Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Air Mata Biksu Thudong

Para Biksu yang tengah melakukan ritual thudong menangis. Cerita tentang air mata para biksu thudong ini diungkapkan oleh Bhante Wawan. Dia adalah bik

Penulis: muslimah | Editor: m nur huda
tribun jateng
Wartawan Tribun Jateng, Muslimah 

TRIBUNJATENG.COM - Para Biksu yang tengah melakukan ritual thudong menangis. Cerita tentang air mata para biksu thudong ini diungkapkan oleh Bhante Wawan. Dia adalah biksu asal Cirebon Indonesia yang terlibat pejalanan thudong sejak dari Thailand.

Menurut bhante Wawan, para biksu peserta thudong kaget. Mereka kehabisan kata-kata dan tak bisa menahan air mata dengan keramahtamahan warga Indonesia yang menyambutnya. Bukti toleransi kehidupan beragama di Indonesia juga luar biasa. Itu berbeda dengan cerita yang mereka dengar di luar selama ini.

"Kata mereka, cuma di Indonesia masyarakatnya begitu antusias," imbuh Bhante Wawan. Jika ditanya berapa jari untuk menilai sambutan warga Indonesia? jawabannya 20 jari karena termasuk jari kaki juga mereka angkat.

Para biksu ini memang telah melintasi banyak negara. Karena bukan kali ini saja ritual thudong mereka lakukan. Sebelumnya mereka melakukan ritual thudong dengan tujuan berbagai negara. Namun baru kali ini para biksu melintasi Indonesia, bahkan menjadikan negara ini sebagai tujuan.

Thudong seperti dikatakan Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Supriyadi adalah perjalanan spiritual atau religi yang dilakukan untuk mengikuti jejak Buddha. Caranya dengan berjalan kaki sambil melakukan perenungan. Para bhante, bhikkhu, atau biksu akan berjalan, bahkan hingga masuk hutan, demi memenuhi darma atau kewajiban mereka.

Sebelum melakukan perjalanan, para biksu harus berdiam diri di satu tempat dan puasa selama empat bulan. Puasa ini dilakukan pada musim hujan. Kemudian, saat sudah kemarau atau musim semi, mereka melakukan thudong.

Selama perjalanan para biksu tidak membawa bekal. Mereka akan menerima makanan dari umat Buddha dalam perjalanan. Tradisi memberikan makanan tersebut diberi nama pindapata.

Tudong kali ini awalnya diikuti 54 biksu. Namun cuaca ekstrem membuat sejumlah biksu mundur. Dan yang kini masih bertahan berjumlah 32 orang. Perjalanan dimulai dari Nakhon Si Thammarat, Thailand pada 23 Maret 2023 lalu, dengan tujuan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Para biksu direncanakan bisa tiba di Magelang tanggal 1 Juni 2023 untuk mengikuti serangkaian acara perayaan Waisak yang tahun ini jatuh di tanggal 4 Juni.

Para Biksu melintasi empat negara yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia, dengan jarak sekitar 2.600 kilometer. Mereka tiba di Indonesia pada 8 Mei 2023 dan kini perjalanan sudah sampai di Jawa Tengah. Mereka memasuki Losari Brebes, lanjut ke Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Jumat (26[5/2023) kemarin mereka sampai di Batang. Perjalanan akan lanjut melewati Kendal, Semarang, Ambarawa hingga sampai di Magelang.

Selama di Indonesia, 32 biksu ini memang mendapat banyak perhatian. Foto-foto mereka hadir di media sosial dan pemberitaan berbagai media. Di setiap lokasi yang disinggahi, para biksu mendapat sambutan meriah. Warga antusias memberikan hasil bumi kepada mereka berupa makanan, minuman dan buah-buahan.

Bukan itu saja, para biksu saat tiba di Pekalongan sempat menginap di Kanzus Sholawat Habib Luthf. Tentu ini wujud tolerasi umat beragama yang sangat indah.

Menjelang berakhirnya perjalanan para biksu di Magelang, kita berharap semua berjalan lancar, aman dan meriah. Hingga saat mereka sudah kembali ke negara masing-masing, para biksu ini akan selalu mengenang Indonesia sebagai negara yang indah, penduduknya ramah-tamah penuh toleransi. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved