Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Opini Rizky Hening Saputri: Benarkah Konsumsi Coklat dapat Memicu Migrain?

MIGRAIN merupakan salah satu jenis nyeri kepala yang cukup sering ditemui di masyarakat. Di Indonesia data mengenai insidensi dan prevalensi migrain m

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Rizky Hening Saputri (Dokter Umum di RS Roemani Muhammadiyah Semarang) 

Opini Ditulis Oleh Rizky Hening Saputri (Dokter Umum di RS Roemani Muhammadiyah Semarang)

TRIBUNJATENG.COM -  MIGRAIN merupakan salah satu jenis nyeri kepala yang cukup sering ditemui di masyarakat. Di Indonesia data mengenai insidensi dan prevalensi migrain masih terbatas. Salah satu penelitian di RSUP H Adam Malik Medan tahun 2004 menyebutkan bahwa dari 55 orang yang berobat ke klinik dengan keluhan nyeri kepala sebanyak 6 orang (10 persen) mengalami migrain dan 49 orang (90 persen) lainnya mengalami tension type headache.

American Migrain Study, dalam penelitiannya mencatat prevalensi migrain pada wanita (18 persen) lebih tinggi daripada pria (6 persen) dengan insiden paling tinggi pada usia 15-24 tahun.

Gejala migrain ditandai dengan nyeri kepala yang sifatnya menusuk atau berdenyut. Nyeri dapat mengenai satu sisi namun tidak jarang mengenai kedua sisi juga terutama di bagian depan kepala dan sekitar bola mata.

Beberapa orang mengalami gangguan visual atau gangguan sensori yang mengawali nyeri kepala, seperti sensasi melihat kilatan cahaya, pelangi sampai telinga berdenging. Gejala awal tersebut biasa disebut aura.

Gejala penyerta yang mungkin dialami seperti mual, muntah, hilang nafsu makan sampai perubahan mood. Sampai saat ini masih banyak teori mengenai penyebab utama migrain, beberapa penelitian menyebutkan penyebab migrain erat kaitannya dengan faktor genetik.

Sementara itu, ada beberapa hal yang diketahui dapat memicu migrain, diantaranya : stres emosional (80 persen), hormon pada perempuan (65persen), tidak makan (57 persen), cuaca (53 persen), gangguan tidur (50 persen), bau-bauan (44 persen), nyeri leher (38 persencahaya (38 persen), alkohol (38 persen), asap rokok (36 persen), tidur larut (32 persen), panas (30 persen), makanan (27 persen), olahraga (22 persen), aktivitas seksual (5 persen).

Belum Terbukti

Salah satu jenis makanan yang sering dikaitkan dengan migrain adalah coklat. Coklat berasal dari biji tumbuhan Theobroma cocoa yang kemudian diolah menjadi bubuk coklat, bahan dasar olahan coklat. Di dalam coklat terdapat banyak jenis polifenol terutama flavonoid yang disebut flavonol.

Komponen aktif lainnya yang dapat kita temukan dalam coklat adalah methylxantin (kafein dan theobromine), serotonin dan tryptophan. Flavonol yang terdapat di dalam coklat diduga dapat meningkatkan aktivitas nitrit oksida yang kemudian dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah.

Selain itu serotonin diduga juga dapat menjadi pemicu terjadinya migrain, karena saat terjadi migrain neurotransmitter serotonin mengalami peningkatan. Namun hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut yang menjelaskan secara pasti keterlibatan kompenen aktif tersebut dapat menyebabkan migrain.

Sharon Tai dalam penelitiannya yang ditampilkan dalam Journal Research of Pain 2018, menjelaskan bahwa coklat dan kafein secara signifikan dapat memicu migrain daripada tension type headache pada responden di Asia Tenggara. Akan tetapi penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena menurut peneliti, etnik, kultur dan budaya juga memegang peranan penting dalam pemilihan variasi makanan dan diperlukan penelitian lebih lanjut yang mempelajari mekanismenya.

Beberapa studi provokatif gagal membuktikan bahwa coklat dapat memicu terjadinya migrain. Penelitian tersebut belum dapat menjelaskan senyawa aktif apa di dalam coklat yang dapat memicu migrain, karena ada beberapa senyawa kandungan coklat yang bermanfaat untuk mengatasi migrain.

Coklat diketahui mengandung banyak vitamin dan mineral seperti magnesium dan riboflavin yang baik untuk pencegahan migrain. Magnesium terbukti dapat bermanfaat meredakan nyeri kepala kronik sedangkan ribovlafin diketahui dapat bermanfaat untuk mengurangi migrain pada orang dewasa.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini teori konsumsi coklat dapat menyebabkan migrain belum dapat dibuktikan. Konsumsi coklat masih diperbolehkan dalam jumlah yang tidak berlebihan karena coklat merupakan makanan yang tinggi kalori, sehingga dapat menyebabkan obesitas serta kenaikan berat badan jika dikonsumsi lebih dari 30gr/hari. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved