Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Columbia asia

Kenali Gejala Serta Penanganan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Penyakit jantung dan pembuluh darah sebenarnya banyak sekali, yang paling sering adalah penyakit jantung koroner yang penyebabnya karena sumbatan di d

|
Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: galih permadi
IST
Kenali gejala serta penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut cara mengenali gejala dan penanganan penyakit jatung dan pembuluh darah menurut dr. Novi Anggriyani SpJP (K) dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan.

Acara talkshow ini kerjasama antara Tribun Jateng dan RS Columbia Asia, Semarang. 

Penyakit jantung dan pembuluh darah sebenarnya banyak sekali, yang paling sering adalah penyakit jantung koroner yang penyebabnya karena sumbatan di dalam pembuluh darah (disebut proses aterosklerosis).

Sedangkan penyakit pembuluh darah yang paling sering justru mengenai di bagian pembuluh darah vena. Vena adalah pembuluh darah balik, dan penyakit pembuluh darah vena yang paling banyak terjadi adalah varises.

Banyak orang awam yang keliru mengenai varises ini, jadi varises itu bukan penyakit kosmetik biasa, varises itu masuk ke dalam kelompok besar diagnosis bernama kronik venus insufiensi (Chronic Venous Insufficiency) yang artinya di dalam katub-katub vena harusnya menutup dengan sempurna, bila terjadi varises itu katub vena menjadi longgar sehingga darah akan turun lagi, terutama saat berdiri lama, karena pengaruh gravitasi, sehingga darah tidak bisa lancar kembali masuk ke jantung kanan.

https://youtu.be/c5O7n_IJBmI

Yang biasa masyarakat lihat seperti pembuluh darah yang berkelok-kelok seperti cacing, namun keluhan varises bukan dari penampilannya saja tetapi pasien mengeluh kakinya sering kram, terasa berat, bengkak, gatal, kulit menghitam dan keras, kemudian berjalan tidak kuat lama dan itu sangat mengurangi kualitas hidup pasien.

Bahkan varises itu dapat menimbulkan yang namanya venous ulcer atau borok. Varises terjadi bukan kareha kelebihan olahraga namun justru karena kurang olahraga.

Faktor risiko terjadinya varises justru posisi yang berdiri yang lama, malas bergerak, obesitas, makin bertambahnya usia, genetik, juga kehamilan.

Otot yang bagus otot yang bagian betisnya terlatih, karena rajin berjalan kaki dan berolahraga.

Gejala penyakit jantung

Penyakit jantung ada yang ditemukan pada anak-anak yaitu contohnya penyakit jantung bawaan, misal pasien tampak yang bibir & lidahnya tampak biru (sianosis) dan jari tabuh; ada juga penyakit jantung rematik yang artinya saat masih kecil terkena infeksi tenggorokan yang disebabkan suatu patogen mikroorganisme tertentu, yang bila tidak tertangani dengan baik, misa menimbulkan kakunya dan juga bocornya katub2 jantung.

Di Indonesia adalah gudangnya penyakit jantung rematik jadi katubnya banyak yang bocor, katubnya banyak yang kaku, biasanya pasien-pasien ini di usia muda dan datang dengan keluhan sesak nafas, kedua kaki bengkak dan lainnya.

Penyakit jantung lain juga bisa disebabkan karena listriknya ini biasanya pasien yang sudah tua, maka harus dipasang alat bantu (pacu jantung) agar detak jantung bisa kembali normal.

Penyakit jantung koroner faktor risikonya antara lain obesitas, makan banyak gorengan, santan, jeroan, hipertensi, diabetes. Makin banyak faktor risikonya, maka gejala penyakit jantung koroner makin berat.

Nyeri dada akibat penyakit jantung koroner ini salah satu cirinya adalah tidak bisa ditunjuk dengan satu jari, rasanya seperti di tindih benda berat, seperti diremas-remas kemudian keluar keringat dingin yang banyak.

Serangan jantung muncul bila frekuensi, internsitas dan lamanya nyeri dada makin sering dan berat.

Serangan jantung itu tidak boleh disepelekan, tidak boleh ditunda-tunda harus segera ke UGD karena untuk membedakan itu penyebabnya karena penyakit jantung atau bukan, Satu-satunya cara hanya dengan rekam jantung EKG, dengan segera dilakukan EKG, maka makin cepat penanganannya oleh dokter di IGD/ dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sehingga dapat mengurangi potensi kematian pasien tersebut.

Gejala penyakit pembuluh darah

Penyakit pembuluh darah ada juga mematikan namun tidak disangka- sangka bahkan petennis yang sangat legendaris Serena Williams pun pernah mengalami yang namanya pulmonary embolism berarti ada sumbatan di dalam pembuluh darah vena yang sangat besar dan akhirnya menutup pembuluh darah arteri pulmonal yang masuk ke jantung kanan dan gejalanya sesak nafas tiba-tiba, saat diperiksa saturasinya drop kemudian salah satu kaki ada yang bengkak besar berwarna kemerahan dan hangat (sumber dari PE yakni Deep Veins Thrombosis yang lepas).

Faktornya risikonya antara lain kekurangan protein C/ protein S, sedentary lifestyle, kanker, penggunaan pil KB dll.

Saat masa hamil resiko-resiko terkena sakit jantung atau pembuluh darah juga turut meningkat.

Ada penyakit jantung khusus pada kehamilan bernama peripartum cardiomyopathy itu salah satu penyakit jantung yang bisa sembuh karena saat hamil itu jantungnya membengkak kemudian pasien menjadi sesak nafas kemudian tensinya drop dan lainnya.

Namun apabila diketahui sejak awal dan di tangani dengan benar pasien tadi apabila mendapat resep yang cocok terhadap penyakit tersebut maka jantung itu bisa mengalami perbaikan lagi dan wanita tadi bisa sehat kembali.

Harus diberikan edujasi apabila hamil berikutnya akan ada resiko terjadi lagi sehingga biasanya pasien-pasien yang sudah pernah mengalami peripartum cardiomyopathy biasanya disarankan untuk tidak hamil lagi.

Kalau yang penyakit pembuluh darah arteri (Peripheral Arterial Disease) patofisiologinya sama dengan jantung koroner, penyebabnya gorengan, santan, jeroan dan lainnya.
Sedangkan penyakit pembuluh darah vena itu penyebab utamanya itu kurang gerak.

Kalau dulu waktu orang Indonesia kerjanya masih banyak pekerjaan kasar paling banyak jantung rematik tadi.

Namun sekarang karena Indonesia teknologi sudah meningkat dan banyak bekerja di kantor maka penyakit jantung koronernya tinggi sekali.

Tapi saya rasa kaum muda jaman sekarang bagus sekali trennya karena mereka rajin berolahraga rajin ngegym, rajin yoga dan lainnya saya rasa mudah-mudahan generasi muda kita sudah lebih awareness terhadap penyakit tersebut sehingga nanti mudah-mudahan seperti negara Jepang angka harapan hidupnya menjadi tinggi.

Karena di Indonesia terkenal negara yang paling malas jalan kaki atau bergerak.

Kalau yang covid-19 kemarin, covid-19 itu menyebabkan darah menjadi kental jadi pasien yang kakinya bengkak besar (DVT dan PE) itu pasca covid banyak sekali.

Karena venous thromboembolism tersebut dapat menyebabkan kematian maka harus di rawat inap dan di tangani secara benar dan cepat, kemudian harus di edukasi mengenai pola hidup yang baik.

Kalau pesepeda itu memang cuaca dapat mempengaruhi karena kalau terlalu panas terutama di Indonesia ini dapat terjadi yang namanya heat stroke.

Heat stroke itu pembuluh darahnya membuka besar sekali sehingga tensinya menjadi drop dan pasien tersebut biasanya pingsan.

Kalau pesepeda sebaiknya sudah sarapan dulu supaya ada energi jangan lupa minum yang banyak, jangan terlalu panas kemudian memakai atribut yang tepat.

Jika ingin bersepeda lakukan yang ringan dulu, lama-lama yang berat jadi jangan tiba-tiba yang berat.

Saya rasa olahraga sepeda sangat baik dilakukan asal pas porsinya.

Cara mendeteksi penyakit jantung

Untuk pemeriksaan penyakit jantung awal yakni EKG. 

Selain EKG ada juga x-photo thorax, untuk menilai jantungnya bengkak (cardiomegaly) atau tidak.

Kalau sudah ke spesialis jantung dan pembuluh darah biasanya dilakukan echocardiography (USG jantung), untuk pembuluh darah yakni usg vaskuler.

Kalau lebih spesifik lagi dilakukan CT scan vascular, kalau untuk melihat pembuluh darah koroner biasanya dilakukan penghitungan calcium score.

Lalu ada juga tanpa radiasi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik namanya MRI.

Kalau penyakit jantung koroner ada ahlinya namanya intervensionis biasanya dilakukan namanya percutaneous coronary angiography, itu nanti dilihat betul ada sumbatan atau tidak.

Kalau tidak signifikan biasanya tidak dilakukan pemasangan ring (stent), namun tetap diberikan edukasi, optimal medical therapy, perbaikan pola hidup.

 Terapi atau tata laksana Penyakit Jantung

Kalau penyakit jantung koroner selain minum obat, biasanya dilakukan pemasangan stent atau ring, apabila stenosis/ penyumbatannya signifikan.

Bila diperlukan operasi bypass, maka ada ahlinya yang disebut spesialis bedah kardio toraks vaskuler.

Kemudian untuk penyakit jantung bawaan sendiri karena teknologi saat ini sudah maju seperti penyakit yang kalau dindingnya misal berlubang (tidak menutup sempurna), sekarang ada sumpalnya, tanpa harus dibedah.

Penyakit jantung karena listrik juga ada ahlinya sendiri, disebut Electrophysiologist, contohnya dilakukan ablasi seperti di solder jantungnya.
Kemudian yang detak jantungnya lemah/ terlalu lambat, bisa dipasang pacu jantung.

Kalau untuk varises (chronic venous insufficiency) maka yang dilakukan yakni endovenous thermal ablation (paling sering menggunakan laser, bisa juga dengan radiofrequency, atau superglue).

Jadi itu pembuluh darah venanya dilakukan ablasi dengan laser sehingga pembuluh darah yang sudah tidak bagus nanti akan menutup dan alirannya akan mengalir lewat pembuluh darah vena lain yang masih sehat.

Tips terhindar dari penyakit

Sebaiknya kita menjaga selalu aktif, untuk tetap aktif itu sangat penting seperti contoh apabila ada lift kita pilih tangga baik untuk jantung dan pembuluh darah.

Jaga berat badan yang ideal, perbanyak sayur-sayuran buah-buahan tapi tolong agak menghindari yang kecut dan pedas, karena biasanya lambung kurang kuat dengan makanan yang kecut dan pedas.

Padahal obat-obatan untuk sakit jantung itu juga mempengaruhi lambung, sehingga dijaga makanan-makanan agar supaya tidak terlalu kecut dan pedas.

Mohon memeriksa diri secara reguler kepada dokter yang selama ini menangani kemudian melakukan medical check up karena mengetahui secara dini itu sangat penting dengan mengetahui secara dini maka resiko tadi bisa diturunkan.

Untuk minum obat-obatan jantung harus kontinyu seumur hidup, tentunya dibawah pengawasan dan kontrol dari dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.(*) 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved