Puisi
Puisi Pandora Oka Rusmini
Puisi Pandora Oka Rusmini: PANDORA : AP Li, haruskah kita telan asam tembaga? Atau kita tenggelamkan
Penulis: Awaliyah P | Editor: galih permadi
Puisi Pandora Oka Rusmini
TRIBUNJATENG.COM - Puisi Pandora Oka Rusmini:
PANDORA
: AP
Li, haruskah kita telan asam tembaga? Atau kita tenggelamkan
pulau. Meletuskannya di telapak kaki. Kau terus menggenggam
keris. Ketika mata kita bertatapan, kautusukkan ke jantungmu.
Kauharap aku mabuk dan menenggak cairan sumsummu. “Aku
ibu. Perempuan dengan mahkota maharatu.” Mungkin kaulupa
sebuah dongeng. Ketika Jupiter menitipkan peti, kitalah Pandora
yang membuatkan pagar untuk para laki-laki. Juga dunia.
Li, apakah segenggam perca kecengengan mampu mengupas wujud
kita? Orang-orang hanya pandai menghitung jarinya di setiap
lubang tubuh kita. Kupikir kita perlu laut luas dengan hiu yang
siap mencabik-cabik tubuh. Mungkin kita akan menelan
samudra. Atau menghidangkan pulau.
Li, ketika aku kehilangan seorang perempuan, orang-orang
mengiris nadiku. Bahkan ayahku meminta jantungku. Anak-
anaknya memeras butir keringatku, menelannya. Yang kupunya
hanya cairan otak yang menjelma jadi aku-aku baru. “Ke mana
perempuan yang mengandungmu?” tanyamu, selalu dengan lidah
penuh bara. Kulihat naga-naga kecil kaumuntahkan dari kepingan
wajahmu. Diam-diam kau pun senang membakar tubuh, selagi
kita saling melekatkan kulit.
Kubuka e-mailmu tadi pagi. Seperti biasa, warna muram dan
rintik hujan di matamu. Kebakaran di kepalaku. Badai
mengamuk di mulutmu. Aku pun mereguknya. Menuangkan
cairan tubuhmu. Seperti biasa. Sebelum mulai bersetubuh, kau
menggigil, “Lelaki itu menguras tubuhku.”
Saat perempuan mencangkul puisi, lelaki mengeram ssambil
mendekap seluruh akar-akar tubuhnya. Kita menghidangkan
dunia. Meremas seluruh lubang tubuh agar hidup tetap bergulir.
Aku tidak punya tongkat, sering kuingin meminjam tongkat-
mu. Seorang gadis kecil datang. Tubuhnya berlumur lemak ke-
gelapan. Dia mahir menelan seluruh sunyi dunia. “Kutanggal-
kan perempuan kecilku. Kucari serat benang untuk menutupi
tubuh telanjangku.”
Ombak, mata air, letusankah yang telah melahirkan rohmu?
Atau rasa lapar itu?
Li, kau terus telanjang. Memagut seluruh tubuh.
1999
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/oka-rusmini.jpg)