Sabtu, 16 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

APPBI Terus Dorong Pusat Belanja Hadirkan Customer Experience

penting bagi pusat perbelanjaan atau mal menyediakan fasilitas publik untuk tempat masyarakat melakukan interaksi sosial.

Tayang:
Editor: Vito
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
ilustrasi - Suasana Mal Ciputra 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sejumlah pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Bahkan, Plaza Atrium Senen dijual karena dinyatakan pailit pada 16 Agustus 2023. Pasar Tanah Abang pun sempat disebut mati suri beberapa waktu lalu.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja mengungkapkan terjadinya perubahan karakteristik masyarakat untuk berbelanja. Perubahan itu didorong karena selama pandemi covid-19 masyarakat lebih suka berbelanja online.

"Keperluan belanja selama pandemi covid-19 telah dapat tergantikan oleh e-commerce atau belanja online," ujarnya, saat dikonfirmasi Tribunnews, di Jakarta, Senin (2/10).

Menurut dia, penting bagi pusat perbelanjaan atau mal menyediakan fasilitas publik untuk tempat masyarakat melakukan interaksi sosial.

"Jika tidak mampu menyediakan fasilitas tersebut maka tidak akan dipilih dan akan ditinggalkan oleh para pelanggan," ujarnya.

Selain itu, Alphonzus menuturkan, pusat perbelanjaan harus dapat berinovasi dengan menyediakan ataupun memberikan experience atau pengalaman kepada para pelanggan, bukan lagi hanya sekedar menyediakan ataupun memberikan fungsi belanja.

"Customer experience ataupun customer journey dapat diciptakan dari konsep gedung dan juga tenant mix," jelasnya.

Dia menambahkan, fungsi lain dari pusat perbelanjaan akan selalu berubah dari waktu ke waktu, karena pusat perbelanjaan sangat erat dengan gaya hidup, sehingga cepat sekali berubah setiap waktu.

"Masyarakat Indonesia juga memiliki budaya yang senang berkumpul, baik bersama keluarga, sanak saudara, teman, kolega, komunitas, dan lain sebagainya, sehingga pusat perbelanjaan harus memiliki fasilitas untuk kebutuhan masyarakat tersebut," paparnya.

Saat ini, Alphonzus mengungkapkan, pusat perbelanjaan yang mampu dan telah berhasil memberikan fungsi lain dari sekedar fungsi belanja terus diminati dan banyak dikunjungi oleh masyarakat, bahkan tingkat kunjungannya telah mencapai 100 persen.

Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah menyatakan, para pengusaha ritel tetap optimistis di tengah semakin ketatnya persaingan dengan e-commerce.

Ia pun tak menampik banyak perubahan perilaku belanja yang terjadi pada masyarakat setelah pandemi covid-19, termasuk lebih condongnya masyarakat melakukan pembelian secara online.

Meski demikian, menurut dia, berbelanja secara offline menawarkan pengalaman atau eksperience yang tidak bisa dirasakan ketika berbelanja online.

“Contohnya konsumen bisa kumpul, makan, meeting sambil belanja, nonton bioskop, karena ini kan sulit didapatkan kalau online,” bebernya.

Meski belanja online banyak menawarkan harga yang lebih miring atau fasilitas gratis ongkir, Budiharjo menyebut, banyak bisnis yang menjadi cakupan ritel tak akan maksimal pengalamannya jika konsumen melakukan pembelanjaan online.

“Ya online bisa saja lebih murah, ada gratis ongkir atau bakar uang dalam tanda kutip. Tapi kalau bisnis Food and Beverage (FnB) kan tidak bisa online, eksperience makan-nya pasti beda. Jadi lebih baik mereka datang ke mal,” ujarnya. (Tribunnews/Dennis Destryawan)

 

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved