Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Total 226.601 Jiwa Warga Jawa Tengah Terdampak Bencana

Rentetan bencana yang terjadi di Jateng sejak Januari hingga pertengahan Maret 2024 menyebabkan puluhan ribu warga

Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
Tribunjateng/Saiful Ma'sum
Banjir mulai menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi sejak, Kamis (15/3/2024) dengan ketinggian air 30-70 sentimeter. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rentetan bencana yang terjadi di Jateng sejak Januari hingga pertengahan Maret 2024 menyebabkan puluhan ribu warga Jateng mengungsi.

Bahkan Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana menyebut ada 226.601 orang terdampak, 36.086 orang mengungsi, dan 15 orang meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi.


Ratusan ribu jiwa yang terdampak bencana itu tersebar di beberapa wilayah di Jateng. Nana juga mengatakan, Jateng merupakan daerah yang rawan bencana. 


Hal itu mengacu pada data BPBD periode Januari hingga 14 Maret 2024, di mana 134 kejadian bencana, terdiri dari 61 angin kencang, 53 bencana banjir, 18 tanah longsor, dan 2 peristiwa kebakaran permukiman gedung melanda Jateng.


Ia pun merinci, dalam kurun waktu satu pekan, sejak 8 Maret hingga 14 Maret 2024, telah terjadi 30 bencana besar di Jateng. 


"Tercatat sebanyak 14 bencana banjir dan 16 kejadian angin kencang terjadi di 20 kabupaten kota di Jateng," tuturnya, Rabu (20/3/2024).

 

Nana pun sempat meninjau sejumlah lokasi bencana pqda Senin (18/3) lalu. Beberapa wilayah yang ia tinjau yaitu Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak.


Menurutnya banjir di Demak merupakan kejadian banjir kedua di tempat yang. Bahkan, banjir juga merambah ke Kabupaten Kudus. 


Nana mengatakan, penanganan atas kejadian banjir baik di Demak maupun Jepara sudah dilakukan dengan mengevakuasi pengungsi. 


"Tempat evakuasi di Demak dan Kudus ada sekitar puluhan tempat pengungsian," ujarnya.


Nana memeberkan, setiap terjadi bencana, langkah pertama yang selalu dilakukan adalah mengevakuasi masyarakat. Itulah yang dilakukan terhadap warga terdampak, baik di Jepara maupun di Demak. 


Pemprov Jateng bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri dan instansi lainnya juga sudah menyiapkan berbagai pelayanan untuk pengungsi. 


Mulai dapur umum, posko Kesehatan, logistik, dan semua kebutuhan dasar masyarakat.


"Di sini masyarakat juga sudah banyak yang kembali ke rumah karena sudah surut. Tanggul juga akan ditutup dalam waktu dua hari," jelasnya.


Menurut Nana, seluruh tanggul sungai yang ada di Jateng perlu dievaluasi. Hal ini sebagai langkah antisipasi tanggul jebol akibat tidak kuat menahan debit air yang tinggi. 


Berdasarkan data kejadian banjir dalam sepuluh hari terakhir di Jateng, salah satu penyebabnya adalah jebolnya tanggul sungai atau bendungan. Misalnya kejadian di Kabupaten Pekalongan, Grobogan, Demak dan Jepara.


"Tanggul-tanggul yang ada akan dievaluasi dan secara bertahap akan melakukan perbaikan," kata Nana.


Evaluasi itu perlu dilakukan mengingat berdasarkan informasi BMKG, cuaca di Jateng selama sepekan ke depan masih berpotensi hujan ekstrem. 


"Oleh karenanya, tanggul sungai perlu diperkuat," imbuhnya.


- Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca


Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) jadi senjata Pemprov Jateng bersama BNPB dan BMKG untuk mengatasi cuaca ekstrem di Jateng.


Hal tersebut lantaran Pemprov Jateng mengklaim sejumlah bencana hidrometeorologi yang terjadi disebabkan oleh cuaca ekstrem. 


Kepala BNPB, Suharyanto saat berkunjung ke Jateng, Senin (18/3) lalu mengatakan, penerapan TMC akan diberlakukan sampai Rabu (20/3).


Menurutnya, hasil penerapan TMC selama tiga hari membuat curah hujan di wilayah Jateng berkurang, khususnya di Kota Semarang, Demak dan sekitarnya sudah berkurang.


"Jika perlu penerapan TMC diperpanjang. Sebelum tanggul Demak tertutup," katanya.


Adapun Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati, menuturkan curah hujan tinggi di Jateng karena fenomena bibit Cyclone di Selatan Indonesia. 


Kondisi tersebut bersamaan dengan masuknya kumpulan awan hujan dari Samudera Hindia atau Timur Afrika. 


"Ada fenomena yang tiba-tiba muncul dan mengakibatkan hujan yang ekstrem. Ekstrem itu 150 mm perhari tetapi kemarin mencapai 230 mm lebih," jelas Dwikorita.


- Regulasi Tata Ruang Jateng Tak Pro Lingkungan 


Sejumlah penggiat lingkungan soroti regulasi tata ruang di Jateng, pasalnya amburadulnya penataan wilayah berdampak pada kerusakan lingkungan.


Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya sejumlah bencana di beberapa wilayah di Jateng.


Dikatakan Nur Rohadi satu di antara penggiat lingkungan asal Kabupaten Batang, kajian mendalam terkait tata ruang harus segera dilakukan.


Kondisi tersebut dikarenakan pembangunan Kawasan Industri (KI) di beberapa wilayah di Jateng semakin masif.


Bahkan ia khawatir jika pembangunan tersebut tak memperhatikan lingkungan sekitar.


"Jika alam rusak, masyarakat terdampak langsung," ucapnya.

 

Dilanjutkannya abrasi semakin masif terjadi di pesisir sepanjang pantura Jateng. Bahkan, setiap tahunnya mencapai 2-3 kilometer.


"Kalau pemerintah tetap tak memperhatikan hal tersebut, abrasi, penurunan tanah dan banjir rob akan semakin masif menggerus pantura Jateng," tambahnya.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved