Berita Kudus
Warga Colo Kudus Gelar Tradisi Budaya Guyang Cekathak, Ritual Doa Meminta Hujan
Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus kembali menggelar tradisi budaya 'Guyang Cekathak' di kawasan lereng Gunung Muria
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus kembali menggelar tradisi budaya 'Guyang Cekathak' di kawasan lereng Gunung Muria, Jumat (15/9/2023).
Sebuah tradisi budaya sebagai satu upaya untuk meminta hujan di tengah-tengah kemarau panjang.
Tradisi tersebut pada tahun ini diikuti oleh ratusan warga Colo bersama pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria.
Tradisi dibuka dengan pembacaan manaqib, tahlil bersama di komplek makam Sunan Muria, dilanjutkan prosesi pemandian pelana kuda Sunan Muria (Guyang Cekathak), doa minta hujan, dan selamatan atau makan bareng.
Baca juga: Jateng Darurat Karhutla, dari Mei Sampai September Sudah 198 Kejadian, Terbanyak di Wilayah Ini
Pemandian pelana kuda Sunan Muria dilakukan di Sendang Rejoso. Yaitu sebuah sendang atau sumber mata air yang tak jauh dari komplek pemakaman Sunan Muria.
Usai pembacaan tahlil bersama di komplek pemakaman Sunan Muria, pengurus yayasan bersama warga mengarak pelana kuda Sunan Muria menuju sendang untuk dimandikan.
Prosesi Guyang Cekathak berjalan cukup singkat. Dilanjutkan dengan doa minta hujan di lokasi Sendang Rejoso, ditutup dengan selamatan.
Penutup dari tradisi budaya Guyang Cekathak adalah penaburan cendol dawet di lokasi Sedang Rejoso, sebagai simbol harapan diturunkannya hujan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur mengatakan, pelaksanaan tradisi budaya Guyang Cekathak tahun ini berjalan cukup meriah.
Guyang Cekathak, kata dia, merupakan tradisi khas masyarakat di kawasan Gunung Muria bersama pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga dan merawat tradisi tersebut setiap tahunnya. Sebagai upaya nguri-uri peninggalan Sunan Muria sekaligus pelaksanaan ritual doa bersama meminta hujan saat musim kemarau melanda.
"Yang mengikuti tradisi ini tidak hanya dari pengurus yayasan saja, ada juga dari masyarakat umum desa setempat yang berprofesi sebagai pedagang, petani, hingga tukang ojek," terangnya.
Rangkaian tradisi Guyang Cekathak pada tahun ini dimulai sekitar pukul 06.30 WIB.
Lantunan salawat mengiringi kirab pelana kuda Sunan Muria menuju Sendang Rejoso yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari komplek makam Sunan Muria, ditempuh dengan jalan kaki.
Di Sendang Rejoso, rombongan disambut oleh sejumlah masyarakat yang sudah bersiap menyaksikan prosesi pemandian pelana kuda Sunan Muria.
Mereka juga turut berdoa bersama untuk meminta anugerah Allah SWT berupa air hujan setelah pemandian pelana kuda selesai.
Tradisi tersebut masih tetap terpelihara dengan baik, meski sudah berusia lebih dari 500 tahun.
Masyarakat setempat meyakini bahwa melalui tradisi tersebut, sebagai upaya untuk meminta hujan setelah dilanda kemarau panjang atau kemarau ekstrem.
"Guyang Cekathak ini tradisi yang sudah lama dijaga. Kami semua berdoa agar diberikan hujan, dengan harapan bisa membawa keberkahan bagi masyarakat," tuturnya.
Seorang warga Rohmah menyampaikan, dia sudah mengikuti tradisi Guyang Cekathak dalam beberapa tahun terakhir.
Kata dia, tradisi tersebut menjadi ciri khas warga Colo, khususnya yang tinggal di sekitar Gunung Muria sebagai tradisi tahunan. Dilakukan biasanya pada pertengahan September atau Oktober yang ada Jumat Wage.
"Ini tradisi warga sekitar Gunung Muria bersama pengurus yayasan. Tujuannya untuk minta hujan, dan ada rangkaian kegiatannya," ujar dia. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pengurus-Yayasan-Munan-Muria.jpg)