Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Bencana Alam

Banjir dan Longsor Sumbar Renggut 28 Nyawa dan Lima Orang Hilang Masih Dalam Pencarian

Bencana banjir dan longsor yang menerjang Provinsi Sumatera Barat telah menyebabkan 28 orang meninggal dunia, 5 orang hilang, dan 8 orang luka-luka.

Kompas.com/Istimewa
Longsor di Langgai, Sutera, Pesisir Selatan, Sumbar, Jumat (8/3/2024). (DOKUMENTASI BPBD Pesisir Selatan) 

Banjir juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, tepatnya Desa Saurenuk Kecamatan Sipora Selatan. Selain itu tanah longsor melanda Desa Bosua yang juga berada di Kecamatan Sipora Selatan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan pihaknya telah menerjunkan posko kesehatan bergerak (mobile) untuk menangani korban yang terdampak banjir di Sumatera Barat.

Menurutnya, tim mobile pos kesehatan bergerak melalui menggunakan perahu karet maupun sarana transportasi dalam bentuk lain yang memungkinkan untuk bergerak.

“Kami sudah buat posko kesehatan tetapi untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau dan tidak memungkinkan dibuat pos kesehatan, kami sudah menerjunkan tim mobile posko kesehatan,” katanya usai rapat tingkat menteri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.

Kemenkes komitmen membantu masyarakat di daerah-daerah yang sulit dijangkau akibat banjir yang masih terus berdampak hingga saat ini.

Dante menyebut posko kesehatan sangat diperlukan mengingat kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat di beberapa daerah.

Namun, dia meminta agar masyarakat tidak khawatir karena pada umumnya penyakit DBD menyerang di wilayah-wilayah air yang tergenang, bukan yang mengalir.

Khusus untuk kasus di Sumbar, penyakit yang meningkat justru berkaitan dengan saluran cerna dan pernapasan.

“Ini kan airnya berjalan, jadi belum mengidentifikasi pada upaya penanganan cepat untuk peningkatan kasus DBD, justru yang meningkat ada penyakit-penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna, dan saluran pernapasan bagian atas,” ungkapnya.

Kemenkes masih melakukan upaya-upaya cepat baik jangka pendek maupun menengah.

“Jangka pendek kita lakukan upaya untuk melakukan penurunan tim cadangan kesehatan, kemudian melakukan surveillance (pengawasan) pada penyakit yang menimbulkan potensi wabah dan melakukan asesmen risiko kesehatan (risk health assessment),” tuturnya.

Berdasarkan hasil asesmen dapat disimpulkan bahwa tidak ada krisis kesehatan di daerah-daerah yang terdampak banjir tersebut.

“Kami akan melakukan risk health assessment kemudian, karena bukan tidak mungkin ada penyakit lain yang berdampak pada kejadian yang disebabkan oleh sanitasi tidak bersih dan lain sebagainya,” paparnya.

Kemenkes akan memberikan laporan selanjutnya untuk melakukan penilaian kasus yang upaya penanganan jangka menengah sekaligus memantau kesehatan masyarakat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.

Obervasi Tim Basarnas

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved