Breaking News
Jumat, 29 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Slawi

Buka Rakor Antisipasi Keterlibatan Peserta Didik Berperilaku Tercela, Ini Pesan Bupati Tegal Umi

Buka Rakor Antisipasi Keterlibatan Peserta Didik Dalam Perilaku Tercela, Bupati Tegal Umi Azizah: Harus Jadi Evaluasi Bersama 

Tayang:
Desta Leila Kartika
Bupati Tegal Umi Azizah, saat memberikan sambutan dan arahan di acara rapat koordinasi (rakor) antisipasi keterlibatan peserta didik dalam perilaku tercela tahun 2023 di Kabupaten Tegal. Berlokasi di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Rabu (29/3/2023). 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Terjadinya aksi tawuran dan perang sarung yang belakangan mulai marak lagi membuat keprihatinan semua pihak, sehingga pada kesempatan ini diadakan rapat koordinasi (rakor) antisipasi keterlibatan peserta didik dalam perilaku tercela di Kabupaten Tegal. Berlokasi di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Rabu (29/3/2023). 

Rakor dihadiri semua unsur terkait, di antaranya Bupati Tegal, Umi Azizah, Sekretarias Daerah, segenap unsur forkopimda, para kepala OPD, camat, pejabat Kemenag, para kepala sekolah, guru BK, pengurus pondok pesantren, dan lain-lain. 

Selain membuka rakor secara resmi, Bupati Tegal Umi Azizah, pada kesempatan ini selaligus menyampaikan aktivitas ibadah ramadhan seperti puasa, tarawih, tadarus, hingga pesantren kilat harus bergeser pada aksi tawuran remaja dan pelajar dengan perang sarung juga balap liar di malam atau pagi hari yang justru marak dan terjadi di banyak wilayah Indonesia. 

Di luar ramadan, aksi kekerasan seperti tawuran yang melibatkan remaja juga pelajar sudah sering terjadi, termasuk di Kabupaten Tegal.

Umi menyebut, kasus kekerasan antar remaja, antar pelajar sudah mengarah pada tindak pidana umum yang tentunya ini menjadi keprihatinan semua pihak. 

Kekerasan terus meningkat, karena tidak sedikit korbannya yang mengalami luka-luka hingga meninggal dunia akibat pukulan, tusukan atau sabetan benda tajam. 

Tawuran antar pelajar sekarang sudah menggunakan senjata tajam, sehingga pelakunya pun dapat langsung dijerat pasal pidana, sekalipun hanya memegang, membawa dan tidak menggunakannya. 

Jika ditelisik dari latar belakang juga pengakuan para pelaku tawuran, sambung Umi, upaya pencegahan menjadi tanggung jawab bersama. 

Sebab baik pelaku ataupun korban, terkecuali yang salah sasaran, kekerasan yang mereka lakukan ini sebenarnya hanya untuk gagah-gagahan. 

Hanya untuk mendapat pengakuan, menunjukkan eksistensi diri dan kelompok bahwa mereka yang paling hebat. 

"Fenomena ini harus menjadi evaluasi kita bersama, dari mulai institusi pendidikan, keagamaan, organisasi kemasyarakatan, penegak hukum, hingga institusi sosial paling kecil yaitu keluarga dan orangtua untuk membangun pendidikan karakter, membangun pola komunikasi efektif yang mampu menumbuhkan cinta kasih kepada anak," ujar Umi, pada Tribunjateng.com, Rabu (29/3/2023). 

Mendengar kesaksian para pelaku juga fenomena sosial yang berkembang di masyarakat, Umi memandang harus ada langkah cepat untuk melakukan pencegahan, penanggulangan dari hulu ke hilir. 

Di hilir, sanksi hukum yang tegas harus ditegakkan. 

Sebab, sekalipun mereka masih tergolong usia anak juga paham hukum. 

Hukuman mereka tidak akan berat karena masih terkategori anak, sehingga dari sisi hukum mereka merasa aman.

Di sisi hulu, ini yang Umi rasa sangat kompleks karena melibatkan banyak institusi untuk membangun pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan, termasuk keluarga itu sendiri. 

Sebab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke sekolah.

Menurut Umi, energi yang meledak-ledak dan waktu luang yang banyak di tengah fase pencarian jati diri atau kematangan emosi anak inilah yang harus diarahkan penyalurannya. 

