Berita Kudus

Pelaku Seni Plosok Desa Merasa Diperhatikan Pemkab Kudus

Pemimpin Produksi Teater Dudoh Bening, Zaki Amani Hadi bersyukur kepada Pemkab Kudus lantaran memperhatikan para pelaku seni di daerah terpencil.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
Kominfo Kudus
Teaterical Dudoh Bening di Desa Kuthuk Kabupaten Kudus 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Pemimpin Produksi Teater Dudoh Bening, Zaki Amani Hadi bersyukur kepada Pemkab Kudus lantaran memperhatikan para pelaku seni di daerah terpencil.

Melalui Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Kudus, Teater Dudoh Bening bisa pentas membawakan teaterical yang berjudul Nganggur.

"Kami dari selaku teater kampung yang berada di pelosok Kota Kudus atau di Desa Kutuk yang jauh dari perkotaan bisa diperhatikan bahwa teater ini bisa membantu pemerintah," katanya, Jumat (2/12/2022).

Dia juga merasa bangga, bahwa teater yang berasal dari kampung bisa menghibur ditengah hiruppikuk hiburan.

"Kalau selama ini di Desa, hiburan itu kaya dangdut. Kami ingin memberikan angin segar bahwa teater di Desa yang berisikan teman-teman karang taruna juga bisa berkembang," urainya.

Dia berharap bahwa teater ini juga bisa menjadi media pembelajaran masyarakat.

Judul teater yang dibawakan oleh Dudoh Bening, adalah nganggur yang bersinopsis menggambarkan seorang pengangguran.

"Jadi sinopsisnya ada gemblong pria pengangguran berusia 23 tahun. Sesuai dengan namanya, gemblong merupakan nama makanan yg biasanya dianggurin atau tidak kemakan," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa, Gemblong memiliki bakat sebagai penulis lagu namun belum ada karyanya yg terjual, gemblong adalah suami dari Ibu Gisel (Bugis) perempuan usia 20 tahun istri Gemblong. 

Karakter Bugis merupakan nama makanan yg terdapat rasa manis di bagian dalamnya, meskipun bagian luarnya tidak berasa (hambar). 

"Kemudian ada karakter Geteng sales produk rokok ilegal yg renyah dalam bertutur kata dalam mempengaruhi orang lain," ucapnya.

Cerita bermula dari Gemblong yang mengganggur dan setiap hari menghabiskan berbungkus-bungkus rokok, Gemblong sering terkena marah istrinya. Sebagai orang desa, Gemblong tak begitu tahu tentang mana rokok ilegal dan mana rokok legal.

Suatu hari, temannya bernama Geteng datang dan mengajaknya bekerja, untuk memasarkan produksi rokoknya. 

Sejumlah iming-iming diberikan kepada gemblong. Dari mulai keuntungan besar dan dijanjikan berbagai bonus jika penjualaanya memenuhi target.

Berutung, sebelum terlibat dalam peredaran rokok ilegal, datang dua mahasiwi yang tengah melakukan KKN di desanya. 

Dari penuturan dua mahasiswa tersebut, Gemblong pun kemudian memahami kesalahanya.

Kemudian hansip balai desa kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT, pagar hal-hal yang tidak diinginkan menimpa warga desa, khususnya perihal peredaran rokok ilegal.

Teaterical ini berisikan 15 orang yang terkandung dalam karangtaruna desa setempat. (Rad)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved