PDIP Masih Cermati Potensi Cawapres untuk Ganjar
nama-nama yang berpotensi sebagai cawapres yakni Sandiaga Uno, Erick Thohir, Mahfud MD, Ridwan Kamil, Cak Imin, hingga Airlangga Hartarto.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto partainya langsung melakukan pencermatan soal nama-nama yang berpotensi sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Ganjar Pranowo.
Nama-nama itu antara lain adalah yang turut disebut oleh Presiden Jokowi, usai salat Idulfitri di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Sabtu (22/4) lalu.
Di antaranya yakni Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno; Menteri BUMN, Erick Thohir; Menkopolhukam, Mahfud MD; Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin; serta Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.
Ia pun akan terus melaporkan perkembangan situasi politik terkait dengan cawapres Ganjar kepada Megawati Soekarnoputri.
"Itu semua menjadi pencermatan secara dinamis dari DPP PDIP. Setiap hari kami laporkan berbagai dinamika politik kepada Ibu Mega," terangnya, di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin (24/3).
Adapun, Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira mengungkapkan, partai berlambang kepala banteng moncong putih memerlukan pertimbangan yang matang dalam memilih dan mempersiapkan cawapres untuk Ganjar.
Ia berujar, PDI Perjuangan tidak ingin terburu-buru dalam menentukan cawapres.
"Untuk cawapres perlu pertimbangan yang matang, perlu persiapan, dan seperti yang disampaikan oleh Sekjen PDIP, untuk cawapres ini tidak harus terburu-buru," tuturnya, dalam tayangan Program 'Sapa Indonesia Pagi' Kompas TV, Selasa (25/4).
Andreas menyebut, diperlukan adanya pendekatan dan pengenalan dalam menentukan cawapres untuk Ganjar. Tak hanya itu, pemilihan ini tidak bisa dilakukan dengan paksaan, karena akan berpengaruh pada chemistry pasangan capres-cawapres tersebut.
Ia menilai, ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih cawapres. Di antaranya ada faktor dari dalam atau internal, yakni bagaimana chemistry antara Ganjar dengan pasangan cawapresnya.
Karena, dia menambahkan, chemistry itu tak hanya penting dibangun selama proses pilpres, tapi juga di saat setelah mereka menang pilpres dan menjadi pemimpin negara.
"Dalam arti perlu ada pendekatan, pembicaraan, istilahnya Pak Sekjen kan ada masa perkenalan, jangan dikawin paksa. Kalau saya perhatikan itu ada dua faktor," ucapnya.
"Kalau faktor ke dalam itu tadi, bagaimana chemistry itu harus dibangun, baik dalam pilpres nanti maupun ketika mereka memimpin negara, setelah memenangkan pilpres nanti," bebernya.
Faktor kedua yakni faktor dari luar atau eksternal, Andreas mengungkapkan, yakni memonitor perkembangan yang terjadi di masyarakat terkait dengan chemistry kedua pasangan calon tersebut.
Ia menegaskan, chemistry itu menjadi penting, karena akan menjadi satu faktor kemenangan dalam ajang pilpres 2024.
"Kemudian yang kedua, faktor yang ada di luar, yaitu memonitor perkembangan yang terjadi di masyarakat, yang berkaitan dengan chemistry kedua calon ini. Sehingga saya kira ini penting, karena ini akan menjadi faktor untuk kemenangan pilpres nanti," tukasnya. (Tribunnews/Faryyanida Putwiliani/Fransiskus Adhiyuda Prasetia)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Hanyak-6000-lebih-tamu-dari-seluruh-Indonesia-hadir-dalam-acara-itu.jpg)