu pemuda asal Bumijawa yang setahun terakhir menekuni usaha pandai besi cangkul.

Abdul Yasin Hidayatullah atau yang memiliki sapaan Yayat (22), pemuda asal Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal yang meneruskan usaha pembuatan cangkul milik keluarganya yang sudah ada sejak tahun 1980an. Yayat menunjukkan beberapa cangkul buatannya yang masih dalam proses penyempurnaan belum lama ini.
Abdul Yasin Hidayatullah atau yang memiliki sapaan Yayat (22), pemuda asal Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal yang meneruskan usaha pembuatan cangkul milik keluarganya yang sudah ada sejak tahun 1980an. Yayat menunjukkan beberapa cangkul buatannya yang masih dalam proses penyempurnaan belum lama ini. (TribunJateng.com/Desta Leila Kartika)

Pria berusia 22 tahun ini, meneruskan usaha milik keluarganya yang sudah ada sejak tahun 1980an, dengan produk utama alat pertanian seperti cangkul.

Yayat sapaan akrabnya, merupakan generasi ketiga yang melanjutkan usaha pandai besi, meskipun industri tersebut semakin jarang dan berkurang peminatnya.

"Sebelum memutuskan menggeluti usaha pandai besi milik keluarga, saya pernah merantau ke Jakarta. Tapi karena pandemi Covid-19, saya terkena PHK kemudian memilih pulang kampung.

Dari pada bingung mau kerja apa, ya akhirnya meneruskan usaha keluarga saja supaya tidak punah dimakan zaman," ungkap Yayat, pada Tribunjateng.com, Senin (28/11/2022).

Sempat terdampak pandemi Covid-19 karena omzet penjualan cangkul mengalami penurunan sangat drastis, Yayat bahkan mengaku usahanya nyaris bangkrut karena minat yang turun dan sulit memasarkan produknya.

Tidak ingin menyerah dengan keadaan, Yayat berusaha semaksimal mungkin supaya kualitas produk cangkul miliknya tetap terjaga.

Sehingga pelanggan yang biasa membeli di tempatnya tidak berpaling, dan usaha yang dikelola tetap eksis dari era 80an sampai saat ini.

Karena menurutnya, kunci utama mempertahankan usaha hingga saat ini adalah menjaga kualitas produk.

Baca juga: Dikira Tidur, Seorang Penumpang Bus DMI Jurusan Karawang-Cilacap Ternyata Meninggal Dunia

Baca juga: Jasad Bripda Khoirul Anam Kru Helikopter Polisi yang Jatuh Ditemukan Kondisi Utuh dan Berseragam

"Saya mengerjakan sendiri tapi kadang orangtua masih membantu. Setiap harinya bisa menghasilkan puluhan buah cangkul, bergantung pesanan atau proyek yang sedang dikerjakan. Belajar membuat cangkul dari orangtua, ilmunya dari mereka," ujarnya. 

Menjalankan usaha turun temurun dengan fokus membuat cangkul terlebih di era modern seperti saat ini, diakui Yayat tidak mudah dan terdapat kendala.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved