Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Opini Dr. Aloys Budi Purnomo Pr: Memulihkan Harmoni Ekologis

UMAT Kristiani merayakan Kenaikan Yesus Kristus ke surga, tanggal 18 Mei 2023. Apa makna ritual liturgis ini dalam konteks merawat Bumi, rumah bersama

Editor: m nur huda
Bram Kusuma
Aloys Budi Purnomo 

Opini Ditulis Oleh Dr. Aloys Budi Purnomo Pr (Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata)

TRIBUNJATENG.COM - UMAT Kristiani merayakan Kenaikan Yesus Kristus ke surga, tanggal 18 Mei 2023. Apa makna ritual liturgis ini dalam konteks merawat Bumi, rumah bersama yang hancur karena ditimpa krisis ekologi yang tak kunjung henti ini?

Senyampang merenungkan peristiwa iman Kristiani Kenaikan Kristus ke surga, saya ingat satu pesan keprihatinan ekologis yang disampaikan seorang metafisikawan Muslim, Seyyed Hossein Nasr. Dalam bukunya Religion & the Order of Nature (1996:3) Nasr menulis, “The Earth is bleeding from wounds inflicted upon it by a humanity no longer in harmony with Heaven and therefore in constant strife with the terrestrial environment.” Bumi berdarah dari luka-luka yang ditimbulkan oleh umat manusia yang tidak lagi selaras dengan Surga dan karena itu dalam perselisihan terus-menerus dengan lingkungan tanah dan seisinya.

Keprihatinan Nasr menginspirasi saya saat merenungkan kenaikan Kristus ke surga dalam perspektif pemulihan relasional Surga dan Bumi sebagai harmoni ekologis. Nasr sendiri, enam tahun sebelumnya sudah mengingatkan, sebagai sesama pewaris iman Abraham, tradisi Islam dan Kristianitas seharusnya dapat saling memperkaya satu terhadap yang lain demi pemulihan alam dari krisis yang sedang menimpa Bumi (Nasr, 1990).

Harmoni ekologis

Titik temu antara keprihatinan dan refleksi akademis Nasr dengan permenungan tentang kenaikan Kristus ke surga terletak pada harapan terwujudnya harmonis ekologis. Iman Kristiani mengajarkan, kehadiran Yesus Kristus di Bumi dan kenaikan-Nya ke Surga merupakan puncak kepenuhan harmoni ekologis tersebut. Tangan kasih Allah yang memberkati yang tercermin dalam kehidupan Yesus Kristus menyertai manusia dalam perjalanan hidup menuju surga, apa pun agama dan kepercayaannya.

Dalam iman Kristiani, semua makhluk alam semesta di Bumi ini menemukan makna sejatinya dalam Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, yang telah menyatukan dalam diri-Nya sebagian dari dunia dan Ia memasukkan ke dalam dunia materi benih transformasi abadi. Kristianitas tidak menolak materi, kejasmanian, yang justru dihargai sepenuhnya dalam tindakan liturgis, di mana tubuh manusia menunjukkan sifatnya yang terdalam sebagai bait Roh Kudus dan disatukan dengan Tuhan Yesus, yang telah mengenakan tubuh demi keselamatan dunia (John Paul II, Ecclesia de Eucharistia, 17 April 2003, no 8).

Demi terwujudnya harmoni ekologis, kelirulah bila manusia memandang makhluk hidup lainnya sebagai objek belaka yang harus tunduk kepada kekuasaan manusia yang sewenang-wenang. Ketika kita memandang alam semesta sebagai sekadar objek laba dan kepentingan ekonomis, hal itu menimbulkan konsekuensi serius bagi masyarakat manusia. Kesewenang-wenangan penguasa dan pengusaha korup eksploitatif telah menimbulkan ketidaksetaraan, ketidakadilan dan kekerasan luar biasa bagi sebagian besar umat manusia.

Akibatnya, cita-cita harmoni, keadilan, persaudaraan dan perdamaian yang ditawarkan Kristus selalu berkebalikan dari model itu. Itulah sebabnya, dengan tegas Yesus Kristus bersabda, “Penguasa-penguasa bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20: 25-26).

Demi terwujudnya harmoni ekologis, semua makhluk bergerak maju bersama-sama menuju titik akhir yang sama, yakni Allah Sang Pencipta dalam kepenuhan transenden. Dalam arti itulah, kenaikan Yesus Kristus merangkul dan menerangi segala sesuatu untuk harmoni ekologis. Manusia yang diberkati dengan kecerdasan dan cinta, serta ditarik kepada kepenuhan-Nya, dipanggil untuk mengantar semua makhluk kembali kepada Pencipta mereka hingga terjadilah pemulihan Surga dan Bumi melalui kehidupan manusia yang adil, ramah, peduli pada keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Rekonsiliasi ekologis

Karenanya, seperti diprihatinkan Nasr, bahwa Surga dan Bumi telah berdarah dan terluka, maka, diperlukanlah pemulihan. Pemulihan itu dapat terjadi, melalui rekonsiliasi ekologis. Artinya, manusia dipanggil untuk membiarkan seluruh buah perjumpaannya dengan Sang Pencipta berkembang dalam hubungan mereka dengan dunia di sekitarnya.

Dalam arti ini, seruan yang disampaikan Paus Fransiskus agar manusia menghayati panggilannya untuk melindungi karya Allah sebagai bagian terpenting dari kehidupan yang saleh sangatlah relevan (Pope Fracis, Laudato Si’, 24 Mei 2015, 217). Panggilan itu bukan sesuatu yang opsional atau aspek sekunder dalam pengalaman Kristiani melainkan suatu kewajiban yang seharusnya dilakukan.

Harmoni ekologis dalam hubungan yang sehat dengan dunia ciptaan merupakan salah satu dimensi rekonsiliasi ekologis manusia yang seutuhnya. Ini berarti pula manusia berani mengakui kesalahan, segala dosa, kejahatan atau kelalaiannya yang telah merusak lingkungan, dan bertobat dengan sepenuh hati, berubah dari dalam lubuk hati (LS 218).

Untuk mencapai rekonsiliasi ini, manusia harus memeriksa hidupnya dan mengakui bagaimana manusia telah membawa kerugian kepada ciptaan Allah melalui tindakan-tindakannya dan kegagalannya untuk bertindak merawat Bumi. Itulah makna dasar dari rekonsiliasi ekologis yang menjadi tantangan kita bersama.

Hanya dengan cara itu, cita-cita umat Katolik selama masa Prapaskah dan Paskah 2023 untuk tinggal dalam Kristus demi menghadirkan damai bagi sesama dan semesta dapat diwujudkan. Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus bagi yang merayakannya! (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved