Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wawancara Khusus

Mantan Bupati Seno Samodro: Boyolali Menjadi Seksi

Wawancara khusus Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan 2016-2021.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul muzaki
Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan periode 2016-2021. 

TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Wawancara khusus Mantan Bupati Boyolali Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan periode 2016-2021.

Kegiatan setelah tidak menjabat Bupati Boyolali?

Setelah pensiun, saya kembali ke hobi, yakni main musik, bola, film, nge-band sendiri, menyanyi sendiri dan dinikmati satu komunitas.
 

Awal mula terjun di dunia politik?

Buah jatuh tak jauh pohonnya. Begitupun saya.  Bapak  saya berlatarbelakang  politik. Sehingga politik sudah menjadi makanan saya tiap hari. Ya sudah jalurnya itu, ikuti saja.

Berawal saya bekerja di kedutaan besar di Prancis, lalu pulang cuti ke Indonesia 40 hari. Di situ saya bertemu teman-teman lama. Saya suka mentraktir sehingga dicap “lumo” (dermawan). Lalu dari teman, komunitas, kita berhubungan baik. Hingga saya tiba-tiba dicalonkan sebagai Wakil Bupati, dan jadi. Lalu dicalonkan sebagai bupati, jadi lagi. Begitu, mengalir saja.

Pernah dinobatkan Top Regent of The Year tahun 2017, apa kiatnya?

Untuk membangun Boyolali, kuncinya satu, dengarkan rakyat maunya apa. Rakyat yang diminta sederhana, jalan bagus, ya sudah saya bangun jalan biar lebar dan bagus untuk memenuhi harapan rakyat.

Karena saya sudah disumpah untuk melayani masyarakat, maka dengarkan suara masyarakat. Dari situ muncul inovasi yang bisa diterapkan dan mengena di hati rakyat.

Pernah dapat penghargaan tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana kiatnya?

Jadi pemimpin harus amanah. Waktu kampanyenya apa, itu yang harus diwujudkan. Sehingga rakyat senang. Namun biasanya calon pemimpin menang Pilkada, yang dipikir modal cepat kembali (BEP). Kalau begitu caranya, rakyat remuk. Padahal rakyat menunggu pemimpinnya bisa merealisasikan janji kampanyenya. Namun pemimpin yang ditunggu, jawabannya beda dengan kehendak rakyat. Itu yang menjadi kelemahan tata kelola pemerintahan.

Kenapa tidak terjun politik lagi?

Periode kedua kepemimpinan saja sebenarnya saya tidak mau. Capek juga mikirin rakyat terus. Setelah pensiun, saya ingin menikmati hidup ini, karena kata orang hidup ini indah.

Harapan ke Bupati Said Hidayat?

Said salah satu kader terbaik saya, dulu dia ketum tim Sukses. Semoga dia  jadi bupati hebat. Saya optimis itu. Karena waktu saya membangun hanya dengan anggaran Rp 300 miliar, sekaranng Rp 500 miliar. Dengan anggaran besar, Boyolali mestinya cepat bersolek. Pesan saya, lakukan terbaik, semua untuk rakyat.

Ada program yang dilanjutkan bupati sekarang?

Kalau melihat visi misi bupati sekarang, mau meneruskan (program saya).

Saya bangga ide diteruskan siapapun, terutama kaum milenial. Jangan lupa,  saya persiapkan Boyolali dengan smart city. Saya bikin proyek fiber optic sehingga blank spot semakin tidak ada. Sepanjang 80-100 kilometer nyaris tidak ada blank spot. Main Wifi kencang.

Sebagai jurnalis (dulu),  mengapa lebih tertarik dunia sepakbola?

Sejak kecil saya suka bola, senang nonton.  Orang mencintai bola seperti orang gila. Kalau di Boyolali ada Persebi, saya rela keluar duit untuk Persebi, mungkin melebihi dari yang saya kasihkan ke istri. Tomboknya bisa ratusan juta hingga miliaran.

Saya  pernah bekerja sebagai jurnalis, khusus meliput sepakbola. Dari situ, saya berkesempatan keliling dunia untuk meliput olahraga. Setiap negara yang saya kunjungi, yang pertama saya lihat adalah stadion.

Stadion paling berkesan?

Stadion paling berkesan bagi saya adalah stadion Monako. Stadion itu dikelilingi mall, bagi saya aneh. Kapasitas stadion 22 ribu orang. Sementara populasi penduduk kota itu hanya 30 ribu orang. Jadi kalau penduduk menonton sepakbola di stadion, kota jadi sepi.

Dari pengalaman perjalanan travelling, setiap saya melihat sesuatu yang unik, di setiap sudut kota yang artistis, saya contek dan coba bangun di Boyolali. Sehingga Boyolali menjadi kota kecil yang “seksi” , nyaman dikunjungi dan ditinggali siapapun tanpa memandang SARA. (*)
 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved