Berita Semarang

SDN Tandang 03 Kota Semarang Jadi Sekolah Ramah Anak dengan HIV

Hari AIDS sedunia yang jatuh 1 Desember diperingati dengan berbagai macam kegiatan.

Penulis: faisal affan | Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/FAIZAL M AFFAN
SDN Tandang 03 Kota Semarang yang berada di Jalan Kaba Raya No. 1, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati dengan berbagai macam kegiatan. Namun, masyarakat diharapkan tidak hanya memperingati dalam bentuk seremonial belaka. Melainkan ada tindakan nyata untuk melindungi orang-orang dengan AIDS.

Seperti halnya yang dilakukan oleh pihak SDN Tandang 03 Kota Semarang terhadap siswa yang mengidap HIV. Para guru di sekolah tersebut tidak membeda-bedakan murid dengan kondisi kesehatan tertentu.

Aseptina Ningtiyas, seorang guru di SDN Tandang 03, mengatakan sempat ragu untuk menjelaskan kondisi salah satu siswanya kepada guru-guru yang lain. Sebab, ada kekhawatiran apa yang dialami siswanya bisa menular ke siswa yang lain.

"Waktu itu ada yang bilang nanti kalau berdarah terus kena siswa lain bagaimana. Ya saya beri pemahaman kalau HIV itu hanya bisa ditularkan lewat suntikan yang sama, percampuran darah, sama hubungan badan. Pelan-pelan saya beri pemahaman, akhirnya pada menerima," ujar Tina panggilan akrabnya.

SDN Tandang 03 Kota Semarang yang berada di Jalan Kaba Raya No. 1, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang.
SDN Tandang 03 Kota Semarang yang berada di Jalan Kaba Raya No. 1, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang. (TRIBUN JATENG/FAIZAL M AFFAN)

Tina pun juga berusaha mengajukan bantuan-bantuan dari pemerintah kepada siswa tersebut. Sebab menurutnya tidak ada yang perlu dibeda-bedakan dengan siswa normal lainnya.

"Mau mengidap penyakit ini atau punya kelainan ini, semua anak sama saja. Tidak perlu dibeda-bedakan. Beberapa kali juga saya mintakan bantuan untuk dia. Jadi sekarang semua guru sudah paham," jelasnya.

Tidak semua teman-teman siswa yang mengidap HIV itu tahu kondisinya. Terutama yang tinggal jauh dari rumahnya. Namun, sebagian besar orangtua siswa juga tidak mempermasalahkan jika ada siswa yang mengidap HIV.

"Orangtua siswa pun juga tidak ada yang mempermasalahkan. Memang ada yang tahu ada yang tidak. Anak-anak dengan kondisi kesehatan seperti ini memang seharusnya tidak perlu ditakuti. Sama saja dengan siswa lain," tambah Tina.

Menurut Tina, siswa dengan HIV ini tergolong anak yang hiperaktif. Suka melakukan aktivitas fisik bersama teman-temannya di sekolah. Dalam hal akademis pun siswa tersebut tidak memiliki hambatan.

"Sama saja dengan siswa lain. Memang dia ini anak yang hiperaktif. Jadi kami para guru harus sering-sering mengingatkan agar agak kalem," pungkasnya.

Tina berharap, ada semakin banyak lembaga pendidikan pemerintah yang mau menerima anak-anak spesial dengan kondisi tertentu. Sebab menurutnya anak-anak tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai cita-citanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved