Berita Kudus

Pelaku UMKM Saat Dhandangan di Kudus Raup Untung

Tiap harinya festival Dhandhangan semakin ramai hal tersebut menjadikan para pelaku UMKM di Kabupaten Kudus yang turut serta memeriahkan Dhandhangan.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ /Rezanda Akbar D. 
Suasana Penjual UMKM di Pasar Rakyat saat Tradisi Dhandangan 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Tiap harinya festival Dhandhangan semakin ramai hal tersebut menjadikan para pelaku UMKM di Kabupaten Kudus yang turut serta memeriahkan Dhandhangan meraup untung.

Tradisi berupa festival pasar rakyat yang biasanya mulai sebelum bulan Ramadan itu, menjadikan berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM

Walaupun sempat mandek selama tiga tahun lamanya, membuat tradisi Dhandhangan di Kabupaten Kudus kali ini penuh antusiasme masyarakat.

Tradisi itu juga tidak dinikmati oleh warga sekitar Kabupaten Kudus saja. Namun berbagai warga Jawa Tengah seperti Semarang, Pati, Rembang, Jepara, Demak dan sebagainya ikut turut menikmati pernak pernik pasar rakyat Dhandhangan.

Akibatnya, roda perekonomian sektor menengah kebawah bisa ikut bergeliat mengingat tahun 2023 ini masih bagian dari pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Satu diantara pedagang pakaian muslim, Mualif, mengaku mendapatkan profit yang tinggi saat berjualan di Pasar Rakyat Dhandhangan.

Hingga Sabtu (18/3/2023), pendapatan Mualif sudah bisa untuk menutup biaya sewa pasar Rakyat Dhandhangan yakni sekitar Rp3,5jutaan.

"Sangat bahagia dan sangat membantu, karena tiga tahun terakhir tidak ada Dhandhangan. Sangat membantu sekali buat saya yang berjualan pakaian Koko anak-anak dan dewasa," ucap pria ramah tersebut dengan sumringah.

Selama sepekan ini, penjualan di kios pakaian muslim miliknya ramai dikunjungi pembeli setiap harinya.

Dia juga berharap agar festival Dhandhangan ini tahun depan bisa digelar kembali tahun depan.

"Alhamdulillah penuh berkah sebelum bulan Ramadan, nyari rezeki sekaligus ngalap berkah eyang Sunan," tuturnya.

Sementara itu, Dinar Wulandari pengunjung pasar rakyat Dhandhangan sangat antusias mengunjungi tiap harinya. 

"Tiap harinya tidak bosen mengunjungi Dhandhangan, jalan-jalan sore lihat-lihat suasananya sama jajan dan belanja apalagi setelah tiga tahun baru ada lagi. Sangat amat antusias," katanya.

Selain itu, Dinar mengaku bahwa tidak banyak makanan yang dijual di tradisi ini. Contohnya seperti Intip Ketan kuliner yang muncul saat tradisi Dhandhangan saja.

"Kangen dengan tradisi ini, biasanya tiap tahun ada namun sekarang setelah tiga tahun baru ada karena kemarin Covid-19," ucapnya. (Rad)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved