Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Bencana Alam

Banjir dan Longsor Sumbar Renggut 28 Nyawa dan Lima Orang Hilang Masih Dalam Pencarian

Bencana banjir dan longsor yang menerjang Provinsi Sumatera Barat telah menyebabkan 28 orang meninggal dunia, 5 orang hilang, dan 8 orang luka-luka.

Kompas.com/Istimewa
Longsor di Langgai, Sutera, Pesisir Selatan, Sumbar, Jumat (8/3/2024). (DOKUMENTASI BPBD Pesisir Selatan) 

TRIBUNJATENG.COM, PADANG -- – Bencana banjir dan longsor yang menerjang Provinsi Sumatera Barat telah menyebabkan 28 orang meninggal dunia, 5 orang hilang, dan 8 orang luka-luka.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai Rakor Tingkat Menteri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (13/3/2024).

Muhadjir mengatakan terdapat penambahan satu korban meninggal dari update terakhir.

“Tadi perkembangan terakhir yang meninggal dunia tambah yaitu 28 orang,” ujarnya.

Selain korban meninggal, Muhadjir mengungkap masih ada lima orang yang hilang setelah diterjang banjir yang terjadi pada Kamis 7 Maret 2024.

Sejauh ini ada 86.000 lebih jiwa atau 28.925 Kartu Keluarga (KK) yang terdampak bencana banjir dan longsor ini.

“Umumnya mereka mengungsi di rumah saudara-saudara. Basarnas masih akan melakukan pencarian terhadap lima orang yang dinyatakan hilang,” ungkap Muhadjir.

Sekitar 1.609 unit rumah rusak ringan dan sedang, 40 unit rumah rusak berat, 24.000 lebih unit rumah terendam.

Lalu tiga unit rumah hanyut, 54 fasilitas umum terdampak, 21 jembatan terendam, dan 1 jembatan rusak berat.

Wilayah terdampak banjir dan longsor di Kota Padang dengan rincian enam kecamatan terdampak banjir, yaitu Kecamatan Lubuk Begalung, Naggalo, Lubuk Kilangan, Koto Tangah, Padang Utara dan Padang Timur.

Peristiwa longsor terjadi di Lubuk Paraku sehingga mengakibatkan akses jalan terhambat.

Lokasi selanjutnya, Kabupaten Pasaman Barat.

Sejumlah jalan di Kabupaten Pasaman Barat terputus diakibatkan terendam banjir.

Akses jalan Simpang Empat – Talu Kecamatan Talamau, Simpang Empat – Ujung Gading Kecamatan Pasaman, Air Bangis – Ujung Gading Kecamatan Sungai Beremas.

Selain itu banjir juga sebabkan satu jembatan putus di Kecamatan Balingka dan satu unit rumah hanyut terbawa arus di Kecamatan Ranah Batahan. Kemudian Kabupaten Pesisir Selatan.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, tepatnya Desa Saurenuk Kecamatan Sipora Selatan. Selain itu tanah longsor melanda Desa Bosua yang juga berada di Kecamatan Sipora Selatan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan pihaknya telah menerjunkan posko kesehatan bergerak (mobile) untuk menangani korban yang terdampak banjir di Sumatera Barat.

Menurutnya, tim mobile pos kesehatan bergerak melalui menggunakan perahu karet maupun sarana transportasi dalam bentuk lain yang memungkinkan untuk bergerak.

“Kami sudah buat posko kesehatan tetapi untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau dan tidak memungkinkan dibuat pos kesehatan, kami sudah menerjunkan tim mobile posko kesehatan,” katanya usai rapat tingkat menteri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.

Kemenkes komitmen membantu masyarakat di daerah-daerah yang sulit dijangkau akibat banjir yang masih terus berdampak hingga saat ini.

Dante menyebut posko kesehatan sangat diperlukan mengingat kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat di beberapa daerah.

Namun, dia meminta agar masyarakat tidak khawatir karena pada umumnya penyakit DBD menyerang di wilayah-wilayah air yang tergenang, bukan yang mengalir.

Khusus untuk kasus di Sumbar, penyakit yang meningkat justru berkaitan dengan saluran cerna dan pernapasan.

“Ini kan airnya berjalan, jadi belum mengidentifikasi pada upaya penanganan cepat untuk peningkatan kasus DBD, justru yang meningkat ada penyakit-penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna, dan saluran pernapasan bagian atas,” ungkapnya.

Kemenkes masih melakukan upaya-upaya cepat baik jangka pendek maupun menengah.

“Jangka pendek kita lakukan upaya untuk melakukan penurunan tim cadangan kesehatan, kemudian melakukan surveillance (pengawasan) pada penyakit yang menimbulkan potensi wabah dan melakukan asesmen risiko kesehatan (risk health assessment),” tuturnya.

Berdasarkan hasil asesmen dapat disimpulkan bahwa tidak ada krisis kesehatan di daerah-daerah yang terdampak banjir tersebut.

“Kami akan melakukan risk health assessment kemudian, karena bukan tidak mungkin ada penyakit lain yang berdampak pada kejadian yang disebabkan oleh sanitasi tidak bersih dan lain sebagainya,” paparnya.

Kemenkes akan memberikan laporan selanjutnya untuk melakukan penilaian kasus yang upaya penanganan jangka menengah sekaligus memantau kesehatan masyarakat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.

Obervasi Tim Basarnas

Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Kusworo menyampaikan daerah-daerah yang sulit dijangkau tetap akan diupayakan dengan observasi.

Kusworo menyebut pihaknya memiliki sejumlah perlengkapan untuk mendukung kegiatan evakuasi di tempat yang sulit diakses.

“Kita kan juga punya drone thermal penanganan dari udara bisa kita lakukan,” ucapnya.

Basarnas juga sudah berkoordinasi pemerintah setempat untuk bersama-sama menyelesaikan bencana banjir dan longsor ini.

Selain itu juga ada ahli profesi lainnya yang turut membantu menangani pencarian dari korban.

“Yang pasti kami ingin penanganan ini harus terlaksana dengan baik dan tepat,” ucapnya. (Tribun Network/Reynas Abdila)

Baca juga: SAH! Harga BBM Terbaru Seluruh Indonesia Mulai Hari Ini Kamis 14 Maret 2024, Cek JAWA BALI DIY

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kabupaten Jepara, Ramadan Hari ke-4, Jumat 15 Maret 2024 

Baca juga: Jadwal Lengkap Kereta Cepat Whoosh dan KA Feeder Kamis 14 Maret 2024, Dari Semua Stasiun

Baca juga: UPDATE Banjir Bandang Pekalongan, Innalillahi 2 Korban Meninggal Dunia dan Puluhan Rumah Rusak

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved