Berita Jepara

Warga Jepara Antusias Ikuti Tradisi Lomban, Pj Bupati: Ini Harus Dilestarikan

Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta mengungkapkan tradisi Lomban atau juga disebut syawalan harus terus dilestarikan

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: muslimah
Tribun Jateng/ Muhammad Yunan
Pelarungan kepala kerbau di tengah laut Jepara pada Pesta Lomban, Sabtu (29/4/2023). Kepala kerbau ditempatkan di miniatur kapal bertuliskan Joko Samudro 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta mengungkapkan tradisi Lomban atau juga disebut syawalan harus terus dilestarikan.

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan dari para leluhur terdahulu. Ada makna tersembunyi di balik pelaksanaan tradisi ini.

Tradisi ini, kata dia, wujud syukur masyarakat pesisir atas limpahan rezeki. Selain itu juga tradisi ini juga wujud doa meminta keselamatan dan kelancaran rezeki.

"Tradisi ini harus kita jalankan (lestarikan)," kata dia saat tiba di Pantai Kartini usai melarung kepala kerbau, Sabtu (29/4/2023).

Pelarungan ini diikuti ratusan warga pesisir Jepara, kebanyakan nelayan, mengikuti proses pelarungan kepala kerbau di Pesta Lomban 2023.

Baca juga: Fakta Pengemis Kaya yang Punya Cek Rp 1,3 Miliar dan 3 Kendaraan, 2 Tahun Lalu Pernah Ditangkap

Baca juga: Rekaman CCTV Wanita Terjatuh dari Lift Bandara Kualanamu, Jasadnya Ditemukan 3 Hari Kemudian

Mereka mengendarai perahu atau kapal masing-masing.

Ini merupakan tradisi mereka setiap bulan Syawal.

Mereka selalu mengikuti Pesta Lomban. Para nelayan itu mengiringi keberangkatan kapal pengangkut kepala kerbau itu menuju ke tengah-tengah laut Jepara.

Kapal pengangkut kerbau itu ditumpangi jajaran pejabat Kabupaten Jepara, mulai dari pj bupati, sekda, kepala dinas, kapolres, dandim.

Setelah tiba di tengah-tengah laut, jajaran Forkopimda melarung kepala kerbau yang diletakkan di miniatur kapal.

Lalu, para nelayan langsung mencebur ke laut untuk berebut sesaji.

Beberapa nelayan yang masih di kapal langsung mengambil air laut dengan ember kecil kemudian mengguyur beberapa bagian badan kapal. 

Hal tersebut diyakini para nelayan untuk mengharap keberkahan, keselamatan, dan kelancaran rezeki.

Setelah usai melarung sebagian nelayan balik ke daerah masing-masing. (*)

Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved