Berita Jateng
Ini Dua Metode yang Dipakai BBWS Pemali Juana Antisipasi Banjir di Jawa Tengah
Beberapa waktu lalu, wilayah Pantura Jateng sisi timur diterjang bencana banjir. Bahkan bencana yang melanda wilayah Pantura Jateng sisi timur
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa waktu lalu, wilayah Pantura Jateng sisi timur diterjang bencana banjir.
Bahkan bencana yang melanda wilayah Pantura Jateng sisi timur jadi sorotan nasional.
Ribuan warga di Kota Semarang, Demak, Kudus, Jepara hingga Pati terdampak bencana tersebut.
Guba mengantisipasi hal serupa, BBWS Pemali Juana dan Pemprov Jateng bergerak.
Berbagai metode dalam hal antisipasi banjir pun digagas agar kejadian serupa tak terulang kembali.
BBWS sendiri memiliki beberapa metode guna mengantisipasi banjir di wilayah Jateng.
Menurut Kepala BBWS Pemali Juana, Harya Muldianto, ada dua metode yang akan diterapkan.
Yang pertama untuk mengatasi banjir di wilayah dengan jalur air tertutup seperti Kota Semarang.
Dan kedua untuk antisipasi banjir di jalur air terbuka seperti di Demak hingga Pati.
"Untuk Kota Semarang pompa air menkadi kunci, harusnya daya penyedot pompa melebihi kapasitas air yang ada," katanya, Kamis (25/4/2024).
Namun kenyataan di lapangan, daya sedot pompa air kurang. Hal tersebut menyebabkan genangan timbul di mana-mana.
Apalagi saat musim hujan intensitas tinggi, pompa air yang ada akan kewalahan.
Sementara di wilayah dengan jalur air terbuka, BBWS bakal melakukan normalisasi sungai.
Karena di wilayah Pantura Jateng sisi timur permasalahan sedimentasi Daerah Aliran Sungai (DAS) jadi masalah utama penyebab banjir.
Untuk itu BBWS mengusahakan akan melakukan normalisasi di beberapa sungai seperti Jragung, Tuntang Serang, Lusi, dan Juana (Jratun Seluna).
Meski demikian, proyek normalisasi tersebut bakal memakan anggaran jumbo.
"Estimasi untuk normalisasi tersebut bisa Rp 6 triliun sampai Rp 8 triliun. Alokasi dana juga harus disiapkan terlebih dahulu," paparnya.
Dilanjutkannya, yang telah dilakukan adalah normalisasi di Sungai Wulan yang mengalir di wilayah Demak, Grobogan, dan Pati.
Pengerjaan normalisasi Sungai Wulan dikatakannya memakan dana Rp 900 miliar, sementara Sungai Juana di Kudus Rp 600 miliar.
"Tahap awal normalisasi untuk Sungai Wulan dengan Juana mencapai Rp 1,5 triliun lebih. Penghijauan juga harus dilakukan di sepanjang DAS Jratun Seluna," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusdataru Provinsi Jateng Eko Yunianto, menambahkan, upaya antisipasi banjir terus dilakukan.
Satu di antaranya dengan pembangunan embung di berbagai wilayah di Jateng
Pembangunan embung tersebut sudah berjalan sejak 2014z, hingga kini Pusdataru mencatat sudah ada 1.142 embung di Jateng.
Penambahan embung dikatannya juga akan terus dilakukan bersama sejumlah instansi dan pihak swasta melalui CSR.
Meski demikian ada sejumlah kendala seperti ketersediaan lahan untuk membangun embung.
"Selain mengurangi debit banjir, embun juga difungsikan untuk support kebutuhan air perkebunan bernilai ekonomi tinggi," terangnya.
Ditambahkannya, dalam skala kecil namun banyak manfaat embung untuk antisipasi banjir sangat penting.
Pasalnya akan mengurangi puncak hidrograf saat debit air yang mengarah ke seluran atau sungai tinggi.
"Kalau semua lari ke sungai membuat sungai tak bisa menahan debit air, hal itu membahayakan bagi wilayah bawah. Untuk itu dibutuhkan embung sebagai penampung sementara," imbuhnya.
| Ini Daftar 10 KA di Daop 5 Purwokerto yang Dibatalkan Hari Ini, Akibat Evakuasi di Bekasi Timur |
|
|---|
| Wapres Dukung Upaya Pembangunan Laboratorium Digital Oleh GP Ansor Jateng |
|
|---|
| 37 Ribu Aspirasi Warga Jateng Senilai Rp 37,8 Triliun Terkendala Anggaran |
|
|---|
| 5 Panduan Mencegah Pelecehan Seksual di Lingkungan Terdekat |
|
|---|
| Sosok MH, Hakim di Jateng yang Terseret Kasus Pelecehan, Jabatannya Mentereng dan Pensiun Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pengerjaan-tanggul-dan-pengerukan-sedimentasi-di-wilayah-Pantura-Jat.jpg)