Opini

Opini Sholahuddin: Generasi Muda NU, Era Post Truth dan Tantangan 1 Abad NU

KEHIDUPAN sosial masyarakat saat ini dihadapkan pada fenomena post-truth, yaitu sebuah kondisi di mana masyarakat mengabaikan fakta-fakta dan etika-et

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Sholahuddin, SS, MA (Ketua PC Aswaja Center PCNU Jepara) 

Opini Ditulis Oleh Sholahuddin, SS, MA (Ketua PC Aswaja Center PCNU Jepara)

TRIBUNJATENG.COM - KEHIDUPAN sosial masyarakat saat ini dihadapkan pada fenomena post-truth, yaitu sebuah kondisi di mana masyarakat mengabaikan fakta-fakta dan etika-etika dalam berpendapat dan cenderung menyepakati hal-hal yang lebih dekat dengan keyakinan pribadinya. Gobber (2019, hal. 287) mengartikan post-truth sebagai keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk debat politik atau opini publik dibandingkan dengan menarik emosi dan keyakinan personal.

Post-truth merupakan kondisi/era ketika "fakta-fakta alternatif" menggantikan fakta aktual, dan perasaan memiliki bobot lebih tinggi dari bukti-bukti. Masyarakat post-truth cenderung mengabaikan metode berpikir dialektis-dialogis dan sistematis-filosofis, dan seakan lebih tertarik pada berita atau informasi yang menarik emosinya atau konten informasi tersebut dekat secara personal dengan mereka, tidak peduli apakah informasi tersebut merupakan informasi hoax (palsu) dan merupakan fitnah.

Kondisi post-truth cenderung menggiring kebenaran ke arah selera yang diinginkan kelompok masyarakat tertentu meskipun pada dasarnya hal ini tak mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya. Pada konteks dunia politik, Post truth diperparah lagi dengan munculnya politik identitas, hal ini dapat dilihat dalam proses pemilihan gubernur DKI Jakarta pada tahun 2018 lalu.

Penggunaan symbol-simbol agama dan ayat-ayat suci untuk kepentingan mendukung calon tertentu dalam pemilukada. Sehingga Basuki Cahaya Purnama atau yang kerap disapa dengan Ahok mendapatkan ganjaran 2 tahun penjara karena dianggap melecehkan ayat suci Al-qurán.

Artikel ini mengelaborasikan bagaimana tips yang perlu untuk dimiliki oleh generasi milenial NU dalam situasi post truth dan membuncahnya informasi yang begitu dahsyat seperti sekarang ini. Terlebih memasuki 1 abad, generasi muda NU ditantang untuk bisa menjawab berbagai persoalan bangsa dan keumatan dengan baik dan bijaksana.

Pentingnya Literasi

Umumnya para pelajar memahami literasi digital hanya sebagai kecakapan dalam memainkan internet dan media digital yang lainnya. Literasi digital bukanlah mengenai memainkan internet dan media digital, melainkan juga bagaimana seorang user (pengguna) mampu memainkan internet dan perangkat digital dengan bertanggungjawab.

Literasi digital menurut Paul Gilster adalah the ability to understand and use information in multiple formats from a wide variety when it is presented via computer. (literasi adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam format yang beragam dalam berbagai macam varietas ketika di presentasikan melalui media computer.

Sebagai seorang pemuda milenial NU perlu untuk mewarnai perkembangan teknologi informasi dan digital dewasa ini dan juga santri kita dapat menggunakan berbagai macam platform media online dewasa ini. Para siswa dan pemuda dapat menggunakan Youtube, Podcast, Instagram, Fb, Twitter dan lain sebagainya sebagai media aktualisasi dan medan jihad fi sabilil ilmi.

Ketika mengakses dunia maya, para pemuda milenial (IPNU-IPPNU) wajib mengetahui bagaimana ideologi atau pemahaman website-website yang ada dunia maya. Supaya terhindar dari paparan virus radikalisme dan juga terorisma.

Sebelum membagi berita kita diharuskan untuk menyaring berita tersebut. Apakah berita tersebut benar? Sesuai dengan fakta atau tidak. Langkah ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Allah SWT dalam Al-qur’an yang berbunyim wahai orang-orang yang beriman ketika datang kepada kalian semua orang fasiq dengan membawa sebuah berita ata kabar, maka memintalah penjelasan kepada mereka.

Nalar Kritis

Informasi yang datang kepada kita atau kita temukan di dunia maya tidak kemudian itu benar dan faktual. Oleh karena itu perlu saring atau filter dulu, sebelum informasi atau khabar dibagikan kepada yang lain. Tradisi ini menjadi penting supaya kita tidak menjadi bagian dari mata rantai hoax atau bohong. Memupuk nalar kritis menjadi hal yang urgent didalam suasana membuncahnya informasi seperti sekarang ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved