Ini Rahasia Keripik Belut dan Paru Pak Mino Bertahun-tahun Jadi Tempat Kulakan
Pak Mino demikian orang mengenalnya, punya usaha yang dinamai Sinar Gedongan Mino Putro di desa Gedongan tersebut. Ada papan nama jelas di depan rumah
TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Beberapa warga di Desa Gedongan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo menjalani usaha rumahan. Mereka sudah puluhan tahun memproduksi camilan antara lain keripik belut, keripik paru, usus, jamur dan lain-lain.
Pak Mino demikian orang mengenalnya, punya usaha yang dinamai Sinar Gedongan Mino Putro di desa Gedongan tersebut. Ada papan nama jelas di depan rumah atau tokonya. Pak Mino sudah lama mampunyai izin BPOM untuk beberapa jenis keripiknya.
Usaha produksi keripik Pak Mino sudah 24 tahun. Selama 10 tahun terakhir usahanya makin berkembang pesat. Keripik buatannya dipasok ke toko-toko dan pedagang di Solo Raya, luar Jawa bahkan dipesan juga oleh WNI di luar negeri.
"Dulu keripik ini pernah saya beri merek. Tetapi ternyata pedagang yang kulakan keberatan dengan merk tersebut. Akhirnya kemasan keripik buatan kami tanpa merk. Tapi saya minta kepada orang orang yang kulakan di sini untuk selalu menyertakan nomor BPOM kami. Karena ini penting," kata Pak Mino kepada Afifah Heninda Mufti mahasiswa UIN Solo magang jurnalistik Tribunjateng.com, Sabtu 11 November 2023.
Ketika Afifah menyambangi rumah produksnya, ada beberapa pembeli keripik sedang kulakan untuk dijual lagi. Ada keripik belut dan keripik paru yang paling laku.
Rumah produksi keripik Pak Mino bisa dibilang paling laku. Karena menjadi tempat kulakan para pedagang. Makanya produksi keripik belut "Sinar Gedongan Mino Putro," yang beralamat di Rt 03/Rw 08 Gedongan, kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, hingga kini tidak dilabeli merek.
Isa putri kedua Mino mengatakan, usaha keripik orangtuanya sudah dijalani sejak Isa masih kelas 5 SD. Hingga kini kira-kira sudah 34 tahun. "Kami bersyukur dengan usaha produksi keripik ini, anak-anak bisa sekolah semua, dan mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kuncinya kita tekun dan menjaga cita rasa produk kita supaya tetap diminati konsumen," terang Mino.
Kini sudah ada 10 karyawan. Semua masih ada hubungan kekeluargaan dan tetangga. Dua karyawan tetap sejak lama, sedangkan yang lain adalah tetangga dan saudara. Menurut Mino lebih suka memperkejakan kerabat sendiri supaya saling percaya dan bisa diandalkan.
Sehari-hari Mino dibantu Isa anaknya memonitor jalannya usaha rumahan ini. Tampak depan rumah Mino dijadikan sebagai kios untuk penjualan keripik belut.
Tahan Setahun
Kebutuhan sehari-hari untuk bahan kebutuhan dapur atau bumbu bahan keripik Isa belanja di Pasar Legi dan Pasar Gede di Solo. Isa yang belanja bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan lain sebagainya. Sekali kulakan untuk kebutuhan dalam sepekan. Kulak bumbu di Pasar Legi dan Pasar Gede karena lebih murah dan lengkap.
Belut dipasok dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat datang belut masih hidup, kemudian ditampung di bak yang sudah disediakan. Sehari kira-kira produksi 150 kg belut mentah.
Proses pembuatan keripik belut masih tradisional. Semua itu demi menjaga kualitas dan rasa keripik belut. "Kerenyahan keripik belut bisa bertahan hingga satu tahun," terang Isa. (Afifah Heninda Mufti mahasiswa UIN Solo magang jurnalistik Tribunjateng.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/usaha-keripik-belut-di-Baki-Sukoharjo.jpg)