Maka di sini upaya yang harus dilakukan adalah menciptakan ruang-ruang sosial, ruang ekspresi bagi anak dan remaja yang memadai. 

Baik di lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. 

Umi mendukung event hiburan, event kompetisi antar sekolah, antar komunitas hobi otomotif, musik, kesenian, olahraga dan sebagainya ini diperbanyak. 

"Melalui pendidikan karakter, kita bentuk generasi pelajar yang bermoral, cerdas dan rasional, inovatif dan suka bekerja keras, optimis dan percaya diri, serta berjiwa patriot. Pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan karakter, dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak baik dari ranah kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas dan spiritual, semuanya harus seimbang," tegas Umi. 

Masih di lokasi yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tegal, Akhmad Was'ari, menjelaskan tujuan diselenggarakan kegiatan rakor kali ini untuk meminimalisir atau bisa menghilangkan bentuk-bentuk perbuatan tercela yang dilakukan oleh para pelajar atau remaja. 

Adapun perbuatan tercela di sini yaitu seperti tawuran ataupun perang sarung yang kini mulai marak lagi. 

Namun dalam pelaksanaannya, Was'ari menyebut pihaknya tidak bisa berjalan sendiri melainkan harus melibatkan unsur lainnya termasuk organisasi kemasyarakatan, akademisi, psikolog, Kepolisian, dan lain-lain. 

Was'ari juga menuturkan, aksi tawuran atau perbuatan tercela yang dilakukan para pelajar dipicu oleh beberapa faktor di antaranya sikap kurang pengendalian, ingin menunjukkan identitas diri atau eksistensi, emosi yang masih labil, dan ada juga faktor eksternal. 

"Faktor eksternal yang mempengaruhi aksi tercela, di antaranya orangtua yang tidak peduli kapan anak pulang ke rumah. Dengan kata lain ada pembiaran dari orangtua, tidak ada kontrol dari mereka. Katakan anak biasa pulang sekolah jam 14.00 WIB, tapi sampai jam 16.00 WIB belum pulang tidak dicari bahkan sampai habis maghrib dibiarkan," ungkapnya. 

Selain itu, dikatakan Was'ari pantauan dari pihak sekolah juga sangat diperlukan. 

Sehingga belum lama ini, Dikbud Kabupaten Tegal bersama pihak sekolah sudah sepakat di titik tertentu bapak dan ibu guru atau pengajar memberikan tugas kepada siswa. 

"Media sosial juga menjadi salah satu pemicu terjadinya aksi tercela tawuran ataupun perang sarung. Karena banyak bertebaran video-video kekerasan ataupun hal buruk lainnya. Sehingga saya melihat kontrol dari orangtua juga sangat penting, terutama pemakaian telepon genggam yang harus sering dicek atau diperiksa, jangan acuh tak acuh dan harus lebih memperhatikan anak," terang Was'ari. 

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tegal, Ipda Hendra Wijaya, menambahkan aksi yang dilakukan oleh para pelajar atau remaja ini baik tawuran dan perang sarung bukan lagi menjadi fenomena karena kejadian serupa sudah pernah terjadi dua tahun lalu. 

Tinggal bagaimana semuanya peduli dan betul-betul bisa bekerjasama mengawasi dan membatasi anak-anak dari aktivitas atau kegiatan yang tercela. 

Bahkan Ipda Hendra menyarankan untuk bisa melemahkan komunikasi, atau dalam hal ini batasi, awasi, dan lemahkan pemakaian media sosial (medsos) nya. 

"Dari pandangan kami pihak kepolisian, anak-anak, pelajar atau remaja ini bukan hanya sekedar didoktrin, tapi bisa disebut sudah keracunan pandangan, ajakan-ajakan yang sifatnya menjerumuskan. Sehingga benar-benar butuh peran semuanya untuk bisa menjaga dan mencegah supaya tidak terjadi lagi, terutama peran paling penting yaitu orangtua, kakak, sepupu, keluarga besar, dan sekolah," imbuhnya. (dta) 

Baca juga: Penjelasan Erick Thohir Setelah FIFA Copot Indonesia Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Besok di Pati, Ramadhan Hari Ke-8, Kamis 30 Maret 2023

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Besok Kabupaten Blora, Ramadan Hari ke-8, Kamis 30 Maret 2023

Baca juga: Daftar Nama dan Organisasi Tolak Timnas Israel Hingga Indonesia Batal Gelar Piala Dunia U-20

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved