Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Slawi

Buka Rakor Antisipasi Keterlibatan Peserta Didik Berperilaku Tercela, Ini Pesan Bupati Tegal Umi

Buka Rakor Antisipasi Keterlibatan Peserta Didik Dalam Perilaku Tercela, Bupati Tegal Umi Azizah: Harus Jadi Evaluasi Bersama 

Tayang:
Desta Leila Kartika
Bupati Tegal Umi Azizah, saat memberikan sambutan dan arahan di acara rapat koordinasi (rakor) antisipasi keterlibatan peserta didik dalam perilaku tercela tahun 2023 di Kabupaten Tegal. Berlokasi di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Rabu (29/3/2023). 

Di sisi hulu, ini yang Umi rasa sangat kompleks karena melibatkan banyak institusi untuk membangun pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan, termasuk keluarga itu sendiri. 

Sebab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke sekolah.

Menurut Umi, energi yang meledak-ledak dan waktu luang yang banyak di tengah fase pencarian jati diri atau kematangan emosi anak inilah yang harus diarahkan penyalurannya. 

Maka di sini upaya yang harus dilakukan adalah menciptakan ruang-ruang sosial, ruang ekspresi bagi anak dan remaja yang memadai. 

Baik di lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. 

Umi mendukung event hiburan, event kompetisi antar sekolah, antar komunitas hobi otomotif, musik, kesenian, olahraga dan sebagainya ini diperbanyak. 

"Melalui pendidikan karakter, kita bentuk generasi pelajar yang bermoral, cerdas dan rasional, inovatif dan suka bekerja keras, optimis dan percaya diri, serta berjiwa patriot. Pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan karakter, dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak baik dari ranah kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas dan spiritual, semuanya harus seimbang," tegas Umi. 

Masih di lokasi yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tegal, Akhmad Was'ari, menjelaskan tujuan diselenggarakan kegiatan rakor kali ini untuk meminimalisir atau bisa menghilangkan bentuk-bentuk perbuatan tercela yang dilakukan oleh para pelajar atau remaja. 

Adapun perbuatan tercela di sini yaitu seperti tawuran ataupun perang sarung yang kini mulai marak lagi. 

Namun dalam pelaksanaannya, Was'ari menyebut pihaknya tidak bisa berjalan sendiri melainkan harus melibatkan unsur lainnya termasuk organisasi kemasyarakatan, akademisi, psikolog, Kepolisian, dan lain-lain. 

Was'ari juga menuturkan, aksi tawuran atau perbuatan tercela yang dilakukan para pelajar dipicu oleh beberapa faktor di antaranya sikap kurang pengendalian, ingin menunjukkan identitas diri atau eksistensi, emosi yang masih labil, dan ada juga faktor eksternal. 

"Faktor eksternal yang mempengaruhi aksi tercela, di antaranya orangtua yang tidak peduli kapan anak pulang ke rumah. Dengan kata lain ada pembiaran dari orangtua, tidak ada kontrol dari mereka. Katakan anak biasa pulang sekolah jam 14.00 WIB, tapi sampai jam 16.00 WIB belum pulang tidak dicari bahkan sampai habis maghrib dibiarkan," ungkapnya. 

Selain itu, dikatakan Was'ari pantauan dari pihak sekolah juga sangat diperlukan. 

Sehingga belum lama ini, Dikbud Kabupaten Tegal bersama pihak sekolah sudah sepakat di titik tertentu bapak dan ibu guru atau pengajar memberikan tugas kepada siswa. 

"Media sosial juga menjadi salah satu pemicu terjadinya aksi tercela tawuran ataupun perang sarung. Karena banyak bertebaran video-video kekerasan ataupun hal buruk lainnya. Sehingga saya melihat kontrol dari orangtua juga sangat penting, terutama pemakaian telepon genggam yang harus sering dicek atau diperiksa, jangan acuh tak acuh dan harus lebih memperhatikan anak," terang Was'ari. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved