Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kios-kios Buku di Belakang Sriwedari Solo Menjual Buku Kuno dan Modern

Deretan toko atau kios buku di belakang Sriwedari Solo menjadi jujukan pelajar dan mahasiswa. Bahkan kolektor atau dosen pun berburu buku-buku

Tayang:
Editor: iswidodo
tribunjateng/mahasiswa UIN Solo Magang
TOKO BUKU - Deretan toko buku di belakang Sriwedari sudah ada sejak lama dan bertahan hingga kini. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Dulu deretan toko atau kios buku di belakang Sriwedari Solo menjadi jujukan pelajar dan mahasiswa. Bahkan kolektor atau dosen pun berburu buku-buku cetakan lawas di telakang Gedung Sriwedari ini.

Ada buku tebal dan kuno berbahasa jawa, berhuruf jawa dijual seharga Rp 20 juta. Buku kuno juga, cetakan lawas, terawat dengan baik dibanderol Rp 3,5 juta.

"Ada buku kuno dijual ke toko online dan offline harganya Rp 20 juta. Kita nggak mau pajang buku kuno itu. Kalau nggak ada pembeli yang benar-benar berminat, kolektor atau akademisi. Takut rusak," kata Retno penjual buku di belakang Gedung Sriwedari pada Kamis (16/11/2023).

Toko Buku Belakang Sriwedari Menjual Buku Kuno. Deretan toko buku di belakang Sriwedari Solo sudah ada sejak lama
Toko Buku Belakang Sriwedari Menjual Buku Kuno. Deretan toko buku di belakang Sriwedari Solo sudah ada sejak lama (tribunjateng/mahasiswa UIN Solo Magang)

Selain menjual buku pelajaran, buku kuliah, buku agama, Alquran, bacaan anak-anak, kamus, novel, Retno juga menjual buku kuno yang umurnya sudah ratusan tahun. Buku-buku kuno tersebut dijual dengan harga yang fantastis, mencapai puluhan juta rupiah. Karena selain kuno, buku itu juga langka. Kaya akan ilmu yang nggak termuat dalam buku sekarang.

"Kemarin ada pembeli buku kuno ini. Saya kasih harga Rp 3,5 juta. Langsung dibeli. Dia dari Jakarta," imbuhnya.

Kios-kios buku di belakang Gedung Sriwedari tersebut berada di jalan Kebangkitan Nasional, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Kios-kios buku tersebut juga mempunyai paguyuban yang diberi nama Paguyuban Buku Sriwedari.

Retno dan suaminya Purwadi sudah menggeluti profesi sebagai penjual buku di Belakang Gedung Sriwedari selama 20 tahun. Mereka sempat memiliki karyawan untuk membantu pekerjaannya. Namun, karena pandemi Covid-19 penjualan sepi. Maka karyawan pun diberhentikan. Sekarang hanya ditangani Retno bersama Purwadi suaminya.

TOKO BUKU - Deretan toko buku di belakang Sriwedari Solo sudah ada sejak lama dan bertahan hingga kini.
TOKO BUKU - Deretan toko buku di belakang Sriwedari Solo sudah ada sejak lama dan bertahan hingga kini. (tribunjateng/mahasiswa UIN Solo Magang)

Retno juga memiliki toko buku online yang diberi nama Nobi Solo di marketplace. Pada saat masih memiliki karyawan, yang menangani toko online tersebut yaitu karyawannya. Sedangkan suaminya menangani buku-buku pelajaran yang dipesan oleh sekolah-sekolah, dan Retno sendiri yang menjaga kios bukunya.

"Banyak toko buku besar tutup. Kita di sini seperti hanya bertahan hidup," tuturnya. Karena pembeli dari berbagai daerah lebih memilih buku lewat online.

Deretan kios buku ini ada 92 kios yang menjual buku. Mayoritas sekarang jualan buku melalui online.

Retno menyadari bahwa pendapatannya lebih banyak diperoleh melalui online daripada di toko offline yang berada di belakang Gedung Sriwedari.

Buku buku baru dan lawas tersedia di kios buku di belakang Sriwedari Solo.
Buku buku baru dan lawas tersedia di kios buku di belakang Sriwedari Solo. (tribunjateng/mahasiswa UIN Solo Magang)

Pemkot Solo pernah memberi sosialisasi bahwa toko buku belakang Gedung Sriwedari akan dirapikan dan akan ada taman baca di belakang kios-kios tersebut. Namun, sekarang belum ada kabar lagi. "Namun karena proyek masjid di sini terhenti maka penataan kios buku ini juga tertunda," kata dia.

Dijelaskannya, dagangan buku yang ia jual merupakan buku bekas. Tapi sebagian besar juga buku itu berasal dari penerbit resmi. Buku-buku kuno dibeli oleh kolektor. Sedangkan buku baru dari penerbit dibeli oleh pelajar atau mahasiswa. Kios buku juga bersedia membeli buku, tetapi khusus buku fiksi.

Dia mengakui penjualan buku pelajaran harus menyesuaikan dengan kurikulum yang cepat berganti. Kalau ketinggalan, ya buku tak laku. "Harus update," ujarnya. Kios kios buku ini ramai pengunjung pada saat perguruan tinggi mau menyelenggarakan ujian. Sedangkan pelajar ke kios buku pada saat awal pelajaran.

KOLEKSI BUKU - Sejumlah koleksi buku dagangan tersedia di kios-kios buku di belakang Sriwedari Solo
KOLEKSI BUKU - Sejumlah koleksi buku dagangan tersedia di kios-kios buku di belakang Sriwedari Solo (tribunjateng/mahasiswa UIN Solo Magang)

Harga buku pelajaran yang dijual menyesuaikan harga dari pemerintah. Sedangkan novel bekas berbahasa Inggris dipatok dengan harga Rp 50 ribu ke atas.

Kios-kios buku di sini ada yang spesial menjual buku khusus keagamaan, novel, buku bacaan anak-anak, buku pelajaran, buku kuliah dan lainnya. (Cintia Yuliani,Mahasiswa UIN Solo Magang Jurnalistik Tribunjateng.com)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved