Berita Semarang

Rombongan Bhiksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand ke Candi Borobudur Bakal Singgah di Semarang

Rombongan 32 bhiksu atau bhikku yang melakukan tradisi bhikkhu thudong (bhikkhu hutan)  bakal mampir di kota Semarang

Penulis: iwan Arifianto | Editor: muslimah
KOMPAS.com/JOY ANDRE T
Salah seorang biksu yang memberi salam kepada warga saat mereka melintas di Jalan Teuku Umar, Telaga Asih, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jumat (12/5/2023). Adapun tujuan akhir dari perjalanan biksu itu adalah Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah untuk merayakan Hari Raya Waisak di tanggal 4 Juni mendatang. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Rombongan 32 bhiksu atau bhikku yang melakukan tradisi bhikkhu thudong (bhikkhu hutan)  bakal mampir di kota Semarang.

Para bhikku dari berbagai negara tersebut melakukan jalan kaki dari Thailand menuju ke Borobudur Magelang, melewati empat negara.

Para bhikkhu ini berjalan kaki dalam rangkaian merayakan Waisak 2023 atau 2567 BE pada 2 Juni mendatang.

Baca juga: 32 Bhiksu Lakukan Thudong, Jalan Kaki Lintasi 4 Negara Menuju Candi Borobudur, Makan Sekali Sehari

Diprediksi para bhikkhu tiba di kota lumpia antara Sabtu, 27 Mei atau Minggu 28 Mei tergantung pada perkembangan terkini perjalanan mereka. 

Para bhikkhu nantinya akan bermalam di Wihara Adi Dharma, Kota Semarang.

Keesokan harinya, mereka menuju Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bukit Kassap, Banyumanik, Kota Semarang.

"Para bhikkhu thudong akan menerima dana pindapata makan siang dilanjutkan upacara pemberkahan Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti, dan bersilahturahmi dengan masyarakat Kota Semarang," ucap Sekretaris Pengurus Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Santiphala Wahyudi kepada Tribunjateng.com, Senin (15/5/2023).

Aktivitas umat Buddha di Wihara-Sima 2500 Buddha Jayanti di hutan kota Bukit Kassapa, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang.
Aktivitas umat Buddha di Wihara-Sima 2500 Buddha Jayanti di hutan kota Bukit Kassapa, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang. (Dok Wihara-Sima 2500 Buddha Jayanti)

Masyarakat kota Semarang dapat berinteraksi dengan para bhikkhu thudong di Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti.

Bahkan, panitia telah mengundang berbagai umat agama lain di antaranya saudara pemeluk Islam dari Masjid Nurul Iman, Pudakpayung, Persaudaraan Lintas Agama, umat Gereja GPDI Banyumanik, dan unsur  lainnya.

"Iya hadir pula perwakilan pemerintah daerah, tokoh lintas agama dan budaya. Kegiatan itu supaya masyarakat dapat mengenal tradisi bhikkhu thudong. Serta semaksimal meningkatkan semangat kebhinekaan di Indonesia," imbuh Wahyudi.

Thudong adalah ritual perjalanan dengan cara berjalan kaki yang dilakukan oleh para bhikkhu/bhiksu.

Istilah thudong berasal dari bahasa Thailand. Secara harafiah, kata 'thudong' diartikan sebagai 'sarana untuk melepaskan diri.'

Kegiatan thudong merujuk pada praktik pertapaan ekstrem yang diizinkan Sang Buddha untuk murid-muridnya.

Selain berjalan kaki, ritual lain yang disebut thudong juga termasuk makan satu kali sehari, tidak berbaring, hanya mengenakan jubah yang terbuat dari potongan kain yang dibuang, dan berteduh hanya di pohon.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved