Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kasus Inses di Purwokerto

Apa Itu Inses? Kasus Viral di Purwokerto dan Bukittinggi

Apa itu inses? Kasus yang baru-baru ini viral terjadi di Purwokerto dan Bukittingi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: non | Editor: galih permadi
Grid/unsplash.com/Artemi Shaman
Apa Itu Inses? Kasus Viral di Purwokerto dan Bukittinggi 

Apa Itu Inses? Kasus Viral di Purwokerto dan Bukittinggi

TRIBUNJATENG.COM - Apa itu inses? Kasus yang baru-baru ini viral terjadi di Purwokerto dan Bukittingi.

Belum lama ini viral kasus inses di Bukittingi, Sumatera Barat dan Purwokerto, Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar dalam sosialisasi di rumah dinasnya, Rabu (21/6/2023)

Seorang pemuda melakukan inses dengan ibu kandungnya, kini pemuda tersebut sedang dikarantina di pusat rehabilitasi IPWL Agam Solid.

Baca juga: Kondisi Kejiwaan Anak Kandung Rudi yang Lahirkan 7 Kali Bayi Hasil Inses dengan Bapak di Purwokerto

Baca juga: Isi Bisikan Spiritual yang Jadi Alasan Rudi Inses dengan Anak dan Bunuh 7 Bayinya di Purwokerto

IPWL Agam Solid atau yang juga dikenal LSM Ganggam Solidaritas itu, merupakan binaan langsung di bawah Kementerian Sosial.

Melansir Tribun Padang, Ketua IPWL Agam Solid, Sukendra Madra mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkarantina pemuda tersebut.

Sukendra menilai, pemuda itu nekat inses dengan ibunya, disebabkan oleh kecanduan zat adiktif serupa lem dan narkotika.

Saat dilakukan pengecekan, pemuda tersebut positif narkotika jenis sabu-sabu dan pernah juga konsumsi ganja.

Namun, yang paling rutin dipakainya adalah lem yang merusak saraf sensorik otak pemuda tersebut.

Sedangkan di Purwokerto kasus inses anak perempuan dengan ayahnya terungkap seusai penemuan 4 kerangka bayi.

Dari kesaksian warga, E, ibu dari empat kerangka itu ternyata sudah melahirkan sejak usia 14 tahun. 

Tulang belulang bayi tersebut ditemukan dalam kondisi terbungkus kain dan terpendam di kedalaman 50 cm di kebun milik Prasetyo Tomo (42) warga Kelurahan Tanjung, Kecamatan Purwokerto, Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Saat itu saksi mata, Slamet (50) diminta pemilik tanah untuk menggali tanah untuk menguruk bekas kolam ikan yang ada di dekatnya.

Lalu Slamet diminta oleh Prasetyo untuk menghentikan pekerjaan dan pemilik tanah kemudian melapor ke polisi.

Polisi kemudian menyisir lokasi tersebut dan kembali menemukan tiga kerangka bayi. 

Apa Itu Inses? 

Inses adalah hubungan seks di antara dua lawan jenis yang memiliki hubungan darah/keluarga sangat dekat. 

Inses terjadi misalnya hubungan seks antara kakek dengan cucu atau ayah dengan anak kandung perempuan atau ibu dan anak laki-laki atau di antara kakak-beradik sekandung.

Inses umumnya dianggap tabu dalam banyak budaya dan masyarakat dan secara hukum dilarang di banyak negara.

Larangan inses sebenarnya sangat terkait dengan atribusi biologis yang menyatakan hubungan seksual antara pasangan sedarah akan membahayakan kondisi keturunan.

Penelitian modern membuktikan, kematian, retardasi mental, dan cacat bawaan pada anak yang dilahirkan sebagai hasil hubungan inses sangat tinggi.

Bentuk umum yang sering terjadi adalah hubungan inses antara kakak laki-laki dan adik perempuan yang antara lain dipicu rendahnya kualitas tatanan moral dalam keluarga.

Atau eksperimen seksual yang karena kebutuhan pemenuhan rasa ingin tahu tentang seks dan seksualitas di antara saudara sekandung berlawanan jenis, dalam kisaran usia remaja mula.

Kondisi sosial ekonomi yang rendah pun membuat keluarga mengalami keterbatasan kamar tidur sehingga memaksa mereka harus berbagi kamar dengan saudara sekandung berlawanan jenis. 

Kondisi tersebut akan membuka peluang terjadinya hubungan inses.

Hal yang sangat memprihatinkan adalah bila terjadi pengalaman inses, konsekuensi traumatis justru akan lebih dialami remaja perempuan yang terlibat yang di kemudian hari berkembang menjadi rasa salah berkepanjangan pada diri mereka. (*)

Mereka kemungkinan besar akan memiliki sikap negatif terhadap seksualitas yang pasti merugikan kesejahteraan mental mereka di kemudian hari. Andaikan akhirnya mereka bisa toleran terhadap perasaan bersalah, tetapi cepat atau lambat mereka akan mengetahui perilaku inses sangat dilarang oleh lingkungan masyarakat mereka.

Pemahaman tersebut tentu saja akan memicu perkembangan perasaan rendah diri berkepanjangan pula. Apalagi bila kemudian mereka menyadari selaput daranya sudah tidak utuh oleh hubungan inses tersebut.

Praktik inses memiliki konsekuensi yang serius dan kompleks, baik dari segi etika, moral, psikologis, maupun genetik. Secara genetik, perkawinan dalam keluarga yang memiliki ikatan darah dekat dapat meningkatkan risiko kelainan genetik dan cacat bawaan pada keturunan.

Tampang Rudi alias R (pakai penutup kepala) saat digelandang ke Satreskrim Polresta Banyumas, Jawa Tengah, Senin (26/6/2023). Rudi melakukan inses dengan anak kandungnya. 7 bayi hasil hubungan terlarang ia bunuh.
Tampang Rudi alias R (pakai penutup kepala) saat digelandang ke Satreskrim Polresta Banyumas, Jawa Tengah, Senin (26/6/2023). Rudi melakukan inses dengan anak kandungnya. 7 bayi hasil hubungan terlarang ia bunuh. (FADLAN MUKHTAR ZAIN)

Curhat Korban

Curahan hati korban hubungan sedarah (inses), E (26) yang melahirkan 7 anak dari ayah kandungnya terungkap.

E terpaksa harus melayani nafsu bejat ayahnya, Rudi (57), karena di bawah ancaman senjata tajam.

Bahkan saat melakukan perbuatan itu pun, E tak bisa menikmatinya.

Piskolog UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Pemkab Banyumas, Rahmawati Wulansari mengatakan, awalnya E sempat diancam menggunakan golok saat menolak berhubungan dengan ayahnya.

"Memang benar ada ancaman ketika (ayahnya) mengajak dan ditolak. Dia bilangnya 'dipapag ngangge bendo' (dihalangi dengan golok). Sehingga mau tidak mau melakukan dengan ayah kandung," kata Rahmawati saat pers rilis di Mapolresta Banyumas, Selasa (27/6/2023).

Rahmawati mengatakan, kondisi psikologis E saat kali pertama melakukan itu dengan ayahnya pasti terganggu.

Apalagi saat itu E masih di bawah umur.

"Kalau melihat kondisi kejiwaannya pada 2013 tentu saya bisa membayangkan betapa dia sangat tertekan. Itu sangat mengagetkan, pertama kali melakukan dan kebetulan ayah sendiri," ujar Rahmawati.

Namun E tidak punya pilihan lain, termasuk ibunya karena sama-sama mendapat ancaman hingga melahirkan anak pertama pada tahun 2013.

Hubungan dan ancaman itu juga terus berulang hingga melahirkan anak ke tujuh pada 2021 lalu.

Kepada Rahamati, E mengatakan sebetulnya tidak menikmati hubungan tersebut.

"Dia bilang 'saya tidak menikmati, tapi saya tidak punya pilihan. Jadi ya sudah lah melayani kebutuhan biologis ayah, melayani ayah makan'," kata Rahmawati.

E juga tetap hidup dengan ayahnya di sebuah gubuk, meski kata Rahmawati, E punya kesempatan melakukan banyak hal di luar sana.

"Mungkin di awal saya prediksi pasti trauma, tapi lama-kelamaan tidak ada pilihan untuk terus melakukan sampai tujuh kali," ujar Rahmawati.

Menurut Rahmawati, saat ini psikologis E dalam kondisi baik.

"Pada pertemuan pertama saya melihat dalam kondisi psikologis yang stabil, tidak ada tekanan, ketegangan atau kecemasan," kata Rahmawati.

Diberitakan sebelumnya, sampai saat ini polisi menetapkan E sebagai saksi korban kasus inses dan pembunuhan tujuh bayi.

Bayi-bayi tersebut dibunuh sesaat setelah dilahirkan dan dikubur di kebun tempat tinggal mereka di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan. (*)

Baca juga: Pertama Kali Bapak Inses Dengan Anak di Purwokerto Acungkan Golok, E Tertekan

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved